Jumat, 10 Februari 2012

Cerita Kita Di Bawah Naungan Langit Senja




       Suatu siang di bulan Mei langit begitu cerah, kepulan awan putih begitu terlihat indah meliputi langit yang membiru. Di sudut taman sekolah, Risa terlihat begitu asyik membaca sebuah  novel. Ia pun tak menyadari bahwa ada Sisil yang sedari tadi berada di sampingnya.

       ”Hey, asyik banget sih baca novelnya sampe aku dicuekin gini,” ujar Sisil menggerutu sambil menepuk bahu Risa.
       ”Ups, sorry banget ya lagi seru nih Sil tanggung dikit lagi selesai novelnya,” Risa tetap fokus membaca novel My Last Love karangan Agnes Davonar dengan lollipop berwarna merah yang digenggamnya.

         Setelah selesai membaca novel Risa malah tertawa kecil melihat sahabatnya cemberut memandangnya.

       ”Sisil sayang, jangan ngambek ya. Aku lagi seru banget tadi baca novelnya. Senyum dong kalo senyum kamu tuh cantik banget tau Sil. Hehe…” Risa pun terus merayu Sisil.
       “Uda deh lupain..hehe. Ada hal yang lebih penting yang mau aku omongin sama kamu,” Sisil begitu tampak serius.
       “Apaan sih emang, serius banget?” tanya Risa penasaran.
       “Kalo aku perhatiin, kayaknya akhir-akhir ini Reza sering banget berduaan sama Diana ketua Ekskul KIR dibanding sama kamu?”
       “Mereka kan lagi sibuk mau ikutan lomba karya ilmiah remaja bulan depan nanti. Ya maklumlah kalo mereka deket. Aku yakin Reza bisa menempatkan dirinya dengan baik dan dia enggak akan lupain kita,” jawab Risa tenang.
       ”Tapi kamu enggak jeles apa Sa liat kedeketan mereka?”
       ”Hellooow, Sisil sayang aku sama Reza tuh cuma sahabatan enggak lebih. Lagian, enggak semua urusannya harus sepengetahuanku juga kan?” Belum sempat Sisil menjawab Reza pun datang dengan tiba-tiba.

       ”Woi pada ngerumpi mulu nih cewek. Ngomongin apaan sih?” seketika membuat Sisil yang sedang menyeruput jus jeruk tersedak.
       ”Ada deh rahasia perempuan, cowok enggak boleh tau” ujar Sisil sinis lalu berlalu pergi. Sisil terlihat acuh pada Reza yang akhir-akhir ini sibuk dengan dunianya sendiri dan terkesan melupakan pertemanan mereka.

       ”Kenapa sih tuh makhluk, ko jadi aneh gitu?” tanya Reza heran. Risa tak menjawab hanya sebatas menaikkan bahu dan mengernyitkan dahinya.
       ”Sa, ke tempat biasa yuk?” Reza tersenyum dan Risa pun mengiyakan ajakan Reza.
Mereka pulang bersama. Keduanya tampak larut dalam gelak tawa. Seperti biasa mereka selalu menghabiskan waktu bersama saat senja tiba, di atas gedung kosong yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Dari atas gedung mereka dapat menikmati kilauan cahaya senja yang begitu menakjubkan. Seakan dapat menyatu dengan alam di bawah naungan langit senja mereka menoreh cerita.

       Reza dan Risa sudah tampak terlihat seperti dua sejoli yang tidak dapat terpisahkan. Tapi bukan dalam hal pacaran, melainkan persahabatan mereka yang sudah terjalin cukup lama sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama hingga kini mereka duduk di kelas 3 SMA. Ibarat pribahasa, ada gula ada semut. Setiap ada Reza, pasti ada Risa. Mereka sudah seperti anak kembar. Selalu terlihat bersama dalam hal apapun. Tapi tak jarang pertengkaran pun mewarnai persahabatan mereka. Hanya saja mereka cenderung bersikap diam jika ada sesuatu hal yang mengganjal diantara keduanya. Seringkali teman-teman mereka mencomblangkan keduanya untuk menjadi sepasang kekasih, namun tak satupun usaha mereka yang berhasil, karena bagi mereka persahabatan itu jauh lebih indah dari pacaran, pacaran bisa putus. Tapi tidak dengan persahabatan yang mereka yakini akan berlangsung sampai mereka beranjak tua nanti.

***

       “ Za, coba liat deh langitnya indah banget ya. Kayaknya ini langit senja terindah yang pernah aku lihat,” Risa begitu terkagum-kagum melihat perpaduan warna lagit antara kebiruan-biruan dan kemerah-merahan. Reza hanya tertegun melihat raut wajah sumringah Risa. Ia tak ingin membebani pikirannya, Sehingga Reza pun mengurungkan niatya untuk menceritakan kegundahan hatinya.

       ”Iya Sa, bagus banget ya. Eh foto berdua yuk? Backroundnya keren nih?” Reza mengeluarkan kamera digital dari dalam tasnya.

       ”Boleh, boleh. Disini aja Za, supaya langit senjanya keliatan,” Risa menunjuk tempat yang sangat strategis. Mereka pun bergaya senarsis mungkin untuk sekedar dokumentasi pribadi. Dengan mengatur timer otomatis mereka berpose ria tanpa canggung karena mereka yakin tak ada seorangpun yang melihat gaya gokil mereka.

       ”Eh aku liat coba Za, bagus enggak?” Risa penasaran melihat hasil jepretan fotonya dengan Reza. Risa dan Reza tersenyum melihatnya.
       “Lucu kan Sa?” tanya Reza.
       ”Ih… lucu banget yang ini Za. Tapi kamunya jelek banget merem..hehehe. Nanti aku pake profil facebook ah” Reza merebut kamera digitalnya dari genggaman Risa.
       “Eits jangan yang itu, yang ini aja aku keliatan lebih ganteng, awas aja kamu anak  kecil kalo macem-macem”
      “Iya jeleeeek” Risa mencubit pipi Reza gemas. Keduanya pun meninggalkan gedung kosong itu dengan riang sambil tertawa-tawa.
       Langit sudah terlihat gelap, langit senja pun perlahan menghilang tertutup oleh kabut malam. Mereka berdua pun memutuskan untuk pulang.

       Kedekatan mereka berdua membuat setiap orang yang berada di sekelilingnya merasa iri, apalagi Reza mempunyai otak yang sangat cerdas dan selalu menjadi juara setiap ada Olimpiade Sains baik antar sekolah hingga menembus tingkat provinsi. Sedang Risa, meski ia hanyalah siswi biasa tapi ia mempunyai pribadi dan paras yang cantik sehingga tidak sedikit teman pria yang jatuh hati padanya. Namun, keduanya enggan menjalin cinta sampai nanti saatnya tiba.

***

         Satu minggu kedepan ini, ujian nasional dilaksanakan sehingga pertemuan Risa dan Reza pun tidak sesering seperti hari biasanya. Mereka hanya bertemu ketika pergi dan pulang sekolah bersama. Mereka fokus pada satu tujuan untuk lulus ujian nasional dan melanjutkan ke perguruan tinggi.

       Hari terakhir ujian nasional pun telah berlalu. Matahari telah condong ke barat. Sinarnya berwarna kuning kemerahan. Tampak rona bahagia menghiasi raut wajah keduanya. Dengan mengendarai sepeda motor milik Reza, mereka pergi ke tempat yang biasa mereka kunjungi. Mengahabiskan waktu sore dengan melihat semburat cahaya jingga bersama.

       Anak tangga mereka lalui satu demi satu hingga akhirnya sampai di puncak gedung, Risa termenung menatap langit memperhatikan keharmonian alam. Ia duduk sambil mendekap lututnya, pandangannya menerawang kosong. Sedang Reza merebahkan tubuhnya di atas puing-puing kayu yang dialasi sebuah tikar, mendonggakkan kepala ke langit yang tinggi bermain dan berimajinasi dengan kepulan-kepulan awan sambil memainkan jari telunjuknya seakan melukis dan menulis di langit bercahaya jingga.
       “Za, liat deh awan yang itu. Kumpulan awannya membentuk kelopak bunga yang indah seperti lukisan yang pernah aku buat”
       “Kalo aku melihat awan itu seperti pesawat terbang impianku. Hemm aku jadi pengen keliling dunia Sa,” Keduanya mengimajinasikan impian masing-masing.

