Sabtu, 04 Februari 2012

Indahnya Persahabatan

The Virgo (Nia, Uje, Aini, Wulan)
Rukmana, Uzi, Bayu, Iqbal, Safitri, Aini, Revi
Aini, Revi, Tami, Nindri, Hety, Dessy, Dea




                                        

Jumat, 03 Februari 2012

Gara-gara Poconggg juga pocong


Sepulang sekolah seperti biasa empat sekawan aku, Inez, Uzi, dan Agil mampir terlebih dahulu di saung Mang Ucup, menikmati semangkuk mie ayam bakso yang hemmmm lezatnya mengalahkan mie ayam baksonya cheff Farah Queen (Hahaha lebay ya kaya pernah nyobain aja?). Siang itu, awan mendung menghiasi langit Bogor. Desiran angin kencang pun menampar pipiku dengan lembut, langit sudah terlihat gelap sekali pertanda akan turun hujan.

“Heh para ladies, lama banget sih lo berdua makannya? Cepetan dong liat tuh udah gelap banget mau ujan?” Gerutu Uzi kesal .
“Apa perlu gue bantuin biar cepet abis?” ujar Agil menawarkan diri, alhasil kamus bahasa inggris setebal 200 halaman milik Inez pun mendarat sadis di pipinya, Plaaaaaaaaaaaaaaak !!
“Uhh maunya, kalo cewek ya gini makan juga harus anggun enggak seradak-seruduk kaya lo !”
“Gapapa, ditabok pake kamus tebel sama Inez sayang daripada gue di cium si Uzi,” Agil melirik sinis ke arah Uzi.
Aku dan Uzi hanya memandang tingkah konyol mereka sambil tertawa geli,
“Udah yuk ah..ayo Nez cepetan,”ajakku.

Kami berempat berjalan beriringan keluar dari saung Mang Ucup, angin begitu kencang hampir saja merobohkan tubuh kami, tiba-tiba sebuah kertas dari arah selatan plaaaaaak menutupi seluruh bagian wajah Agil.

“Eh, eh, eh..apaan nih, sialan? Asemmm!!!”
“Hahahaha..angin aja tau kalo muka lu tuh jelek Gil, makannya lebih bagus kalo ditutupin pake kertas,” ledek Uzi puas.
Kami melihatnya sambil tertawa terbahak-bahak. Kemudian Agil mengambil kertas tersebut lalu membacanya. Sebuah pamflet,”Pembukaan bioskop baru, edisi spesial tahun baru. GRATIS..tempat terbatas. Film poconggg juga pocong, waktu : midnigth”
“Sini coba gue liat pamfletnya?” Inez merebut kertas yang sedang dibaca Agil.
“Wah mantep nih. Ini kan film yang di adaptasi dari novel fenomenal sepanjang 2011, gretongan lagi. Ayo ah kawan kesempatan enggak datang dua kali?”
“Hah yakin lo pada mau datang? Gue enggak ikut ah mendingan gue taun baruan di rumah aja. Lagian tengah malam bo, entar kalo di jalan ketemu pocong yang benerannya gimana coba? Hihhh gue sih ogah” kataku sambil bergidik ngeri.
“Ah ayo lah Ai, plis ya, ya, ya? Kan kita berempat Agil sama Uzi juga ikut ko?”
“Tapi...”
“Tenang Aila sayang, Bang Agil akan selalu disampingmu kalo kamu ketakutan,” ujar Agil mengerlingkan mata sambil nyengir kuda.
“Tuh kan Ai, si Agil yang bakal jagain lu jadi enggak usah takut” Inez malah cekikikan.
“Oke deh,” aku pun hanya menganggukkan kepala seraya mengiyakan ajakan mereka, walaupun apa yang aku katakan tak sejalan dengan hati yang masih bimbang.

****

Malam pergantian tahun baru sangat meriah, karena hingar bingar suara tiupan terompet, suara petasan jeduarrrrrrrrr jeduarrrrrrrrr, kembang api yang berwarna-warni menghiasi langit malam ini.
Pada kemana tuh makhluk-makhluk jam segini kok belum pada datang? ketika aku melilahat arloji yang melingkar di lengan kiriku waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Aku memutuskan untuk duduk di teras rumah sambil menyeruput caffucino hangat.

Selang beberapa menit kemudian Agil datang dengan Vesva tuanya yang super berisik . di belakangnya diikuti Uzi membonceng Inez dengan motor kawasaki ninja hijaunya.
“Lo berdua pake minyak apaan sih ko bau menyan gini?” candaku pada dua makhluk aneh Uzi dan Agil.
“Yee sembarangan, parfum gue mahal tau, sengaja gue tadi waktu sore beli di LA” ujar Uzi sambil mengibas-ngibaskan kemeja bergaris hitamnya.
“Iya Lenteng Agung kan maksud lo?? Wuhahahaha” lagi-lagi Agil dan Uzi saling ledek-ledekan.
“Daripada lo pakenya minyak nyong-nyong?”
“Uda ah ribut mulu nih anak berdua, mana pamflet yang tadi siang? Gue liat alamatnya?” tukas Inez melerai candaan keduanya, Agil pun mengambil pamflet tersebut dari dalam tasnya
“Jln. Jendral sudirman. No 27 A,” dengan suara keras Uzi membacanya.
“Ahaa gue tau alamat ini, eh tapi tunggu dulu. Perasaan ini alamat rumah tua di pinggir jalan yang udah lama enggak berpenghuni deh?”
“Kan sekarang udah di bangun jadi bioskop yang baru kali?” seru Inez sedikit sewot.
“Eh iya ya?” ujar Uzi sambil garuk-garuk kepala.
“Si Uzi dodolnya emang susah banget disembuhinnya, hahaha” Celetuk Agil.
“Wuuuu enak aja, lo tuh yang pedenya berlebihan,” Uzi menjitak Uzi lumayan keras, sementara Agil mengaduh kesakitan. Aku dan Inez hanya menggeleng-ngelengkan kepala melihat tingkah konyol keduanya.

Kami berempat pun berangkat dari rumahku pukul setengah dua belas malam, aku di bonceng oleh Agil, sementara Innez di bonceng oleh Uzi.

***

Jalanan begitu sangat ramai, muda-mudi berpesta pora menyambut datangnya taun baru 2012, akan tetapi kenapa saat kami tiba di depan bioskop baru ini suasana tampak begitu sunyi, Tak terlihat satu orang manusiapun disana. Hanya ada beberapa motor yang terparkir rapih.

“Heh, lo yakin mau ngelanjutin ini? Ko gue merinding ya?” kataku sambil nengok kanan-kiri.
“Ah, cuma perasaan lo aja kali Ai, dasar ababil” ujar Agil menimpali.

Agil dan Uzi memarkirkan motornya, sementara aku dan Innez menunggu di depan pintu Bioskop. Hawa dingin malam menelusuk hingga ke tulang rusuk, aku bergumam dalam hati, mau nonton film horror kenapa suasananya jadi horror gini ya? Sepi...sunyi..ah mungkin para penontonnya sudah masuk studio lebih dulu jadi di luar terlihat sepi, hiburku dalam hati.

Uzi dan Inez, pergi ke tempat pembelian tiket. Terlihat dua wanita cantik, sedang berbincang. Uzi menyerahkan pamflet yang kami dapat siang tadi pada wanita berbaju kuning gading itu.
“Mba, apa pamflet ini bener ya mba? Kita mau nonton film poconggg juga pocong disini tertera gratis mba?”
“Oh ia betul..silakan mas, ini tiketnya. Masuk studio 1. Dari sini lurus terus, lewatin lobi terus belok kiri,”
“Makasih mba,” wanita cantik itu melempar senyum pada kami.

Kami berempat pun mengikuti jalan sesuai yang diarahkan wanita tadi. Tapi kok ini bioskop baru sepi banget ya?.Aura ketakutan pun mulai menjalari tubuhku. Di atas sebuah pintu tertera tulisan studio 1. Kami berempat memasuki ruangan tersebut. Mataku menyapu ke segala arah, ternyata semua kursi sudah terisi dan pemutaran perdana film poconggg juga pocong pun sudah dimulai.

“Eh nomor berapa kursinya, ko udah penuh banget ya?” tanya Uzi heran.
“Nomor F5,F6,F7,F8” jawabku sambil melihat nomor yang tertera pada tiket.
“Eh guys, udah penuh semua kursinya kayaknya kita harus balik nanya ke Mba yang tadi deh”
Kami menuruti saran Agil, sesampainya di tempat pembelian tiket...
“Ada yang bisa kami bantu mas?” tanya wanita cantik itu.
“Gini loh mba nomor kursi yang tertera pada tiket yang Mba kasih sudah terisi, semua kursi yang lain juga udah pada penuh, gimana dong?” dua wanita cantik si penjual tiket itu saling pandang, kebingungan.
“Kalian enggak lagi becanda kan? Yang pesen tiket midnight untuk studio 1 itu cuma kalian doang?”
“Te te te russs..yang tadi pada nonton si siapa dong?” tanyaku terbata-bata.
“Ha ha ha hantuuuuuuuuuuuuu...” Tebak Agil sekenanya, kemudian ia berlari sekencang-kencangnya diikuti oleh aku dan yang lainnya.

“Eh tunggu Gil lo mau kemana? Bukan kesitu jalannnya” teriak Uzi. Agil memutar badan berbalik arah. Ya Tuhan, kenapa disaat genting seperti ini pintu utama terasa jauh sekali. Kami berlari terengah-engah, sepertinya bioskop ini memang banyak hantunya. Aura angkernya pun sudah mulai terasa sejak di halaman parkir. Sungguh petualangan yang sangat menegangkan, dalam suasana mencekam kami berlarian ditengah gedung bioskop baru yang sunyi.
“Eh stop dulu dong gue pengen ke toilet,” Uzi menghentikan langkahnya seketika.
“Yah elah, tahan aja sih cuma bentaran doang? Tuh pintu utamanya” Agil menunjuk pintu utama.

Akhirnya sampai juga kami di luar gedung angker ini..
“Ih kalo tau bakal kayagini sih gue enggak bakalan mau datang ke bioskop berhantu ini, jangankan bayar dikasih gratis aja gue enggak mau ,” gerutu Inez sambil mengibaskan rambut panjangnya.
“Bukannya lo yang dari tadi siang ngotot pengen datang kesini? kata gue juga apa, dari awal juga gue udah ada firasat enggak enak?” ujarku menyalahkan Inez.
“Ko pada salah-salahan sih? Nih pegangin helm gue. Gue mau ngambil motor, kita jalan ke alun-alun aja?” Agil menyerahkan helm nya padaku.
“Sial, sial, sial gue tahun baruan di alun-alun kagak malah ketemu hantu,” ujar Agil kesal.
“Hahaha..konyol banget ya kejadian malam ini. Gara-gara si Inez nih ngebet banget nonton film poconggg juga pocong, untungnya kagak ada pocong benerannya ya..haha,” ujar Uzi sambil tertawa terpingkal.
“Husss..sembarangan lo kalo ngomong, ada beneran aja baru nyaho lo?” Agil membekap mulut Uzi.
Agil sibuk menggeserkan motor-motor lain untuk mengeluarkan motornya. Sementara Uzi sibuk menengok kanan kiri. Karena ia teringat ucapan Agil barusan tentang pocong.
Dari arah belakang,
“Zi, iketin tali pocong gue dong?”
“Ah, Gil becanda mulu lo, tali sepatu kali?...enggak lucu tau enggak?”
“Serius,” suara itu pun terasa lain bukan seperti suara Agil. Seperti suara om-om.

Tiba-tiba bulu kuduk Uzi terasa merinding, hawa dingin pun menjalari tubuhnya. Peluh dingin bercucuran. Dengan perasaan takut bercampur ingin tahu sambil komat-kamit ia memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.
Oow ternyata yang ada di belakang Uzi itu memang pocong beneran, ia pun lari terbirit-birit sambil berteriak pocong.........pocong......pocong.........ke arahku dan yang lainnya.
“Su su sumpah, disana gue liat pocong beneran..ce ce cepet kita cabut dari sini?” ajak Uzi pada kami.
“Kata gue kan tadi apa? Jangan ngomong sembarangan, ketulah sendiri kan? Hahaha” Agil tampak puas sekali mentertawakan Uzi. Sementara aku dan Inez, antara takut dan ingin tertawa, jadi bingung mau gimana. Dari kejauhan di dekat mobil Toyota Alpharrd, Aku juga melihat pocoooooooooooong.

Seketika kami yang masih berada di halaman parkir bioskop pun langsung tancap gas. Cukup sekali dalam hidupku nonton film di bioskop tengah malam. Perasaanku campur aduk antara lucu, takut, kesal. Malam tahun baru yang seharusnya kuhabiskan dengan suka cita justru menjadi malam yang sangat menyeramkan sekaligus menegangkan dalam sepanjang sejarah hidupku. Petualangan konyol bareng Uzi, Inez, Agil enggak akan pernah terlupakan, tahun 2011 is the best deh, semoga taun depan aku masih bisa melewati malam pergantian tahun baru lagi sama tiga sahabatku ini dan pastinya, enggak di bioskop berhantu ini...hehe.

Jumat, 20 Januari 2012

Happy Birthday Kaaa..


Happy birthday ya ka...