       Hening..................

       Tiba-tiba alunan merdu evanescence My Immortal yang bersumber dari ponsel Risa membuyarkan lamunannya. Dirogohnya tas yang sedang di dekapnya. Ternyata  ada sebuah pesan masuk dari Reza yang berada tepat di belakangnya. Tertulis pesan,
       Sa, kamu nengok dong. Aku pengen cerita sama kamu. 

       Risa menoleh dan Reza membalasnya dengan senyum.
       “Ya ampun deket gini juga pake sms segala. Buang-buang pulsa”
       “Orang kaya gitu loh.hehehe. lagian kamu juga ngelamun aja”
       ”Mau cerita apa sih emang, penting ya?” Risa menopang dagunya dengan posisi tepat di depan wajah Reza.
       ”Aku lagi bingung Sa. Susah ya menentukan sebuah pilihan di antara dua pilihan”
       ”Maksudnya?” tanya Risa bingung.
       ”Kamu tau kan Sa cita-cita aku dari kecil itu apa? Aku pengen jadi pilot Sa, nanti kan aku bisa ajak kamu keliling dunia. Tapi Ibu enggak setuju. Ibu lebih setuju kalo aku ambil PMDK di ITB, karena jaraknya enggak terlalu jauh bisa pulang pergi Jakarta - Bandung” Reza menatap Risa, berharap Risa akan memberikan solusi.
       ”Kalo menurut aku sih, kamu turutin apa kata Ibu kamu aja Za, kan kalo kamu sekolah penerbangan di Makassar jauh banget. Nanti yang jagain aku disini siapa?” goda Risa.
       ”Emang aku babby sister kamu pake jagain kamu segala ?” ucap Reza nyolot tapi sambil tertawa kecil.

         Risa tampak murung. Ada gurat kesedihan diwajahnya. Tapi bukan karena ucapan Reza sebelumnya terlebih karena ia takut jika ia akan kehilangan sosok sahabat seperti Reza yang begitu setia mendampinginya baik ketika harinya dipenuhi gelak tawa ataupun ketika harinya dirundung lara. Karena selama enam tahun  terakhir ini, Rezalah yang selalu menjadi penopang Risa di saat Risa rapuh. Entah siapa yang akan menemani harinya jika Reza memilih kuliah di Makassar.
***


         Hari kelulusan itupun tiba. Dengan hati berdebar-debar Reza membuka amplop kelulusan, lalu disusul dengan Risa dan Sisil. Dengan penuh syukur Reza tersenyum girang. Bahwa dalam amplop tersebut jelas tertulis kata LULUS. Risa dan Sisil pun demikian. Jika tak ada orang di sekelilingnya saat itu  mungkin Risa sudah loncat-loncat girang. Reza menatap Risa, keduanya saling pandang. Keduanya begitu tampak bahagia Karena setiap kali kebahagian Risa itu pula yang akan menjadi kebahagiaan Reza, begitupun sebaliknya.

***

        Malam itu..hawa dingin menelusuk hingga menembus tulang rusuk. Bintang-bintang penghias malam pun tak terlihat karena  di telan awan malam. Di teras rumah Risa, Reza mengungkapkan apa maksud tujuannya mengajak Risa bicara.

       ”Sa, aku mau pamit sama kamu. Akhirnya Ibu mengizinkan aku  kuliah di Makassar, melanjutkan pendidikanku di sekolah penerbangan. Besok malam aku berangkat,” Reza begitu hati-hati bicara pada Risa. Karena Reza tahu Risa begitu tidak menginginkan perpisahaan ini.

       ”Wah asyik dong Za nanti kamu jadi pilot, terus aku ikut keliling dunia sama kamu ya  Za,” Risa tersenyum getir, ia mencoba menyembunyikan kesedihannya. Karena ia tak ingin terlihat cengeng didepan Reza.
       ”Besok temui aku di tempat biasa ya Sa. Aku harap kamu datang. Karena aku ingin melihat langit senja sama kamu sebelum aku pergi ke Makassar,” sesaat Risa diam.
       ”Tapi aku ga janji ya Za,” Risa beranjak dari kursi meninggalkan Reza. Sementara Reza menikmati keheningan malam dengan secangkir coklat hangat yang sebelumnya disuguhi oleh Risa.

       Di kamar....Risa menangis pilu, wajahnya sendu. Betapa menyakitkannya perpisahan ini. Risa memandangi fotonya dengan Reza. Enam tahun bukan waktu yang sebentar dalam mengarungi sebuah kisah persahabatan. Persahabatan mereka begitu indah. Seindah angan mereka mengukir mimpi tatkala senja tiba. Reza yang mempunyai mimpi menjadi seorang pilot, sementara Risa ingin menjadi desaigner terkenal. Padahal Risa selalu berharap bisa satu kampus dengan Reza. Namun kali ini cita-cita harus memisahkan persahabatan mereka.

***

       Sore hari, di gedung kosong tempat dimana Reza dan Risa menghabiskan harinya, dengan setia Reza menunggu kedatangan Risa. Ia berharap dapat melihat senja bersama sebelum pergi menuntut ilmu ke Makassar. Sesekali ia melirik arloji yang melingkar di lengannya namun Risa tak kunjung tiba. Sore itu langit beratapkan kilauan warna jingga yang berpendar dengan indahnya, tapi sayang kali ini Reza menikmatinya tanpa ditemani Risa. Saat ia hilir mudik kesana kemari, tak sengaja ia menginjak sebuah kertas. Ternyata kertas itu adalah surat dari Risa. Diambilnya lalu dibacanya surat tersebut,
    
        Reza, sahabat terbaikku. Maaf, aku tak bisa menemuimu. Mungkin kau cukup tahu alasanku mengapa aku tak ingin menemuimu. Aku tak ingin jikalau air mataku jatuh saat aku melepas kepergianmu, itu akan menjadi beban buatmu. Enam tahun melewati hari denganmu begitu indah kurasakan. Tak pernah kutemui sahabat sebaik dan setulus dirimu. Begitu banyak kenangan indah yang telah kita rajut bersama. Apalagi di tempat yang saat ini sedang kau pijak, di bawah naungan langit senja kita menorehkan sebuah cerita. Kisah persahabatan yang penuh dengan kebahagiaan dan kebersamaan, tak jarang juga diwarnai dengan kesedihan ataupun pertengkaran  Namun, kebahagiaan itu lebih nyata dari sebuah kesedihan. 

        Kau yang selalu melengkapi kekuranganku, menjadi penopang dalam sedihku, mengukir tawa dalam hariku.  Aku tak tahu. apa selepas kepergianmu aku masih mampu menginjakkan kakiku diatas gedung itu? Rasanya, aku tak mampu berdiri di tempat itu tanpa kehadiranmu. Hanya aku dan kamu yang dapat membuat gedung kosong yang lama mati itu hidup. Mempunyai sahabat terbaik sepertimu itu adalah hal terindah yang Tuhan titipkan untukku.
      Ketahuilah, cerita kita memang tak sempurna. Namun begitu penuh warna karena pernah ada tangis dan tawa di dalamnya. Semoga waktu tak membuat kita lupa, bahwa pernah ada satu cerita indah diantara kita.

     Reza sahabat terbaikku,
Pergilah meraih impian, aku sebagai sahabatmu hanya bisa mendoakan. Semoga apa yang selama ini kamu cita-citakan kelak akan menjadi kenyataan. Satu pesanku untukmu, bahwa impian itu ada tidak hanya sekedar untuk diimpikan tapi juga untuk diwujudkan. Jika memang ini pilihanmu, jalani. Yakinlah, Tuhan akan mempermudah jalanmu. Senyum terindahku, kuberikan untuk menemanimu pergi sahabatku tersayang.