Kaka.......... tau ga? Akhir-akhir ini mood nulis ai buruk banget. Malah sempet terbesit ai gak mau nulis lagi cuma gara-gara masalah hati. Heeemm cemen banget ya ai ka? Padahal kaka ga pernah ngajarin ai buat gampang putus asa. Entah kemasukan roh apa ai jadi gampang nyerah gini ..hoho Oya, tahun 2011 kemarin ai punya 8 buku antologi loh ka 5 buku udah terbit n 3 buku lagi masih dalam proses terbit ya walaupun bukunya masih keroyokan bukan buku sendiri. Kaka beli doooong kalo ai punya novel sendiri baru ai kasih gratis spesial buku ai buat kaka, hehe.
Kalo ga diceramahin kaka mungkin ga akan pernah tulisan ai dimuat di beberapa buku sama penulis hebat lainnya. Makasih ya ka, semua ini karena omelan + nasihat yang banyak kaka ajarin sama ai, Kaka berperan besar dalam metamorfosis karir menulis ai. Jika diibaratkan ai yang dulunya hanya sebuah kepompong kemudian menjadi ulat yang sama sekali ga ada artinya sekarang ai udah jadi kupu-kupu yang indah. Karena seperti motivasi yang sering kaka bilang sama ai, Terbanglah peri kecilku karena kini kau telah bersayap, karena segenap suka, duka, cinta dan bahagia tlah kuletakkan dalam setiap kepakan sayapmu . Dan satu hal yang harus kaka inget juga, setinggi apapun aku terbang aku takkan pernah lupa untuk melihat kebawah. Intinya ai ga kan pernah lupa sama kaka kalo seandainya nanti ai jadi penulis terkenal..hehe
Tentang novel yang pernah ai janjiin, maaf banget ya ka taun ini harus kepending lagi. Abis kakanya juga sih akhir-akhir ini suka timbul tenggelam. Datang tak di jemput pulang tak di antar, kan repot jadinya. Ai ngerasa, persahabatan ai sama kaka juga udah beda banget. Kaka yang ai kenal sekarang bukan kaka yang ai kenal dulu. Bener ya apa yang di bilang motivator di sebuah seminar yang pernah ai hadiri , kalo godaan terbesar bagi seorang pria adalah wanita, tahta dan harta. Semenjak kaka punya pacar, ai ngerasa jauuuuuuuuuuuuuh banget sama kaka. Ibarat ai di bumi kaka di planet lain. Jauh banget kan? Susah buat ai jangkau. Mungkin kali ini ai harus setuju sama apa yang di bilang The changcuters, kalo wanita itu racun dunia. Tapi ai juga kan wanita ya? Ah bingung jadinya gatau ai juga (Pasang wajah polos, Ga jelas :D). Padahal biasanya orang yang pertama baca karya-karya sederhana ai itu ya kaka. Sekarang?? Mungkin buat di liat judulnya aja ga sempet karena ai tau kaka sekarang sibuk, udah punya dunia sendiri n ga mungkin juga kaka terus-terusan ngurusin ai hiks hiks... Tau ga ka? sekarang ai udah biasa nulis sendiri, ga bergantung sama kaka lagi, dicuekin sama kaka bikin ai jadi mandiri. Emang selalu terselip hikmah ya dibalik rencana-Nya. Pastinya hidup kaka juga tentunya akan lebih aman, damai dan sentosa tanpa ai yang suka ngerecokin n nyusahin kaka. Inget ga sih ka pertama dulu kaka kenal ai? Ai msih unyu-unyu, dong-dong lagi sekarang ai udah pinter nyeramahin kaka dooong, kaka aja panggil ai aini ahira..hehe
Loh ko jadi curhat gini ya, sampe lupa tujuan utama ai nulis ini apa. Oia hari ini kaka ulang tahun ya, mana kadonya buat ai? (Plakkkk !! loh kebolak ya..haha), Kakanya tambah tua jangan ngaku unyu-unyu lagi ya, inget umur hehe. Happy birthday ya kaka...ini ulang tahun ketiga selama ai kenal kaka. Ai letakkan harapan ai buat kaka dalam partikel doa, semoga kaka senantiasa diberi kesehatan, bisa tercapai segala cita-citanya, dimudahkan segala urusannya, dilancarkan rezekinya, dijauhkan dari segala marabahaya. Apalagi ya? Hemm yang paling penting, Tuhan, aku mohon jaga sang pendorong impianku ini ya..karena sebagian semangatku ada di dirinya .
Udah dulu ya ka...capek ai ngetiknya, ai mau belajar besok masih uas. Doain ai ya...semoga lancar uasnya, semangat lagi nulisnya..amin amin amin :D
Sampe ketemu lagi di tulisan ai buat ulang tahun yang ke 4 itupun kalo ai masih dikasih kesempatan eksis nulis lagi.

Sabtu, 31 Desember 2011

ANDAI SAYA MENJADI ANGGOTA DPD-RI? - Mengutamakan mereka yang terpinggirkan


Hemm, jadi anggota DPD RI? memang tak pernah sedikitpun terlintas dalam benak saya, karena cita-cita terbesar saya adalah saya ingin mendunia lewat tulisan-tulisan saya yang dapat menginspirasi orang lain. Namun, jika Tuhan menakdirkan demikian kenapa tidak? Saya akan mengemban amanah itu dengan baik.
Banyak sekali sederetan rencana yang akan saya wujudkan jika saya terpilih menjadi anggota DPD RI, diantaranya :

Yang pertama, saya akan membenahi tata letak kota yang terkesan semrawut agar terhindar dari kemacetan, memperbaiki jalan- jalan yang rusak, serta menyediakan sebuah lahan untuk pedagang-pedagang kecil.

Yang kedua, saya ingin mendirikan rumah-rumah layak huni untuk warga, karena di daerah sekitar saya, masih banyak rumah yang beratapkan seng-seng yang sudah usang dan bilik-bilik yang sudah rapuh. Saya khawatir jika rumah tersebut tetap dipergunakan dan sewaktu-waktu roboh akan menimbulkan korban.

Yang ketiga, saya ingin mendirikan sebuah yayasan pendidikan yang akan saya beri nama rumah impian. Dimana rumah tersebut akan saya pergunakan untuk menaungi anak-anak jalanan yang tidak beruntung dalam hal pendidikan. Karena mereka juga mempunyai hak yang sama seperti anak-anak lain yang kelak akan memimpin negeri ini, membawa Indonesia menuju ke arah perubahan yang lebih baik.

Yang keempat, saya akan mendirikan sebuah lapangan pekerjaan untuk meminimalisir pengangguran . Lapangan pekerjaan tersebut tidak akan saya batasi jenisnya. Tapi disini saya akan memberikan kebebasan sepenuhnya pada masyarakat untuk berkreasi. Misalnya dapat berupa hasil kerajinan tangan, industri rumahan, saya yang akan menyiapkan sarana dan prasarananya. Untuk pengelolaannya saya serahkan rembukan dari masyarakat sekitar.`

Yang kelima, saya akan mengajak teman-teman saya di jajaran anggota DPD untuk turun langsung ke masyarakat, dan mengajak mereka untuk meyumbangkan sebagian pendapatan mereka dengan seikhlasnya untuk membantu sesama. Karena pendapatan lebih yang Tuhan titipkan untuk kita adalah sebagiannya milik mereka yang membutuhkan.
Semoga apa yang saya tuliskan disini suatu saat nanti dengan ijin Sang Maha pemeluk impian dapat saya wujudkan. Karena jika saya berani memimpikannya, maka saya juga harus berani untuk mewujudkannya.

Minggu, 11 Desember 2011

Anggunnya Jilbabmu

Wanita itu tercipta dengan sifat kelembutan hati dan jiwa, itulah kodrat seorang wanita. Alangkah indahnya ketika wanita solehah diibaratkan laksana teratai yang mekar di telaga madu. Permata yang senantiasa bersinar walau berada di kubangan lumpur sekalipun. Ia mempunyai akhlak dan pribadi yang begitu cantik. Cantik di mata Allah tidak di nilai berdasarkan paras rupa. Tetapi cantik di hadapan Allah itu ternilai dari hati yang senantiasa berada dalam tuntunan syariat-Nya.

”Dunia ini adalah perhiasan dan seindah-indahnya perhiasan dunia adalah wanita sholehah ”(HR.Muslim). Sungguh begitu mulianya Allah SWT menciptakan seorang wanita dengan segala kelebihan yang Allah berikan. Sejak seorang wanita mencapai masa akil baligh, Wanita di wajibkan menutup aurat seluruh tubuhnya terkecuali bagian wajah dan telapak tangan. Begitu jelas seruan Allah kepada wanita untuk menutup aurat yang tertuang dalam Al-Qur’an:

”Katakanlah kepada wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami merekaatau ayah mereka, atau putera-putera merka, ayah suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara mereka, atau putera-putera saudara mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka atau wanita-wanita islam atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung(An-nuur:31).
Sedangkan Firman Allah yang lain menjelaskan :

”Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(Al-Ahzab:59)

Perbedaan wanita yang mengenakan jilbab dan tidak sungguh terlihat jelas. Seperti halnya saat seorang wanita berjalanan di kerumunan orang banyak, seringkali orang-orang yang berada di tempat itu mengucapkan ucapan salam yang merupakan do’a. Sedangkan yang tidak mengenakan jilbab dengan pakaian serba terbuka, mereka kerap kali di ganggu dengan godaan-godaan kaum adam yang begitu mengganggu ketentraman jiwa.