                                                                                                                                        Sahabatmu,

                                                                                                                                             Risa 

       Reza, terdiam membaca surat dari Risa. Ia tak mampu berkata apa-apa, hanya ada sedikit air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Begitu berat baginya meninggalkan Risa. Risa, sosok gadis periang yang selama enam tahun terakhir ini menyuguhkan tawa dalam harinya kini sedang berduka karenanya.

       Yakinlah Sa, ini hanya sementara. Suatu saat nanti aku pasti akan kembali untuk mengajakmu keliling dunia seperti impian indah kita yang telah  kita ukir bersama di bawah naungan langit senja. Risa, sampai kapanpun kau akan tetap menjadi sahabatku selamanya tuturnya dengan suara parau.








Senin, 06 Februari 2012

Dikejar Orang Gila


Pada saat itu aku telah menginjak masa dimana kebanyakan orang berkata bahwa masa-masa SMA itu adalah masa masa yang paling indah. Seperti biasa aku selalu pulang sekolah bersama dua orang sahabatku Putri dan Citra karena memang rumah kami saling berdekatan. Dan kebetulan kami bertiga telah menjalin Persahabatan sejak kami duduk di bangku Sekolah Dasar. Pulang sekolah bersama kedua sahabatku tercinta adalah hal yang sangat menyenangkan. Di tambah lagi dengan suasana yang mendukung. Sepanjang jalan di hiasi dengan hijaunya pohon-pohon rindang sehingga membuat udara begitu terasa sejuk. Dan akupun selalu terkagum-kagum melihat kekuasaan Tuhan saat petang akan menjelang karena keindahan senja yang kemerah-merahan begitu menakjubkan. 

Canda tawa selalu menemani Aku, Putri dan Citra. Sesekali kami selalu membuat semua mata tertuju pada kami karena mungkin suara tawa kami bertiga yang telah menggemparkan Dunia. (Alah.lebay ya?hehehe :p)

Tapi ketika sudah sampai di penghujung jalan rasa mendebarkan itu selalu datang tiba-tiba…
“Heh udah lama ya kita enggak liat si Encep?” tukasku tersenyum.
“Iya ya kemana ya dia???” ujar Putri dengan raut wajah yang seolah-olah kehilangan.
“Cieeeeee..si Putri kangen katanya tuh sama yayangnya hahaha,” canda Citra pada Putri.
“Sebut nama dia tiga kali deh pasti nanti dia muncul Encep..Encep..Encep..hehe”
“Kaya jelangkung aja hehe. Ya mudah-mudahan aja ga ada..amin”

Aku dan Putri trus berjalan sambil berbincang masalah pelajaran sekolah hari itu tapi aku tak melihat Citra di sampingku. Aku pun menoleh ke belakang dan  melihat Citra begitu sangat  ketakutan.
“Itu…itu… sambil menunjuk ke depan” Aku dan Putri diam tercengang. Saat kucoba mengembalikan pandanganku ke depan, ternyata, Oh tidakkkk !!! Dia…si ganteng kalem (Eits masih tanda tanya loh???) sosok yang tak pernah berhenti tersenyum dengan jendela terbuka pada giginya(alias ompong. Hehe), Tatapan matanya yang begitu tajam, dengan rambut yang selalu berantakan dan pakaian compang camping itu-itu saja yang selalu ia kenakan. Ya dia adalah “ENCEP” orang gila yang sedang naik daun di daerahku (Justin Bieber aja kalah terkenalnya ) ia melambai-lambaikan tangannya kearah kami bertiga. Keberadaannya semakin mendekat ke arah kami. Dengan rasa takut yang luar biasa disertai peluh dingin yang bercucuran, sontak saja tanpa pikir panjang dan aba-aba dengan saling berpandangan satu sama lain Aku, Putri dan Citra mengeluarkan jurus terjitu menghadapi Manula (Manusia gila.hehe) seperti dia.
“lariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii” Tapi Si Encep terus mengejar kami bertiga.

Kami pun lari terbirit-birit seperti di kejar-kejar penjahat dalam film action. Tapi lucunya kami bertiga lari menuju arah yang berbeda. Dengan nafas yang terengah-engah aku berlari sekencang-kencangnya tanpa memeperhatikan apa yang ada di sekelilingku. Tukang es keliling pun hampir  aku tabrak. Kerumunan ibu-ibu yang sedang bergosip ria di sore itu pun merasa heran dengan tingkahku. Akhirnya setelah perjalanan panjang berlari dengan jarak yang lumayan jauh. Pohon mangga pun mempertemukan kami kembali Setelah merasa cukup aman aku pun mencoba mengatur nafasku. Sementara Putri dan Citra tertawa terbahak-bahak saat mengingat kejadian tadi. Apalagi kalo udah liat tampangnya si Encep yang yang senyum-senyum sendiri…hahahaha. Hem, aduh capek banget tuh orang gila uda bikin kami sport jantung. 

“Kamu sih ah tadi pake nyebut nama dia tiga kali segala jadi kan tuh makhluk menakutkan beneran muncul” ucap Citra menyalahkanku tapi dengan nada bercanda.
“Hahaha…aku kan tadi bercanda eh taunya malah beneran.”
“Wah gokil seru juga ya ternyata di kejar-kejar orang gila. Tadi aku sempet ngumpet di halaman rumah orang untung aja gak ada yang liat. Pengen lagi…hahaha” ujar Putri yang tertawa terpingkal-pingkal.
“Ah ga lagi-lagi deh capek tau. Tapi seru juga sih..hehehe”.
“Iya seru, lucu . Daripada di kejar anjing hayo mau pilih yang mana sama di kejar orang gila?” citra pun menimpali.
“Kalo aku sih ogah dua-duanya. Kamu aja ya Cit sendiri..hehee “
Aku, Putri dan Citra pun tertawa lepas saat mengingat kejadian lucu sekaligus menengangkan tadi sampai kami tak henti-hentinya tertawa (wah jangan-jangan virus gilanya si “Encep” sudah menjalar pada kami, Ups jangan sampe deh..hehehehe…).
Aku, Putri dan Citra melanjutkan perjalan pulang sampai kami tiba di rumah saat adzan magrib berkumandang.
Hemmm….hari itu sungguh menyenangkan dan menegangkan ”Dikejar orang gila” adalah pengalaman yang paling menggelitik dalam hidupku. Dan sampai sekarang aku selalu tersenyum sendiri jika mengingat kejadian itu…tak terlupakan deh hehehehe :)

Sabtu, 04 Februari 2012

Indahnya Persahabatan

The Virgo (Nia, Uje, Aini, Wulan)
Rukmana, Uzi, Bayu, Iqbal, Safitri, Aini, Revi
Aini, Revi, Tami, Nindri, Hety, Dessy, Dea




                                        

Jumat, 03 Februari 2012

Gara-gara Poconggg juga pocong


Sepulang sekolah seperti biasa empat sekawan aku, Inez, Uzi, dan Agil mampir terlebih dahulu di saung Mang Ucup, menikmati semangkuk mie ayam bakso yang hemmmm lezatnya mengalahkan mie ayam baksonya cheff Farah Queen (Hahaha lebay ya kaya pernah nyobain aja?). Siang itu, awan mendung menghiasi langit Bogor. Desiran angin kencang pun menampar pipiku dengan lembut, langit sudah terlihat gelap sekali pertanda akan turun hujan.

“Heh para ladies, lama banget sih lo berdua makannya? Cepetan dong liat tuh udah gelap banget mau ujan?” Gerutu Uzi kesal .
“Apa perlu gue bantuin biar cepet abis?” ujar Agil menawarkan diri, alhasil kamus bahasa inggris setebal 200 halaman milik Inez pun mendarat sadis di pipinya, Plaaaaaaaaaaaaaaak !!
“Uhh maunya, kalo cewek ya gini makan juga harus anggun enggak seradak-seruduk kaya lo !”
“Gapapa, ditabok pake kamus tebel sama Inez sayang daripada gue di cium si Uzi,” Agil melirik sinis ke arah Uzi.
Aku dan Uzi hanya memandang tingkah konyol mereka sambil tertawa geli,
“Udah yuk ah..ayo Nez cepetan,”ajakku.

Kami berempat berjalan beriringan keluar dari saung Mang Ucup, angin begitu kencang hampir saja merobohkan tubuh kami, tiba-tiba sebuah kertas dari arah selatan plaaaaaak menutupi seluruh bagian wajah Agil.

“Eh, eh, eh..apaan nih, sialan? Asemmm!!!”
“Hahahaha..angin aja tau kalo muka lu tuh jelek Gil, makannya lebih bagus kalo ditutupin pake kertas,” ledek Uzi puas.
Kami melihatnya sambil tertawa terbahak-bahak. Kemudian Agil mengambil kertas tersebut lalu membacanya. Sebuah pamflet,”Pembukaan bioskop baru, edisi spesial tahun baru. GRATIS..tempat terbatas. Film poconggg juga pocong, waktu : midnigth”
“Sini coba gue liat pamfletnya?” Inez merebut kertas yang sedang dibaca Agil.
“Wah mantep nih. Ini kan film yang di adaptasi dari novel fenomenal sepanjang 2011, gretongan lagi. Ayo ah kawan kesempatan enggak datang dua kali?”
“Hah yakin lo pada mau datang? Gue enggak ikut ah mendingan gue taun baruan di rumah aja. Lagian tengah malam bo, entar kalo di jalan ketemu pocong yang benerannya gimana coba? Hihhh gue sih ogah” kataku sambil bergidik ngeri.
“Ah ayo lah Ai, plis ya, ya, ya? Kan kita berempat Agil sama Uzi juga ikut ko?”
“Tapi...”
“Tenang Aila sayang, Bang Agil akan selalu disampingmu kalo kamu ketakutan,” ujar Agil mengerlingkan mata sambil nyengir kuda.
“Tuh kan Ai, si Agil yang bakal jagain lu jadi enggak usah takut” Inez malah cekikikan.
“Oke deh,” aku pun hanya menganggukkan kepala seraya mengiyakan ajakan mereka, walaupun apa yang aku katakan tak sejalan dengan hati yang masih bimbang.

****

Malam pergantian tahun baru sangat meriah, karena hingar bingar suara tiupan terompet, suara petasan jeduarrrrrrrrr jeduarrrrrrrrr, kembang api yang berwarna-warni menghiasi langit malam ini.
Pada kemana tuh makhluk-makhluk jam segini kok belum pada datang? ketika aku melilahat arloji yang melingkar di lengan kiriku waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Aku memutuskan untuk duduk di teras rumah sambil menyeruput caffucino hangat.

Selang beberapa menit kemudian Agil datang dengan Vesva tuanya yang super berisik . di belakangnya diikuti Uzi membonceng Inez dengan motor kawasaki ninja hijaunya.
“Lo berdua pake minyak apaan sih ko bau menyan gini?” candaku pada dua makhluk aneh Uzi dan Agil.
“Yee sembarangan, parfum gue mahal tau, sengaja gue tadi waktu sore beli di LA” ujar Uzi sambil mengibas-ngibaskan kemeja bergaris hitamnya.
“Iya Lenteng Agung kan maksud lo?? Wuhahahaha” lagi-lagi Agil dan Uzi saling ledek-ledekan.
“Daripada lo pakenya minyak nyong-nyong?”
“Uda ah ribut mulu nih anak berdua, mana pamflet yang tadi siang? Gue liat alamatnya?” tukas Inez melerai candaan keduanya, Agil pun mengambil pamflet tersebut dari dalam tasnya
“Jln. Jendral sudirman. No 27 A,” dengan suara keras Uzi membacanya.
“Ahaa gue tau alamat ini, eh tapi tunggu dulu. Perasaan ini alamat rumah tua di pinggir jalan yang udah lama enggak berpenghuni deh?”
“Kan sekarang udah di bangun jadi bioskop yang baru kali?” seru Inez sedikit sewot.
“Eh iya ya?” ujar Uzi sambil garuk-garuk kepala.
“Si Uzi dodolnya emang susah banget disembuhinnya, hahaha” Celetuk Agil.
“Wuuuu enak aja, lo tuh yang pedenya berlebihan,” Uzi menjitak Uzi lumayan keras, sementara Agil mengaduh kesakitan. Aku dan Inez hanya menggeleng-ngelengkan kepala melihat tingkah konyol keduanya.

Kami berempat pun berangkat dari rumahku pukul setengah dua belas malam, aku di bonceng oleh Agil, sementara Innez di bonceng oleh Uzi.

***

Jalanan begitu sangat ramai, muda-mudi berpesta pora menyambut datangnya taun baru 2012, akan tetapi kenapa saat kami tiba di depan bioskop baru ini suasana tampak begitu sunyi, Tak terlihat satu orang manusiapun disana. Hanya ada beberapa motor yang terparkir rapih.

“Heh, lo yakin mau ngelanjutin ini? Ko gue merinding ya?” kataku sambil nengok kanan-kiri.
“Ah, cuma perasaan lo aja kali Ai, dasar ababil” ujar Agil menimpali.

Agil dan Uzi memarkirkan motornya, sementara aku dan Innez menunggu di depan pintu Bioskop. Hawa dingin malam menelusuk hingga ke tulang rusuk, aku bergumam dalam hati, mau nonton film horror kenapa suasananya jadi horror gini ya? Sepi...sunyi..ah mungkin para penontonnya sudah masuk studio lebih dulu jadi di luar terlihat sepi, hiburku dalam hati.

Uzi dan Inez, pergi ke tempat pembelian tiket. Terlihat dua wanita cantik, sedang berbincang. Uzi menyerahkan pamflet yang kami dapat siang tadi pada wanita berbaju kuning gading itu.
“Mba, apa pamflet ini bener ya mba? Kita mau nonton film poconggg juga pocong disini tertera gratis mba?”
“Oh ia betul..silakan mas, ini tiketnya. Masuk studio 1. Dari sini lurus terus, lewatin lobi terus belok kiri,”
“Makasih mba,” wanita cantik itu melempar senyum pada kami.

Kami berempat pun mengikuti jalan sesuai yang diarahkan wanita tadi. Tapi kok ini bioskop baru sepi banget ya?.Aura ketakutan pun mulai menjalari tubuhku. Di atas sebuah pintu tertera tulisan studio 1. Kami berempat memasuki ruangan tersebut. Mataku menyapu ke segala arah, ternyata semua kursi sudah terisi dan pemutaran perdana film poconggg juga pocong pun sudah dimulai.

“Eh nomor berapa kursinya, ko udah penuh banget ya?” tanya Uzi heran.
“Nomor F5,F6,F7,F8” jawabku sambil melihat nomor yang tertera pada tiket.
“Eh guys, udah penuh semua kursinya kayaknya kita harus balik nanya ke Mba yang tadi deh”
Kami menuruti saran Agil, sesampainya di tempat pembelian tiket...
“Ada yang bisa kami bantu mas?” tanya wanita cantik itu.
“Gini loh mba nomor kursi yang tertera pada tiket yang Mba kasih sudah terisi, semua kursi yang lain juga udah pada penuh, gimana dong?” dua wanita cantik si penjual tiket itu saling pandang, kebingungan.
“Kalian enggak lagi becanda kan? Yang pesen tiket midnight untuk studio 1 itu cuma kalian doang?”
“Te te te russs..yang tadi pada nonton si siapa dong?” tanyaku terbata-bata.
“Ha ha ha hantuuuuuuuuuuuuu...” Tebak Agil sekenanya, kemudian ia berlari sekencang-kencangnya diikuti oleh aku dan yang lainnya.