Yang tertutup itu akan terlihat jauh lebih indah. Jika kita mempunyai sebuah buku, Buku yang tersampul rapih akan lebih terlihat menarik dibandingkan dengan buku yang tidak bersampul. Itulah penggambaran seorang wanita yang mengulurkan jilbab sebagai penutup kepalanya. Akan tetapi, saat kita telah menunaikan kewajiban kita untuk menutup aurat, hendaknya, apa yang sudah menjadi prinsip kita peganglah dengan teguh. Dengan tetap menjaga hati dan pandangan semata-mata hanya karena Allah. Karena cantik pada parasmu akan hilang seiring berjalannya waktu. Akan tetapi, cantik pada hatimu takkan pernah lekang sekalipun sang waktu telah meninggalkanmu.

Fenomena jilbab gaul yang kini sedang menjadi trend di Indonesia sungguh sangat disayangkan. Memakai Jilbab hanya untuk tuntutan trend semata. Mengenakan penutup kepala tapi pakaian yang ia kenakan terlihat tampak jelas lekukan tubuhnya.
Rasullullah SAW bersabda :

”Antara penghuni-penghuni neraka ialah wanita yang memakai baju tetapi masih bertelanjang, menggodai dan digodai, mereka ini tidak akan masuk syurga malah bau syurga pun tidak akan sampai kepada mereka.”
Jilbab yang dikenakan haruslah menyembunyikan mahkota diri, laksana sekuntum mawar berduri, yang terlihat cantik dengan duri. Bukan untuk menyakiti tapi untuk mejaga diri akar kelak di izinkan ilahi menghiasi taman firdausyi.

Alangkah indahnya ketika jilbab itu di ulurkan ke segenap tubuh yang telah Allah tentukan, di sertai dengan pancaran akhlak mulia. Maka terlihat anggunlah si wanita yang insya Allah atas izin Sang Maha Pencipta di jadikan bunga pengharum taman syurga bagaikan haruman mewangi dari kuntuman kasturi.

Sabtu, 10 Desember 2011

Hanya Ada Satu Arah

Hari berganti dan kita tetap tidak mengerti, apa yang sebenarnya kita cari dan ingini. Pencapaian yang tampak begitu membanggakan adalah jebakan tak berkesudahan akan keinginan yang lebih lagi. Jika mampu kita ingin mereguk yang lebih melimpah,lebih mewah,lebih indah dan sejuta lebih lebih yang lain. Dalam bilangan tak terhingga tanpa kenal batas tepi. Dan bukankah memang akan selalu begitu, keadaan penghamba dunia?
Kemudian kita melupakan hal yang paling asasi; mengenal dan mencintai Allah. Pondasi utama dari sebuah tugas besar dan tujuan penciptaan; beribadah kepada-Nya. Berbakti, mengabdi, pasrah dan menyerah sepenuhnya. Yang keberadaannyalah esensi dari keberhasilan dan rasa kenikmatan. Dan kehilangannya meniscayakan kegagalan dan hampa akan semua yang bisa dirasakan.

Minggu, 16 Oktober 2011

Nikmatilah Perbedaan......

Perbedaan adalah anugrah dari
Yang Maha Kuasa!

Lihatlah sekeliling kita, indahnya
warna-warni bunga, warna-warni satwa,
dan segala keragaman lain yang
menghiasi dunia.

Bayangkan kalau kita hanya mengenal
warna hitam saja! Alangkah gelapnya
dunia ini! :-)

Tanpa adanya perbedaan dan warna-warni,
kita tidak akan merasakan hidup
semeriah dan seindah sekarang ini,
betul?! :-)

Begitu pun dengan kehidupan, setiap
insan selalu berhadapan dengan segala
macam perbedaan dan warna-warni
kehidupan.

Tapi sayang, tidak semua orang mampu
melihat perbedaan sebagai kekayaan.
Banyak orang merasa tersiksa karena
perbedaan alias mereka tidak mampu
menikmatinya.

Berbagai bentuk kejahatan dimulai hanya
karena perbedaan. Entah itu perbedaan
warna kulit, agama, suku bangsa,
prinsip, atau sekadar pendapat.

Sebenarnya, perbedaan bukanlah sesuatu
yang bisa dihindari. Setiap orang lahir
dengan perbedaan dan keunikannya
masing-masing. Mulai dari perbedaan
fisik, pola pikir, kesenangan, dan
lain-lain.

Tidaklah mungkin segala sesuatu hal sama.
Bahkan kesamaan pun sebenarnya tidak
selalu menguntungkan.

Coba bayangkan, seandainya semua orang
memiliki kemampuan memimpin, lantas
siapa yang mau dipimpin? Kalau semua
orang menjadi orang tua, siapa yang mau
jadi anak? Siapa juga yang akan
menerima sedekah, jika semua orang
ditakdirkan kaya?

Perbedaan ada bukan untuk dijadikan
alat perpecahan. Banyak hal positif
yang bisa kita peroleh dengan perbedaan.
Namun, tentu saja semua itu harus
bersyarat. Nah, syarat apa saja yang
harus dipenuhi?

Berikut di antaranya...

1. Cara pandang kita terhadap perbedaan.

Berpikirlah positif dengan mensyukuri
adanya perbedaan. Anggaplah perbedaan
sebagai kekayaan. Cara pandang yang
benar akan melahirkan sikap yang tepat.

Ada baiknya kita mencari persamaan
terlebih dahulu, sebelum mencari
perbedaan.

2. Kelola perbedaan sebaik mungkin.

Musyawarah untuk mencapai kesepakatan
adalah jalan yang tepat untuk mengelola
perbedaan.

Berlatihlah utk menghargai, menerima,
menjalankan dan bertanggungjawab
terhadap keputusan bersama, meski
berlawanan dengan ide awal kita.

3. Selalu posisikan segala sesuatu
pada tempatnya.

Saat bekerja sama dengan orang lain,
salurkan potensi, karakter, minat yang
berbeda-beda pada posisi 'yang tepat'.

Cara ini akan mendorong tercapainya
tujuan bersama dan mendukung
pengembangan potensi masing-masing
individu.

4. Jangan pernah meremehkan orang lain.

Apapun dan bagaimana pun kondisi atau
pendapat orang lain, perlakukan mereka
selayaknya diri kita ingin diperlakukan.

Anggaplah semua orang penting. Mereka
memiliki peran tersendiri, yg bisa jadi
tdk bisa digantikan oleh orang lain.

5. Jangan menonjolkan diri atau sombong.

Merasa diri paling penting dan lebih
baik daripada orang lain *tidak akan*
menambah nilai lebih bagi kita. Toh
kita tidak bisa hidup tanpa orang lain.

Jadilah beton dalam bangunan. Meski
tidak nampak, namun sesungguhnya ialah
yang menjadi penyangga kokohnya sebuah
bangunan. :-)

6. Cari sumber informasi yang terjamin
kebenarannya.

Perbedaan bisa muncul karena informasi
yang salah. Oleh sebab itu, pastikan
sumber informasi kita bisa terjamin dan
dapat dipercaya kebenarannya. Lebih
bagus lagi jika disertai bukti yang
mendukung.