“Eh tunggu Gil lo mau kemana? Bukan kesitu jalannnya” teriak Uzi. Agil memutar badan berbalik arah. Ya Tuhan, kenapa disaat genting seperti ini pintu utama terasa jauh sekali. Kami berlari terengah-engah, sepertinya bioskop ini memang banyak hantunya. Aura angkernya pun sudah mulai terasa sejak di halaman parkir. Sungguh petualangan yang sangat menegangkan, dalam suasana mencekam kami berlarian ditengah gedung bioskop baru yang sunyi.
“Eh stop dulu dong gue pengen ke toilet,” Uzi menghentikan langkahnya seketika.
“Yah elah, tahan aja sih cuma bentaran doang? Tuh pintu utamanya” Agil menunjuk pintu utama.

Akhirnya sampai juga kami di luar gedung angker ini..
“Ih kalo tau bakal kayagini sih gue enggak bakalan mau datang ke bioskop berhantu ini, jangankan bayar dikasih gratis aja gue enggak mau ,” gerutu Inez sambil mengibaskan rambut panjangnya.
“Bukannya lo yang dari tadi siang ngotot pengen datang kesini? kata gue juga apa, dari awal juga gue udah ada firasat enggak enak?” ujarku menyalahkan Inez.
“Ko pada salah-salahan sih? Nih pegangin helm gue. Gue mau ngambil motor, kita jalan ke alun-alun aja?” Agil menyerahkan helm nya padaku.
“Sial, sial, sial gue tahun baruan di alun-alun kagak malah ketemu hantu,” ujar Agil kesal.
“Hahaha..konyol banget ya kejadian malam ini. Gara-gara si Inez nih ngebet banget nonton film poconggg juga pocong, untungnya kagak ada pocong benerannya ya..haha,” ujar Uzi sambil tertawa terpingkal.
“Husss..sembarangan lo kalo ngomong, ada beneran aja baru nyaho lo?” Agil membekap mulut Uzi.
Agil sibuk menggeserkan motor-motor lain untuk mengeluarkan motornya. Sementara Uzi sibuk menengok kanan kiri. Karena ia teringat ucapan Agil barusan tentang pocong.
Dari arah belakang,
“Zi, iketin tali pocong gue dong?”
“Ah, Gil becanda mulu lo, tali sepatu kali?...enggak lucu tau enggak?”
“Serius,” suara itu pun terasa lain bukan seperti suara Agil. Seperti suara om-om.

Tiba-tiba bulu kuduk Uzi terasa merinding, hawa dingin pun menjalari tubuhnya. Peluh dingin bercucuran. Dengan perasaan takut bercampur ingin tahu sambil komat-kamit ia memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.
Oow ternyata yang ada di belakang Uzi itu memang pocong beneran, ia pun lari terbirit-birit sambil berteriak pocong.........pocong......pocong.........ke arahku dan yang lainnya.
“Su su sumpah, disana gue liat pocong beneran..ce ce cepet kita cabut dari sini?” ajak Uzi pada kami.
“Kata gue kan tadi apa? Jangan ngomong sembarangan, ketulah sendiri kan? Hahaha” Agil tampak puas sekali mentertawakan Uzi. Sementara aku dan Inez, antara takut dan ingin tertawa, jadi bingung mau gimana. Dari kejauhan di dekat mobil Toyota Alpharrd, Aku juga melihat pocoooooooooooong.

Seketika kami yang masih berada di halaman parkir bioskop pun langsung tancap gas. Cukup sekali dalam hidupku nonton film di bioskop tengah malam. Perasaanku campur aduk antara lucu, takut, kesal. Malam tahun baru yang seharusnya kuhabiskan dengan suka cita justru menjadi malam yang sangat menyeramkan sekaligus menegangkan dalam sepanjang sejarah hidupku. Petualangan konyol bareng Uzi, Inez, Agil enggak akan pernah terlupakan, tahun 2011 is the best deh, semoga taun depan aku masih bisa melewati malam pergantian tahun baru lagi sama tiga sahabatku ini dan pastinya, enggak di bioskop berhantu ini...hehe.

Jumat, 20 Januari 2012

Happy Birthday Kaaa..


Happy birthday ya ka...

Kaka.......... tau ga? Akhir-akhir ini mood nulis ai buruk banget. Malah sempet terbesit ai gak mau nulis lagi cuma gara-gara masalah hati. Heeemm cemen banget ya ai ka? Padahal kaka ga pernah ngajarin ai buat gampang putus asa. Entah kemasukan roh apa ai jadi gampang nyerah gini ..hoho Oya, tahun 2011 kemarin ai punya 8 buku antologi loh ka 5 buku udah terbit n 3 buku lagi masih dalam proses terbit ya walaupun bukunya masih keroyokan bukan buku sendiri. Kaka beli doooong kalo ai punya novel sendiri baru ai kasih gratis spesial buku ai buat kaka, hehe.
Kalo ga diceramahin kaka mungkin ga akan pernah tulisan ai dimuat di beberapa buku sama penulis hebat lainnya. Makasih ya ka, semua ini karena omelan + nasihat yang banyak kaka ajarin sama ai, Kaka berperan besar dalam metamorfosis karir menulis ai. Jika diibaratkan ai yang dulunya hanya sebuah kepompong kemudian menjadi ulat yang sama sekali ga ada artinya sekarang ai udah jadi kupu-kupu yang indah. Karena seperti motivasi yang sering kaka bilang sama ai, Terbanglah peri kecilku karena kini kau telah bersayap, karena segenap suka, duka, cinta dan bahagia tlah kuletakkan dalam setiap kepakan sayapmu . Dan satu hal yang harus kaka inget juga, setinggi apapun aku terbang aku takkan pernah lupa untuk melihat kebawah. Intinya ai ga kan pernah lupa sama kaka kalo seandainya nanti ai jadi penulis terkenal..hehe
Tentang novel yang pernah ai janjiin, maaf banget ya ka taun ini harus kepending lagi. Abis kakanya juga sih akhir-akhir ini suka timbul tenggelam. Datang tak di jemput pulang tak di antar, kan repot jadinya. Ai ngerasa, persahabatan ai sama kaka juga udah beda banget. Kaka yang ai kenal sekarang bukan kaka yang ai kenal dulu. Bener ya apa yang di bilang motivator di sebuah seminar yang pernah ai hadiri , kalo godaan terbesar bagi seorang pria adalah wanita, tahta dan harta. Semenjak kaka punya pacar, ai ngerasa jauuuuuuuuuuuuuh banget sama kaka. Ibarat ai di bumi kaka di planet lain. Jauh banget kan? Susah buat ai jangkau. Mungkin kali ini ai harus setuju sama apa yang di bilang The changcuters, kalo wanita itu racun dunia. Tapi ai juga kan wanita ya? Ah bingung jadinya gatau ai juga (Pasang wajah polos, Ga jelas :D). Padahal biasanya orang yang pertama baca karya-karya sederhana ai itu ya kaka. Sekarang?? Mungkin buat di liat judulnya aja ga sempet karena ai tau kaka sekarang sibuk, udah punya dunia sendiri n ga mungkin juga kaka terus-terusan ngurusin ai hiks hiks... Tau ga ka? sekarang ai udah biasa nulis sendiri, ga bergantung sama kaka lagi, dicuekin sama kaka bikin ai jadi mandiri. Emang selalu terselip hikmah ya dibalik rencana-Nya. Pastinya hidup kaka juga tentunya akan lebih aman, damai dan sentosa tanpa ai yang suka ngerecokin n nyusahin kaka. Inget ga sih ka pertama dulu kaka kenal ai? Ai msih unyu-unyu, dong-dong lagi sekarang ai udah pinter nyeramahin kaka dooong, kaka aja panggil ai aini ahira..hehe
Loh ko jadi curhat gini ya, sampe lupa tujuan utama ai nulis ini apa. Oia hari ini kaka ulang tahun ya, mana kadonya buat ai? (Plakkkk !! loh kebolak ya..haha), Kakanya tambah tua jangan ngaku unyu-unyu lagi ya, inget umur hehe. Happy birthday ya kaka...ini ulang tahun ketiga selama ai kenal kaka. Ai letakkan harapan ai buat kaka dalam partikel doa, semoga kaka senantiasa diberi kesehatan, bisa tercapai segala cita-citanya, dimudahkan segala urusannya, dilancarkan rezekinya, dijauhkan dari segala marabahaya. Apalagi ya? Hemm yang paling penting, Tuhan, aku mohon jaga sang pendorong impianku ini ya..karena sebagian semangatku ada di dirinya .
Udah dulu ya ka...capek ai ngetiknya, ai mau belajar besok masih uas. Doain ai ya...semoga lancar uasnya, semangat lagi nulisnya..amin amin amin :D
Sampe ketemu lagi di tulisan ai buat ulang tahun yang ke 4 itupun kalo ai masih dikasih kesempatan eksis nulis lagi.

Sabtu, 31 Desember 2011

ANDAI SAYA MENJADI ANGGOTA DPD-RI? - Mengutamakan mereka yang terpinggirkan


Hemm, jadi anggota DPD RI? memang tak pernah sedikitpun terlintas dalam benak saya, karena cita-cita terbesar saya adalah saya ingin mendunia lewat tulisan-tulisan saya yang dapat menginspirasi orang lain. Namun, jika Tuhan menakdirkan demikian kenapa tidak? Saya akan mengemban amanah itu dengan baik.
Banyak sekali sederetan rencana yang akan saya wujudkan jika saya terpilih menjadi anggota DPD RI, diantaranya :

Yang pertama, saya akan membenahi tata letak kota yang terkesan semrawut agar terhindar dari kemacetan, memperbaiki jalan- jalan yang rusak, serta menyediakan sebuah lahan untuk pedagang-pedagang kecil.

Yang kedua, saya ingin mendirikan rumah-rumah layak huni untuk warga, karena di daerah sekitar saya, masih banyak rumah yang beratapkan seng-seng yang sudah usang dan bilik-bilik yang sudah rapuh. Saya khawatir jika rumah tersebut tetap dipergunakan dan sewaktu-waktu roboh akan menimbulkan korban.

Yang ketiga, saya ingin mendirikan sebuah yayasan pendidikan yang akan saya beri nama rumah impian. Dimana rumah tersebut akan saya pergunakan untuk menaungi anak-anak jalanan yang tidak beruntung dalam hal pendidikan. Karena mereka juga mempunyai hak yang sama seperti anak-anak lain yang kelak akan memimpin negeri ini, membawa Indonesia menuju ke arah perubahan yang lebih baik.

Yang keempat, saya akan mendirikan sebuah lapangan pekerjaan untuk meminimalisir pengangguran . Lapangan pekerjaan tersebut tidak akan saya batasi jenisnya. Tapi disini saya akan memberikan kebebasan sepenuhnya pada masyarakat untuk berkreasi. Misalnya dapat berupa hasil kerajinan tangan, industri rumahan, saya yang akan menyiapkan sarana dan prasarananya. Untuk pengelolaannya saya serahkan rembukan dari masyarakat sekitar.`

Yang kelima, saya akan mengajak teman-teman saya di jajaran anggota DPD untuk turun langsung ke masyarakat, dan mengajak mereka untuk meyumbangkan sebagian pendapatan mereka dengan seikhlasnya untuk membantu sesama. Karena pendapatan lebih yang Tuhan titipkan untuk kita adalah sebagiannya milik mereka yang membutuhkan.
Semoga apa yang saya tuliskan disini suatu saat nanti dengan ijin Sang Maha pemeluk impian dapat saya wujudkan. Karena jika saya berani memimpikannya, maka saya juga harus berani untuk mewujudkannya.

Minggu, 11 Desember 2011

Anggunnya Jilbabmu

Wanita itu tercipta dengan sifat kelembutan hati dan jiwa, itulah kodrat seorang wanita. Alangkah indahnya ketika wanita solehah diibaratkan laksana teratai yang mekar di telaga madu. Permata yang senantiasa bersinar walau berada di kubangan lumpur sekalipun. Ia mempunyai akhlak dan pribadi yang begitu cantik. Cantik di mata Allah tidak di nilai berdasarkan paras rupa. Tetapi cantik di hadapan Allah itu ternilai dari hati yang senantiasa berada dalam tuntunan syariat-Nya.

”Dunia ini adalah perhiasan dan seindah-indahnya perhiasan dunia adalah wanita sholehah ”(HR.Muslim). Sungguh begitu mulianya Allah SWT menciptakan seorang wanita dengan segala kelebihan yang Allah berikan. Sejak seorang wanita mencapai masa akil baligh, Wanita di wajibkan menutup aurat seluruh tubuhnya terkecuali bagian wajah dan telapak tangan. Begitu jelas seruan Allah kepada wanita untuk menutup aurat yang tertuang dalam Al-Qur’an:

”Katakanlah kepada wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami merekaatau ayah mereka, atau putera-putera merka, ayah suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara mereka, atau putera-putera saudara mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka atau wanita-wanita islam atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung(An-nuur:31).
Sedangkan Firman Allah yang lain menjelaskan :

”Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(Al-Ahzab:59)

Perbedaan wanita yang mengenakan jilbab dan tidak sungguh terlihat jelas. Seperti halnya saat seorang wanita berjalanan di kerumunan orang banyak, seringkali orang-orang yang berada di tempat itu mengucapkan ucapan salam yang merupakan do’a. Sedangkan yang tidak mengenakan jilbab dengan pakaian serba terbuka, mereka kerap kali di ganggu dengan godaan-godaan kaum adam yang begitu mengganggu ketentraman jiwa.

Yang tertutup itu akan terlihat jauh lebih indah. Jika kita mempunyai sebuah buku, Buku yang tersampul rapih akan lebih terlihat menarik dibandingkan dengan buku yang tidak bersampul. Itulah penggambaran seorang wanita yang mengulurkan jilbab sebagai penutup kepalanya. Akan tetapi, saat kita telah menunaikan kewajiban kita untuk menutup aurat, hendaknya, apa yang sudah menjadi prinsip kita peganglah dengan teguh. Dengan tetap menjaga hati dan pandangan semata-mata hanya karena Allah. Karena cantik pada parasmu akan hilang seiring berjalannya waktu. Akan tetapi, cantik pada hatimu takkan pernah lekang sekalipun sang waktu telah meninggalkanmu.

Fenomena jilbab gaul yang kini sedang menjadi trend di Indonesia sungguh sangat disayangkan. Memakai Jilbab hanya untuk tuntutan trend semata. Mengenakan penutup kepala tapi pakaian yang ia kenakan terlihat tampak jelas lekukan tubuhnya.
Rasullullah SAW bersabda :

”Antara penghuni-penghuni neraka ialah wanita yang memakai baju tetapi masih bertelanjang, menggodai dan digodai, mereka ini tidak akan masuk syurga malah bau syurga pun tidak akan sampai kepada mereka.”
Jilbab yang dikenakan haruslah menyembunyikan mahkota diri, laksana sekuntum mawar berduri, yang terlihat cantik dengan duri. Bukan untuk menyakiti tapi untuk mejaga diri akar kelak di izinkan ilahi menghiasi taman firdausyi.

Alangkah indahnya ketika jilbab itu di ulurkan ke segenap tubuh yang telah Allah tentukan, di sertai dengan pancaran akhlak mulia. Maka terlihat anggunlah si wanita yang insya Allah atas izin Sang Maha Pencipta di jadikan bunga pengharum taman syurga bagaikan haruman mewangi dari kuntuman kasturi.