7. Koreksi diri sendiri sebelum
menyalahkan orang lain.

Menyalahkan orang lain terus menerus
tidak akan banyak membantu kita. Bisa
jadi kesalahan sebenarnya terletak pada
diri kita. Karenanya, koreksi diri
sendiri terlebih dahulu merupakan
langkah yang paling bijaksana.

So, berhentilah menyesalkan perbedaan.
Karena jika tidak, kita akan
kehilangan sumber kebahagiaan! :-)

Kamis, 25 Agustus 2011

Renungan Cinta

Renungan Cinta

oleh : Aini Nur Latifah





Biar hujan melanda, makna cinta tetap terurai nyata

Meski tak bisa di urai maknanya..





Sayup-sayup rintik hujan membasahi pekarangan rumah Bunga petang itu. Air hujan mengendap di jendela kaca kamar bunga, membuat samar-samar menghalangi pandanganya.



Hujan membuat acara pertemuannya dengan Raka berantakan karena Umi tidak mengijinkannya untuk pergi di tengah hujan seperti ini. Ia pun memutuskan untuk mengurung diri di kamar. Karena bosan, di bukanya jendela kaca kamarnya. Tangan lembut gadis cantik itu di ulurkannya hingg menyentuh butiran-butiran hujan.



Sambil menopang dagu ia memainkan hujan dengan jari jemarinya. Padahal hari ini ia sudah merancang rencana bersama Raka yang sudah dua tahun terakhir ini mengisi hatinya untuk membantu tugas kuliahnya di Kafe Buku yang terletak tidak jauh dari rumahnya.



Dari dalam kamar ia menatap warna warni bunga krisan yang menghiasi taman halaman rumahnya. Sepintas ia melihat seorang lelaki berperawakan tinggi dan mengenakan jaket cokelat yang sudah tidak asing lagi dilihatnya. Ya, lelaki itu adalah Raka. Sorotan mata gadis itu terlihat berbinar meski melihat raka dalam radius yang cukup jauh.



Bunga begitu terlihat tampak anggun dengan balutan rok, dan atasannya lengkap dengan penutup kepala berwarna merah marun. Ia tidak lagi menekuk wajahnya. Bunga begitu tampak riang.



Baru saja selangkah beranjak dari pintu kamar Umi memanggil Bunga.

”Mau kemana sayang hujan-hujan begini, cantik banget lagi anak Umi?” Bunga mengulum senyum.

”Ada Raka di luar Umi. Tenang aja Bunga enggak akan kemana-mana ko. Cuma ngobrol depan teras rumah aja. Boleh kan Umi?” Umi mengangguk pelan diiringi senyuman.



Raka berjalan ke arah Bunga. Bunga menyambut Raka di depan pintu rumahnya dengan senyum yang begitu hangat. Meski pertemuan mereka setiap bulan hanya berlangsung dalam hitungan jari, tapi keduanya sudah saling mengerti. Karena Raka harus pulang pergi Bandung-Surabaya untuk menyelesaikan program S1-nya sementara Bunga, karena ia anak satu-satunya mau tidak mau ia harus mengikuti perintah orangtuanya untuk kuliah tetap di kota kelahirannya.



Mereka tidak seperti sepasang kekasih pada umumnya, pacaran, nonton berduaan ataupun jalan-jalan. Keduanya lebih senang menghabiskan waktu dengan saling bertukar pikiran, berbagi cerita ataupun hanya sekedar melepas rindu dengan canda tawa yang mereka ciptakan.



Keduanya duduk saling berhadapan di teras rumah. Bunga membawa dua gelas minuman hangat dan dua toples cemilan. Disapanya Raka dengan lembut,

“Hei Raka…” sapaan itu mengejutkannya.

“Apa kabar kamu? Lama ya kita gak ketemu? Gimana kuliahnya lancar?” sederetan pertanyaan Bunga membuat Raka bingung.

“Satu-satu dong nanyanya neng jangan keroyokan. Hehe”

”Biarin weeww”, Bunga menjulurkan lidahnya.

”Alhamdulilah semuanya lancar ko. Kamu sendiri gimana, ko kalo aku perhatiin kamu agak kurusan. Mikirin aku terus ya?” goda Raka pada Bunga.

”Ih kepedean banget kamu. Aku capek tau tugas kuliah numpuk terus. Kebetulan kamu datang. Aku kan mau nyuruh kamu bantuin tugas Manjemen aku”

”Oh jadi aku cuma mau disuruh ngerjain tugas kamu doang nih? Pulang lagi ah”

”Eh jangan jangan becanda tau..hehe”



Keduanya tampak larut dalam canda dan tawa. Berhubung esok paginya Raka harus bertolak kembali ke Surabaya, Raka memutuskan untuk pulang. Walaupun kedatangan Raka hari ini hanya sekejap, Namun cukup membuat hati bunga senang.



****



Selang sebulan setelah pertemuan itu, komunikasi keduanya terbilang renggang. Mereka disibukkan dengan kuliah masing-masing dan Organisasi yang Raka ikuti pun sangat menyita waktu. Sehingga Raka terkesan jarang menghubungi Bunga.



Jelas saja hal ini membuat Bunga sedih. Sangkaan buruk pun menggelayuti pikirannya. Hatinya gusar. Apa mungkin disana Raka telah menemukan tambatan hati yang jauh lebih baik darinya? Bahkan sudah seminggu lebih tak ada kabar darinya. Kini, Bunga tak terlalu ambil pusing ia memilih untuk berbaik sangka saja mungkin memang banyak tugas kuliah yang harus ia selesaikan.



"Empat tahun aku mengenal Raka. Tapi, baru kali ini ia bersikap seacuh ini padaku? Ah semoga semuanya baik-baik saja”, gumamnya dalam hati.



Suara jangkrik yang bersahutan memecah keheningan malam. Sebuah pesan singkat membuyarkan lamunan Bunga. Senyumnya mengembang ketika mendapati kabar dari Raka bahwa minggu ini ia akan pulang. Sangkaan buruk yang di anggapnya raka tidak lagi peduli padanya pun sirna.



***



Dengan mengenakan kemeja hitam bercorak putih Raka begitu setia menunggu Bunga di Kafe Buku tempat dimana pertama kali ia mengenal Bunga empat tahun lalu.



Bunga dengan balutan jilbab putih yang dijulurkan sebagian menutupi tubuhnya begitu terlihat sangat cantik. Sifatnya yang lembut seakan membuatnya begitu indah dalam pandangan Raka. Matanya langsung tertuju pada meja nomor 5 yang disana terdapat Raka sedang menyeruput cokelat hangatnya.



”Bunga...” seulas senyum teduh milik Raka menyapanya.

”Maf ya lama. Kamu udah daritadi ya disini?” tanya bunga dengan wajah yang terlihat gembira dari hari sebelumnya.

“Ah enggak juga ko. Bentar ya aku pesankan minuman buat kamu”

Raka berlalu. Sementara Bunga sibuk melihat orang-orang yang berlalu lalang di sekelilingnya.

”Bunga, maafin aku ya. Sebulan terakhir ini aku jarang sekali menghubungi kamu. Dan maksudku mengajakmu ke tempat ini untuk membicarakan masalah kita”

”Masalah? Aku rasa semua masih baik-baik saja”

”Bunga sebelumnya aku minta maaf. kamu berhak marah setelah aku menyampaikan ini, disana aku jatuh hati pada orang lain. Jujur, aku merasa nyaman ketika aku dekat dengannya. Aku butuh suport langsung tidak seperti hubungan jarak jauh ini” Raka menatap bunga dengan tatapan seolah tak punya salah. Sementara Bunga merasa sedang berdiri di bibir jurang yang perlahan akan jatuh mendengar penuturan Raka.