Sabtu, 10 Desember 2011

Hanya Ada Satu Arah

Hari berganti dan kita tetap tidak mengerti, apa yang sebenarnya kita cari dan ingini. Pencapaian yang tampak begitu membanggakan adalah jebakan tak berkesudahan akan keinginan yang lebih lagi. Jika mampu kita ingin mereguk yang lebih melimpah,lebih mewah,lebih indah dan sejuta lebih lebih yang lain. Dalam bilangan tak terhingga tanpa kenal batas tepi. Dan bukankah memang akan selalu begitu, keadaan penghamba dunia?
Kemudian kita melupakan hal yang paling asasi; mengenal dan mencintai Allah. Pondasi utama dari sebuah tugas besar dan tujuan penciptaan; beribadah kepada-Nya. Berbakti, mengabdi, pasrah dan menyerah sepenuhnya. Yang keberadaannyalah esensi dari keberhasilan dan rasa kenikmatan. Dan kehilangannya meniscayakan kegagalan dan hampa akan semua yang bisa dirasakan.

Minggu, 16 Oktober 2011

Nikmatilah Perbedaan......

Perbedaan adalah anugrah dari
Yang Maha Kuasa!

Lihatlah sekeliling kita, indahnya
warna-warni bunga, warna-warni satwa,
dan segala keragaman lain yang
menghiasi dunia.

Bayangkan kalau kita hanya mengenal
warna hitam saja! Alangkah gelapnya
dunia ini! :-)

Tanpa adanya perbedaan dan warna-warni,
kita tidak akan merasakan hidup
semeriah dan seindah sekarang ini,
betul?! :-)

Begitu pun dengan kehidupan, setiap
insan selalu berhadapan dengan segala
macam perbedaan dan warna-warni
kehidupan.

Tapi sayang, tidak semua orang mampu
melihat perbedaan sebagai kekayaan.
Banyak orang merasa tersiksa karena
perbedaan alias mereka tidak mampu
menikmatinya.

Berbagai bentuk kejahatan dimulai hanya
karena perbedaan. Entah itu perbedaan
warna kulit, agama, suku bangsa,
prinsip, atau sekadar pendapat.

Sebenarnya, perbedaan bukanlah sesuatu
yang bisa dihindari. Setiap orang lahir
dengan perbedaan dan keunikannya
masing-masing. Mulai dari perbedaan
fisik, pola pikir, kesenangan, dan
lain-lain.

Tidaklah mungkin segala sesuatu hal sama.
Bahkan kesamaan pun sebenarnya tidak
selalu menguntungkan.

Coba bayangkan, seandainya semua orang
memiliki kemampuan memimpin, lantas
siapa yang mau dipimpin? Kalau semua
orang menjadi orang tua, siapa yang mau
jadi anak? Siapa juga yang akan
menerima sedekah, jika semua orang
ditakdirkan kaya?

Perbedaan ada bukan untuk dijadikan
alat perpecahan. Banyak hal positif
yang bisa kita peroleh dengan perbedaan.
Namun, tentu saja semua itu harus
bersyarat. Nah, syarat apa saja yang
harus dipenuhi?

Berikut di antaranya...

1. Cara pandang kita terhadap perbedaan.

Berpikirlah positif dengan mensyukuri
adanya perbedaan. Anggaplah perbedaan
sebagai kekayaan. Cara pandang yang
benar akan melahirkan sikap yang tepat.

Ada baiknya kita mencari persamaan
terlebih dahulu, sebelum mencari
perbedaan.

2. Kelola perbedaan sebaik mungkin.

Musyawarah untuk mencapai kesepakatan
adalah jalan yang tepat untuk mengelola
perbedaan.

Berlatihlah utk menghargai, menerima,
menjalankan dan bertanggungjawab
terhadap keputusan bersama, meski
berlawanan dengan ide awal kita.

3. Selalu posisikan segala sesuatu
pada tempatnya.

Saat bekerja sama dengan orang lain,
salurkan potensi, karakter, minat yang
berbeda-beda pada posisi 'yang tepat'.

Cara ini akan mendorong tercapainya
tujuan bersama dan mendukung
pengembangan potensi masing-masing
individu.

4. Jangan pernah meremehkan orang lain.

Apapun dan bagaimana pun kondisi atau
pendapat orang lain, perlakukan mereka
selayaknya diri kita ingin diperlakukan.

Anggaplah semua orang penting. Mereka
memiliki peran tersendiri, yg bisa jadi
tdk bisa digantikan oleh orang lain.

5. Jangan menonjolkan diri atau sombong.

Merasa diri paling penting dan lebih
baik daripada orang lain *tidak akan*
menambah nilai lebih bagi kita. Toh
kita tidak bisa hidup tanpa orang lain.

Jadilah beton dalam bangunan. Meski
tidak nampak, namun sesungguhnya ialah
yang menjadi penyangga kokohnya sebuah
bangunan. :-)

6. Cari sumber informasi yang terjamin
kebenarannya.

Perbedaan bisa muncul karena informasi
yang salah. Oleh sebab itu, pastikan
sumber informasi kita bisa terjamin dan
dapat dipercaya kebenarannya. Lebih
bagus lagi jika disertai bukti yang
mendukung.

7. Koreksi diri sendiri sebelum
menyalahkan orang lain.

Menyalahkan orang lain terus menerus
tidak akan banyak membantu kita. Bisa
jadi kesalahan sebenarnya terletak pada
diri kita. Karenanya, koreksi diri
sendiri terlebih dahulu merupakan
langkah yang paling bijaksana.

So, berhentilah menyesalkan perbedaan.
Karena jika tidak, kita akan
kehilangan sumber kebahagiaan! :-)

Kamis, 25 Agustus 2011

Renungan Cinta

Renungan Cinta

oleh : Aini Nur Latifah





Biar hujan melanda, makna cinta tetap terurai nyata

Meski tak bisa di urai maknanya..





Sayup-sayup rintik hujan membasahi pekarangan rumah Bunga petang itu. Air hujan mengendap di jendela kaca kamar bunga, membuat samar-samar menghalangi pandanganya.



Hujan membuat acara pertemuannya dengan Raka berantakan karena Umi tidak mengijinkannya untuk pergi di tengah hujan seperti ini. Ia pun memutuskan untuk mengurung diri di kamar. Karena bosan, di bukanya jendela kaca kamarnya. Tangan lembut gadis cantik itu di ulurkannya hingg menyentuh butiran-butiran hujan.



Sambil menopang dagu ia memainkan hujan dengan jari jemarinya. Padahal hari ini ia sudah merancang rencana bersama Raka yang sudah dua tahun terakhir ini mengisi hatinya untuk membantu tugas kuliahnya di Kafe Buku yang terletak tidak jauh dari rumahnya.



Dari dalam kamar ia menatap warna warni bunga krisan yang menghiasi taman halaman rumahnya. Sepintas ia melihat seorang lelaki berperawakan tinggi dan mengenakan jaket cokelat yang sudah tidak asing lagi dilihatnya. Ya, lelaki itu adalah Raka. Sorotan mata gadis itu terlihat berbinar meski melihat raka dalam radius yang cukup jauh.



Bunga begitu terlihat tampak anggun dengan balutan rok, dan atasannya lengkap dengan penutup kepala berwarna merah marun. Ia tidak lagi menekuk wajahnya. Bunga begitu tampak riang.



Baru saja selangkah beranjak dari pintu kamar Umi memanggil Bunga.

”Mau kemana sayang hujan-hujan begini, cantik banget lagi anak Umi?” Bunga mengulum senyum.

”Ada Raka di luar Umi. Tenang aja Bunga enggak akan kemana-mana ko. Cuma ngobrol depan teras rumah aja. Boleh kan Umi?” Umi mengangguk pelan diiringi senyuman.



Raka berjalan ke arah Bunga. Bunga menyambut Raka di depan pintu rumahnya dengan senyum yang begitu hangat. Meski pertemuan mereka setiap bulan hanya berlangsung dalam hitungan jari, tapi keduanya sudah saling mengerti. Karena Raka harus pulang pergi Bandung-Surabaya untuk menyelesaikan program S1-nya sementara Bunga, karena ia anak satu-satunya mau tidak mau ia harus mengikuti perintah orangtuanya untuk kuliah tetap di kota kelahirannya.



Mereka tidak seperti sepasang kekasih pada umumnya, pacaran, nonton berduaan ataupun jalan-jalan. Keduanya lebih senang menghabiskan waktu dengan saling bertukar pikiran, berbagi cerita ataupun hanya sekedar melepas rindu dengan canda tawa yang mereka ciptakan.



Keduanya duduk saling berhadapan di teras rumah. Bunga membawa dua gelas minuman hangat dan dua toples cemilan. Disapanya Raka dengan lembut,

“Hei Raka…” sapaan itu mengejutkannya.

“Apa kabar kamu? Lama ya kita gak ketemu? Gimana kuliahnya lancar?” sederetan pertanyaan Bunga membuat Raka bingung.

“Satu-satu dong nanyanya neng jangan keroyokan. Hehe”

”Biarin weeww”, Bunga menjulurkan lidahnya.

”Alhamdulilah semuanya lancar ko. Kamu sendiri gimana, ko kalo aku perhatiin kamu agak kurusan. Mikirin aku terus ya?” goda Raka pada Bunga.

”Ih kepedean banget kamu. Aku capek tau tugas kuliah numpuk terus. Kebetulan kamu datang. Aku kan mau nyuruh kamu bantuin tugas Manjemen aku”

”Oh jadi aku cuma mau disuruh ngerjain tugas kamu doang nih? Pulang lagi ah”

”Eh jangan jangan becanda tau..hehe”



Keduanya tampak larut dalam canda dan tawa. Berhubung esok paginya Raka harus bertolak kembali ke Surabaya, Raka memutuskan untuk pulang. Walaupun kedatangan Raka hari ini hanya sekejap, Namun cukup membuat hati bunga senang.



****



Selang sebulan setelah pertemuan itu, komunikasi keduanya terbilang renggang. Mereka disibukkan dengan kuliah masing-masing dan Organisasi yang Raka ikuti pun sangat menyita waktu. Sehingga Raka terkesan jarang menghubungi Bunga.



Jelas saja hal ini membuat Bunga sedih. Sangkaan buruk pun menggelayuti pikirannya. Hatinya gusar. Apa mungkin disana Raka telah menemukan tambatan hati yang jauh lebih baik darinya? Bahkan sudah seminggu lebih tak ada kabar darinya. Kini, Bunga tak terlalu ambil pusing ia memilih untuk berbaik sangka saja mungkin memang banyak tugas kuliah yang harus ia selesaikan.



"Empat tahun aku mengenal Raka. Tapi, baru kali ini ia bersikap seacuh ini padaku? Ah semoga semuanya baik-baik saja”, gumamnya dalam hati.



Suara jangkrik yang bersahutan memecah keheningan malam. Sebuah pesan singkat membuyarkan lamunan Bunga. Senyumnya mengembang ketika mendapati kabar dari Raka bahwa minggu ini ia akan pulang. Sangkaan buruk yang di anggapnya raka tidak lagi peduli padanya pun sirna.



***



Dengan mengenakan kemeja hitam bercorak putih Raka begitu setia menunggu Bunga di Kafe Buku tempat dimana pertama kali ia mengenal Bunga empat tahun lalu.



Bunga dengan balutan jilbab putih yang dijulurkan sebagian menutupi tubuhnya begitu terlihat sangat cantik. Sifatnya yang lembut seakan membuatnya begitu indah dalam pandangan Raka. Matanya langsung tertuju pada meja nomor 5 yang disana terdapat Raka sedang menyeruput cokelat hangatnya.



”Bunga...” seulas senyum teduh milik Raka menyapanya.

”Maf ya lama. Kamu udah daritadi ya disini?” tanya bunga dengan wajah yang terlihat gembira dari hari sebelumnya.

“Ah enggak juga ko. Bentar ya aku pesankan minuman buat kamu”

Raka berlalu. Sementara Bunga sibuk melihat orang-orang yang berlalu lalang di sekelilingnya.

”Bunga, maafin aku ya. Sebulan terakhir ini aku jarang sekali menghubungi kamu. Dan maksudku mengajakmu ke tempat ini untuk membicarakan masalah kita”

”Masalah? Aku rasa semua masih baik-baik saja”

”Bunga sebelumnya aku minta maaf. kamu berhak marah setelah aku menyampaikan ini, disana aku jatuh hati pada orang lain. Jujur, aku merasa nyaman ketika aku dekat dengannya. Aku butuh suport langsung tidak seperti hubungan jarak jauh ini” Raka menatap bunga dengan tatapan seolah tak punya salah. Sementara Bunga merasa sedang berdiri di bibir jurang yang perlahan akan jatuh mendengar penuturan Raka.

“Jika keputusan ini lebih membuatmu bahagia aku setuju saja. Tapi aku minta satu hal, persahabatan yang bertahun-tahun kita bina aku harap masih bisa terjaga karena jauh sebelum kita menjalin hubungan ini kau adalah sahabat baikku. Selamat ya Raka”, matanya memerah, ia tak sanggup melihat wajah Raka. Bunga beranjak dan tersenyum getir ia tak mau menunjukkan kesedihannya di depan Raka.

Tanpa lebih dulu meneguk Jus Apel yang sudah di pesannya Bunga berlalu meninggalkan Raka. Langkahnya begitu berat, bagaimana tidak hati bunga begitu terluka. Raka hanya dapat menatap kepergian bunga tanpa dapat mencegahnya, sementara samar-samar langkah Bunga semakin menjauh, terlihat jelas gurat sesal di wajahnya.

Bunga yang sebelumnya membayangkan hari ini akan menjadi hari yang bahagia justru pulang dengan kecewa.



***

Bunga masuk kamar tanpa lebih dulu mengucap salam pada Abi dan Uminya. kedua orangtuanya merasa heran dengan tingkahnya.

Di kamar yang di dominasi warna biru muda itu ia meluapkan kesedihannya. Raka orang yang selama ini menjadi penopangnya dan selalu mendorong impiannya untuk menjadi seorang guru justru mencampakkannya. Gerimis pun membasahi kedua pipinya.



Sesegera mungkin ia mengambil air wudlu. Setiap ada masalah yang menderanya, obat yang dirasanya ampuh itu adalah bersujud di hadapan-Nya.



“Tuhan, jika sekiranya ini adalah yang terbaik untukku dan untukknya aku mohon pisahkan aku dari ingatan-ingatan ini. Karena sesungguhnya Engkau lebih tahu tentang segala-galanya daripada diriku sendiri karena Engkau yang memiliki sekeping hati ini.”



Itulah rintihan hati Bunga selepas dari sujudnya. Ia ikhlas jika skenario yang Dia buat berujung sad ending. Diluar terdengar ketukan pintu berkali-kali.



”Sayang...umi boleh masuk kamarmu?”

”Iya umi...sebentar” Bunga melepas mukena yang masih ia kenakan”

Bunga langsung mendekap umi erat-erat tanpa terlebih dahulu Bunga menceritakan masalahnya umi sudah mengetahuinya. Itulah ikatan batin antara ibu dan anak yang begitu kuat.



”Nak, Bila kamu memandang segalanya dari Allah yang menciptakan ujian, yang mengakibatkan sakitnya hati, yang menyebabkan keinginan terhalang, Maka damailah hati. Karena tidaklah Allah mengatur segalanya untuk sesuatu yang sia-sia. Jika memang Raka lebih bahagia bersama pilhannya, ikhlaskanlah. Kamulah insan pilihan Allah untuk mekar terpelihara hingga mendapat seruannya. Mungkin, kini Allah telah memberi ruang terlebih dahulu untuk mengejar cita-citamu. Tak usah risau, jika kalian berjodoh, pasti suatu saat nanti Allah akan mempertemukan kalian kembali dengan cara-Nya yang indah karena hidup, mati, jodoh dan rezeki setiap manusia itu sudah tercatat di lauhul mahfudz.”



Nasihat umi sedikit menenangkan perasaannya. Cinta telah membuat Bunga belajar untuk melepas apa yang sudah menjadi kehendak-Nya.