“Jika keputusan ini lebih membuatmu bahagia aku setuju saja. Tapi aku minta satu hal, persahabatan yang bertahun-tahun kita bina aku harap masih bisa terjaga karena jauh sebelum kita menjalin hubungan ini kau adalah sahabat baikku. Selamat ya Raka”, matanya memerah, ia tak sanggup melihat wajah Raka. Bunga beranjak dan tersenyum getir ia tak mau menunjukkan kesedihannya di depan Raka.

Tanpa lebih dulu meneguk Jus Apel yang sudah di pesannya Bunga berlalu meninggalkan Raka. Langkahnya begitu berat, bagaimana tidak hati bunga begitu terluka. Raka hanya dapat menatap kepergian bunga tanpa dapat mencegahnya, sementara samar-samar langkah Bunga semakin menjauh, terlihat jelas gurat sesal di wajahnya.

Bunga yang sebelumnya membayangkan hari ini akan menjadi hari yang bahagia justru pulang dengan kecewa.



***

Bunga masuk kamar tanpa lebih dulu mengucap salam pada Abi dan Uminya. kedua orangtuanya merasa heran dengan tingkahnya.

Di kamar yang di dominasi warna biru muda itu ia meluapkan kesedihannya. Raka orang yang selama ini menjadi penopangnya dan selalu mendorong impiannya untuk menjadi seorang guru justru mencampakkannya. Gerimis pun membasahi kedua pipinya.



Sesegera mungkin ia mengambil air wudlu. Setiap ada masalah yang menderanya, obat yang dirasanya ampuh itu adalah bersujud di hadapan-Nya.



“Tuhan, jika sekiranya ini adalah yang terbaik untukku dan untukknya aku mohon pisahkan aku dari ingatan-ingatan ini. Karena sesungguhnya Engkau lebih tahu tentang segala-galanya daripada diriku sendiri karena Engkau yang memiliki sekeping hati ini.”



Itulah rintihan hati Bunga selepas dari sujudnya. Ia ikhlas jika skenario yang Dia buat berujung sad ending. Diluar terdengar ketukan pintu berkali-kali.



”Sayang...umi boleh masuk kamarmu?”

”Iya umi...sebentar” Bunga melepas mukena yang masih ia kenakan”

Bunga langsung mendekap umi erat-erat tanpa terlebih dahulu Bunga menceritakan masalahnya umi sudah mengetahuinya. Itulah ikatan batin antara ibu dan anak yang begitu kuat.



”Nak, Bila kamu memandang segalanya dari Allah yang menciptakan ujian, yang mengakibatkan sakitnya hati, yang menyebabkan keinginan terhalang, Maka damailah hati. Karena tidaklah Allah mengatur segalanya untuk sesuatu yang sia-sia. Jika memang Raka lebih bahagia bersama pilhannya, ikhlaskanlah. Kamulah insan pilihan Allah untuk mekar terpelihara hingga mendapat seruannya. Mungkin, kini Allah telah memberi ruang terlebih dahulu untuk mengejar cita-citamu. Tak usah risau, jika kalian berjodoh, pasti suatu saat nanti Allah akan mempertemukan kalian kembali dengan cara-Nya yang indah karena hidup, mati, jodoh dan rezeki setiap manusia itu sudah tercatat di lauhul mahfudz.”



Nasihat umi sedikit menenangkan perasaannya. Cinta telah membuat Bunga belajar untuk melepas apa yang sudah menjadi kehendak-Nya.

Selasa, 17 Mei 2011


“CATATAN AKHIR SEKOLAH”
3 IPA 3

Sebuah kisah tentang perjalanan akhir anak SMA ya….. tepatnya di SMA BUNGA BANGSA,sekolah yang cukup favorit di kota itu yang didalamnya terdapat kisah persahabatan yang sangat unik di antara anak-anak kelas 3 ipa 3,dan mereka itu adalah…. Ada sarah yang jutek setengah mati, Ratih yang kutu kupret ups kutu buku maksudnya ^_^, Ramanda yang cuek tapi romantis, Naya yang jail banget, Sheila yang centil, Maria yang bawel n cerewet (eh sama aja yah?hehe.), Dono yang tulalit n budek, Jono yang cupu n senyum terus dan yang terakhir Andre yang suka berpantun ria…Walaupun berbeda-beda karakter tapi mereka selalu kompak...
Disuatu kelas…yang tepatnya terletak di depan lapangan basket suasana sangat gaduh. Hal itu dikarenakan guru PPKN yang super killer itu tidak hadir karena sedang ada rapat tentang ujian nasional…
Naya :”YES !!! gurunya pada rapat…BEBAS !!! hahaha ( naya
melemparkan kertas pada Dono)
Dono :”Aduuuuuuuuuh..sipa sih yang ngelempar kertas kearah gue?
Jono :”tuh si Naya ?”(sambil membenarkan kacamata kudanya)
Dono :”Oh… dasar si Sarah kurang ajar !”
Jono :”NAYA budek !!! ( berbicara tepat di telinganya tapi dono tak
menghiraukannya dan berjalan ke arah sarah)
Dono :”Sarah, tadi lo yang ngelempar kertas kea rah gue ya
?”(dengan PD-nya membentak sarah)
Sarah :”Heh lo nuduh gue?(sambil melotot) sembarangan..berani banget
lo ?”
Dono :”Tuh kan bener lo yang ngelempar ?
Sarah :”Bukan gue Boloooooooooot ! udah tulalit, budek, idup lagi ?(dengan
tampang juteknya)
Dono :”iya, iya udah gue maafin kooo?”
Sarah :”aduuuuuh donooo,,,huuhft capek ngomong sama orang budek?”
Dono :”makasih ya sar atas pujiannya.”
Fitria menyambung pembicaraan mereka..
Fitria :”Sarah, kamu ga boleh begitu. Jangan menghina orang yang sudah
hina.”
Naya :”hahaha dasar Bego? Dono…Dono…
Andre bersabda dengan pantunnya…
Andre : ke desa naek kuda
Di kuda ada plananya
Punya teman jangan di hina
Yaaaa tapi memang itu kenyataannya,hehe
Manda :”Heh,udah udah bikin kepala gue pusing aja? Ga penting banget tau ga?”
Ratih :”iya nih ganggu aku lagi baca aja?”
Semua berkomentar tentang dono tapi Maria sibuk dengan ponselnya dan Sheila dengan alat-alat make-upnya.
Tiba-tiba suasana kelas menjadi kacau balau, satu sama lain saling melempar gulungan kertas. Tak disangka bu Kania yang sejak tadi rapat datang secara tiba-tiba.
Pluuuuuuk gulungan kertas yang dimaksudkan Jono untuk Naya mendarat tepat diatas wajah ibu Kania…
Bu Kania :”JONOOOOOOOOOO,kamuuuu?(Marah besar) cepat sini kamu ke depan?
Jono dan anak –anak lainnya tersentak kaget.
Dono :”(berdiri dan berkata) Haah apa bu ke DUFAN ?”
Sheil :”Bukan DONO tapi JONO.makannya pasang tuh alat budeknya.”
Dono :”siapa yang bego?”
Sheila :”LO………” (Sheila gregetan dengan dono)
Jono pun menghadap bu kania dengan senyum yang selalu mengembang di wajahnya.
Jono :“Maaf bu saya tidak sengaja dam bukan bermaksud ke ibu.”
Bu Kania :”kamu ini ga dimana-dimana, diomelin pun senyum terus.sana
kembali ke tempat duduk kamu.”
Jono kembali ke tempat duduk dan bu kania menceramahi anak2.
Bu kania :”kalian ini ya ibu tinggal sebentar malah main2 padahal kan
sudah ibu beri tugas.harusnya kalian itu sadar kalian itu
sudah kelas 3 mau menghadapiu UJIAN bukan waktunya
main2 lagi?ngerti????
Semua :”ngerti buuu”(hanya maria yang tidak menjawab dan asyik dengan
ponselnya)
Ibu kania :”MARIA !!!sedang apa kamu ?”
Maria :”Eh ibu?kapan datangnya?”
Bu Kania :”kapan datangnya kamu bilang?dari tadi kamu tidak mendengarkan
saya ngomong panjang lebar? Cepat kamu ke depan kerjakan soal no 1
halaman 226!”
Semua :”Haaaaah?” semua terkejut.
Suasana kelaspun tampak hening seketika.. dengan perasaan takut maria maju ke depan. Baru saja maria menulis soal.bel pulang pun berbunyi.
Teng-teng-teng……………………
Semua anak kelas 3 IPA 3 mengucapkan alhamdulillah sambil mengusap dada.
Bu kania :”Maria kembali ketempat duduk kamu.sudah bel pulang. pelajaran di
lanjutkan minggu depan.ibu akhiri dengan salam.assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Semua :”waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.
Ibu kania pun berlalu dan penghuni 3 ipa 3 bersiap-siap untuk pulang.
Saat perjalanan pulang…di koridor sekolah…
Naya :”anak-anak jadi ideologi itu adalah…hayooo ada yang tau?(memperaktikan gaya ibu kania), dasar Naya memang anak yang usil.
Dono :”gue tau(mengangkat telunjuknya)Biologi itu adalah ilmu yang
mempelajari tentang makhluk hidup.bener kan???”
Andre :jaka sembung
Makan panadol
Ga nyambung
Dodol.
Bukan Biologi tapi ideologi .i…d…e…o…l…o…g…i…
Dono :”ko sosiologi sih ?”
Andre menggeleng-geleng kepala dan naya tertawa terbahak-bahak.
Sarah :”dasar oon kupingnya harus di korekin pake linggis tuh.
Fitria :”manusia itu diciptakan bukan untuk dihina tapi kita sebagai
sahabatnya harus saling melengkapi…”
Andre :”sip betul…(mengacungkan jempol)gue setuju banged tuh”
Setibanya di pintu gerbang sekolah semuanya berpisah menuju rumah masing-masing.tapi dono,Sheila,ratih dan jono masih ada di depan
pintu gerbang…
Jono :”eh don,aku ma ratih mau kekantin dulu yah..haus nih pengen beli
jus.”
Dono :”ya udah san ague tunggu disini ya?”
Jono dan ratih pergi ke kantin dan disitu hanya ada dono dan Sheila.
Dono :”wah ini waktu yang tepat buat ngungkapin perasaan aku ma Sheila
(Dono berkata dalam hati )
Dono mendekati Sheila…
Dono :”Emmm ko belum pulang sel?”
Sheila :”ia nih belum ada yang jemput”(melihat jam tangannya)”
Dono :”shel, gue mau ngomong sesuatu ma lo.”
Sheila :”ya kalo mau ngomong ya ngomong aja ga ada yang ngelarang
ko. emangnya mau ngomong apa sih serius banget kayanya(sibuk
dengan kipas yang digenggamnya.)
Dono :”sebenernya dari kelas 2 gue suka ma lo sel ?”
Sheila :”whattt?ah dono becanda aja deh”
Dono :”gue serius sel(memegang tangan Sheila)nih buat lo (mengeluarkan
setangkai bunga)lo ga harus jawab sekarang ko?”
Sheila :”maaf banget ya don selama ini Sheila Cuma anggap dono sahabat ga
lebih.dan lagian juga Sheila…(belum sempat Sheila melanjutkan
pembicaraan terdengar bunyi klakson)
Sheila :”Tuh pacar Sheila udah datang.sheila pulang duluan ya don…”
Dono :”ya udah hati2 ya…(dengan wajah murung)”
Jono dan ratih pun datang…
Ratih :”woyyy ngelamun aja?kenapa sih?”
Dono :”(KAGET)eh kalian??ga ko ga ada apa-apa.ya udah kita pulang aja
yuk?”
Berhubung rumah mereka berdekatan ratih,jono,dan dono pulang brsama.saat menyebrang jalan tiba-tiba dari kejauhan ada sebuah truk contener.
Jono :”Dono…dono awas ada truk…(teriak2)
Dono :”hah ada yang struk ?”
Jono :”bukan struk tapi truk.awas minggiiiiiiiir?”
Dono tak menghiraukan teman-temanya ia pun tetap menyebrang dan akhirnya ia tertabrak…
Ratih dan jono :”donoooooooooooooooooooo”(mereka panic mendapati dono tergeletak penuh darah...dan mereka membawa dono kerumah sakit.
Keesokan harinya di rumah Sheila….
Maria :”eh si dono kemana ko dia ga ikut ngumpul?”
Manda :”man ague tau emang gue emaknya?”
Maria :”jono ma ratih juga pada lum datang mereka kemana yah?”
Sheila :”ia nih serasa ada yang kuran gitu ya?ga da mereka?”
Manda :”ah mereka atau dono?cie cie,ehm ehm…hehe?”
Naya :”ya juga ya sepi ga ada si dono.ga ada mainan gue.haha”
Sarah :”ah si dono mah percuma ada juga ga bisa di ajak ngobrol ga
nyambung ?”
Saat mereka asyik berbincang-bincang Jono datang……
Jono :”teman,dono kecelakaan sekarang koma di rumah sakit.”
Sheila :”haaah?kenapa ko bias?kemarin masih baik2 aja?”
Jono :”kemarin waktu pulang sekolah dono ketabrak truk.”
Manda :”terus sekarang keadaannya gimana.”
Jono :”sampai sekarang dia masih belum sadar?”
Andre :”Ya udah tunggu apa lagi sekarang kita pergi kerumah sakit.”
Sarah :”yuuuuuuuuuuuuuuuk lest go”
Sesampainya di rumah sakit…dono berada di ruang ICU
Andre :”teman,kita ga boleh masuk gimana dong?”
Fitria :”walaupun kita ga boleh masuk kita berdoa aja ya buat
kesembuhan dono?”
Naya :”okelah kalo begitu.”
Keesokan harinya di sekolah……semua harap-harap cemas menantikan kesembuhan dono.tapi…takdir berkata lain.
Fitria :”si dono lagi ngapain ya?udah sadar belum ya?”
Sheila :”duh gw jadi merasa bersalah udah nolak dia…
Sarah :”hah ngomong apa tadi barusan?”
Sheila :”ah ga ko lo salah denger kali?
tiba2 naya datang dengan terburu-buru
Naya :”eh ada bu kania,, ,
Kelas pun rapih seketika.
Saat bu kania datang tampak ada sesuatu yang aneh bu kania yang biasnya datang denagan wajah yang menyeramkan tapi kali ini wajahnya begitu sendu seperti habis menangis…
Ibu kania :”assalamualaikum wr.wb
Semua :”waalikum salam wr wb
Ibu kania :” anak nak semua dengan berat hati ibu menyampaikan berita ini.”
Andre :”memengnya ada apa bu?”
Ibu kania:”teman sekelas kalian “DONO MICHAEL CHANDRAWINATA” telah meninggalkan kita semua pagi tadi pukul 08.45”
Suasana kelas pun tampak begitu sunyi tak ada canda dan tawa seperti biasanya…justru kesedihanlah yang menyelimuti wajah mereka karena kepergian dono?

Setelah pulang sekolah, semua sepakat untuk pergi ke rumah Dono untuk bertakziah.
Tak ada satupun dari mereka yang tidak meneteskan air mata. . .Dono yang selama ini jadi bahan olokan teman-temannya karena kekurangan fisik pada pendengarannya telah pergi untuk selama-lamanya.
Naya : ”Don, bangun don. Gue janji kalo lo bangun lagi gue gakan jail lagi sama lo”
Manda :”udah Naya ikhlasin Dono.” Ucapa Manda sambil mengelus-ngelus bahu Naya.
Semua sahabat Dono mengantarkan Dono hingga ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Pagi ini suasana kelas masih diselimuti duka atas kepergian Dono. Suasana kelas yang selalu gaduh, riuh. Namun kali ini tampak sunyi. Walau tidak ada guru semua begitu bermalas-malasan.
Jono :”Teman, kita ga boleh terus menerus larut dalam kesedihan.
Dono juga akan sedih melihat kita seperti ini.
Andre :”Iya bener tuh. Uan udah tinggal didepan mata. Semangat teman”
Hari-hari di kelas 3 IPA 3 selalu sepi. Yang ada hanya kesriusan karena akan menghadapi Ujian Nasional.
Ujianpun telah berlalu. Kini waktunya pelulusan dan perpisahan. Suasana tampak menegangkan saat kepala sekolah memberikan pidato singkat sekaligus pengumuman kelulusan.
Kepala sekolah :”anak-anak yang Bapak sayangi Tidak terasa hari ini merupakan hari terakhir kalian berada disekolah ini. Kini, saatnya Bapak mengumumkan hasil kelulusan. Dan hasil keputusannya adalah...Alhamdulilah semua siswa SMA bunga Bangsa 100% LULUS”
Andre :”Horeee..kita lulus kawan, sorak sorai gembira terpancar dari wajah seluruh siswa
Naya :”Kelulusan ini kita persembahkan untuk Dono sahabat kita”
Jono :”Dono......Kita lulus Don”

Untuk perwakilan kelas 3 dan salam perpisahan, Ramanda membacakan sebuah puisi. Inilah puisi yang ia buat untuk Dono.

Senandung kisah klasik untuk sahabat

Semuanya berjalan begitu singkat
Setiap detik yang berlalu bagai butiran pasir yang tertiup angin
Berjalan menari melewati hari-hari penuh makna
Yang tak pernah letih menoreh kisah klasik
Antara aku, engkau dan kita semua
Gelak tawa, tangis, suka, duka dan bahagia silih berganti
Mengiringi kisah ini
Secuil harap dan doa yang terlintas dalam relung sanubari
Berharap kisah ini kan selalu terukir dalam hati kita
Takkan habis terkikis ruang dan waktu
Takkan hilang meski salah satu jiwa telah pergi
Dan tak pernah lupa meski mata ini tak pernah melihat senyum itu lagi
Sahabat......
Kisah klasik ini kan selalu bersenandung indah untukku dan untukmu selamanya.........
Tepuk tangan penuh haru membahana hingga dipenjuru aula sekolah. Memang persahabatan dapat melipatgandakan kegembiraan dan berbagi kesedihan, inilah kisah yang di alami oleh beberapa anak SMA Bunga Bangsa, meski terdapat kesedihan dan kehilangan yang sangat mendalam, namun semua dapat berakhir degan kebahagiaan karena seluruh siswa lulus dengan hasil yang memuaskan.

Sabtu, 02 April 2011

AYAH SOSOK YANG SERING TERLUPAKAN TAPI JASAMU SUNGGUH TAK TERELAKKAN

“Ayah saya tidak pernah mengatakan kepada saya bagaimana caranya untuk hidup, tapi ia hidup dan aku mengambil pelajaran darinya ( Cla rence)


Memang tidak dapat kita pungkiri bahwa keberadaan ayah sebagaiman Ibu tak kan lekang di makan waktu. Ibu kita menunggu waktu Sembilan bulan untuk menunggu kelahiran kita dengan bertaruh nyawa, lalu ayah kita menunggu belasan tahun sejak kita di beri nama untuk bisa di lihat sebagai manusia dewasa yang hidup dengan kesadaran sebagai orang. Itu pun tak jarak seperti bertepuk sebelah tangan.

Saat kita sudah remaja, atau ketika kita sudah beranjak dewasa, ketika sudah memiliki kesibukan baru di luar rumah., semakin tidak ada waktu untuk Ayah kita, Maka dalam hatinya ia berkata, ”Anakku mulai menjauh dariku dan takkan ku rengkuh kembali seperti ketika ia saaat kanak-kanak.”. Galau, karena kita sudah memiliki dunia kita sendiri, Risau karena jarakpun terus bertambah jauh.

Saat kita benar-benar meninggalkan rumah, karena tuntutan pertumbuhan diri, kegalauan itu semakin bertambah. “Sejak suara tangismu, Sejak ku lantunkan suara adzan ke telingamu aku begitu menyayangimu. Ya, kau adalah permata hatiku. Namun, kau bukanlah selamanya milikku”.



“Rumah ini hanya persinggahan dalam perjalanmu menuju kedewasaan. Kini sudah hampir masanya kau pamit. Walau di hatiku terpancar sedikit rasa pahit. Tapi siapalah aku yang yang dapat menahan perjalanan sang waktu? Siapalah aku yang dapat menahan realita kedewasaan? Maafkan aku wahai anakku”.

“Bukan aku tidak rela kau pergi, tetapi karena aku terlalu mencintaimu! Hatiku bertanya-tanya adakah orang lain yang mencintaimu dan menjagamu sepenuh hati?. Sejak kau berjalan tertatih aku melihatmu jatuh tanpa rasa letih. Ku balut lukamu dengan hati-hati agar kau tak menjerit sakit. Tapi, jika suatu hari hatimu terluka, Siapakah yang akan membalut lukamu dalam perjalanan hidupmu?



Kepada kita anak lelakinya ayah berpesan, “Jadilah lebih kuat dan tegar dari aku, pilihlah Ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik, berikan yang terbaik untuk menantu dan cucu-cucuku daripada apa yang telah aku beri padamu”.



Kepada kita anak gadisnya Ayah berpesan,”Jangan cengeng meski kamu seorang anak perempuan. Jadilah sellau bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak. Laki-laki yang akan melindungimu melebihi perlindungan Ayah. Tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah dihatimu”.

Dalam pesan-pesannya Ayah hanya ingin memastikan bahwa kita telah ia titipkan kepada Dzat yang Maha Menjaga. Semua ia lakukan untuk melengkapi apa yang telah ia berikan.

Akan tetapi, kelak ketika kita akan menikah, detik-detik memulai hidup baru adalah detik-detik perpisahan bagi orangtua kita. Tidak secara ikatan tapi secara kesempatan. Jika sesaat kala iti dia Nampak menjauh dari pandangan kita, mungkin mereka sengaja menghindar untuk menyeka air matanya yang tak mampu ia tahan. Saat itu begitu menyenangkan bagi kita. Tapi ayah dan ibu, seolah menanti detik-detik akhir kebersamaan. Dan merekapun hanya terdiam.


Firman Allah dalam Al-Qur’an :

“Wahai Tuhanku. Kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil (QS. Al-Isra’ : 23-24)


Di kutip dari :



Ayah punya caranya sendiri untuk mencintai kita