Senin, 09 April 2012

Memandang Langit



Jam pelajaran Fisika telah usai bersamaan dengan berdentangnya lonceng sekolah, satu persatu satu Nessa dan Ocha menuruni anak tangga sekolah.
”Nes, aku ke perpus dulu ya ngembaliin buku, tungguin di depan gerbang sekolah aja?”
“ Ya, buruan Cha jangan lama-lama,” jawab Nessa tersenyum simpul.
Lima belas menit Nessa menunggu di depan gerbang sekolah, akhirnya Ocha datang juga. Lantas, mereka memutuskan untuk pulang bersama.

Nessa dan Ocha bersahabat sejak pertama kali mereka duduk di bangku SMA, keduanya seakan sudah khatam membaca tabiat masing-masing, sekalipun ada cekcok tidak pernah menjadi ribut besar. Mereka saling mengisi dan melengkapi satu sama lain. Di sekolah, Nessa terbilang anak yang supel dan periang. Tapi sayang, ia cenderung bersikap pendiam saat kembali pulang ke rumah, karena seringkali didapatinya rumah dalam keadaan sepi. Nessa merupakan anak bungsu dari dua bersaudara, kakak lelaki satu-satunya, Ryan melanjutkan kuliah di Semarang dan tinggal bersama neneknya, sementara kedua orangtuanya bekerja di sebuah perusahaan yang sama dari pagi hingga sore hari. Tak jarang, kedua orangtuanya pulang hingga larut malam karena mengurusi pekerjaan. Materi memang tercukupi, namun kasih sayang tidak terpenuhi. Hanya Bi Inah lah yang setiap hari menemaninya di rumah.

***

Pagi-pagi sekali, ayah dan bunda Nessa harus terbang ke kota Makassar karena ada rapat mendadak. Sehingga harus meninggalkan Nessa bersama Bi Inah di rumah. Dibangunkannya Nessa oleh sang bunda, ia tampak masih setengah tertidur.

”Nessa baik-baik ya di rumah. Bunda sama Ayah ada pekerjaan di luar kota. Lusa juga Bunda langsung pulang ko, kalo perlu apa-apa tinggal bilang aja sama Bi Inah ya?” diciumnya kening Nessa oleh ayah dan bundanya, ia cemberut sambil menekuk wajahnya.

Selang 30 menit kemudian, saat embun pagi masih membasahi bunga-bunga di pekarangan rumah, Nessa bergegas mengendarai sepeda motor menuju rumah Ocha, untuk berangkat sekolah bersama. Hanya menunggu sepuluh menit, kemudian Ocha menghampiri Nessa.

Mereka terlihat sangat kompak, keduanya berlalu meninggalkan rumah Ocha melaju membelah jalanan kota hujan menuju sekolah.

***

Jam istirahat, Nessa dan Ocha habiskan di bawah pohon rindang sambil ditemani beberapa cemilan. Sementara Ocha asyik dengan sate bakso bakar yang berada di genggaman tangannya, Nessa justru sama sekali belum menyentuh makanannya.

“Ko bengong sih Sa? Kenapa?” Ocha urung melahap bakso bakar yang hampir menyentuh bibir mungilnya.
“Enggak tau, aku enggak nafsu aja,” jawab Nessa sambil menengadah ke langit memandangi sekawanan burung-burung yang berterbangan.
“Aku iri sama kamu Cha. Kebahagiaanmu begitu lengkap, mempunyai keluarga yang utuh, saling menjaga satu sama lain. Tidak seperti aku!”

Ocha memandang Nessa iba, meskipun Ocha berasal dari keluarga sederhana tapi ia mempunyai keluarga yang sangat perhatian padanya. Nessa kembali melanjutkan ceritanya sebelum Ocha menanggapinya, “Ayah sama Bunda sibuk mencari materi, Ka Iyang enggak pernah pulang, di rumah aku cuma tinggal sama pembantu, aku rindu kebersamaan itu?” Nessa hampir tak mampu membujuk cairan pelindung matanya supaya dia tidak menampakkan dirinya.

“Sabar ya Sa, orangtua kamu kan kerja buat kamu juga? Iya kan? Kalo Kak Iyang, kan dia lagi sibuk nyusun skripsi, kalo udah waktunya juga dia pulang?” Ocha mendengus pelan.

Lonceng kuno sekolah berbunyi menandakan jam istirahat telah usai. Nessa dan Ocha berlalu meninggalkan taman sekolah menuju kelas.

***

Siang itu awan mendung menghiasi langit Bogor. Nessa baru saja tiba dari sekolah, setelah membuka sepatu, kemudian ia bergegas masuk ke kamarnya. Bi Inah sibuk dengan setumpuk pekerjaannya di dapur. Sementara itu telepon rumah berdering, diangkatnya telepon tersebut. Usai berbicara dengan orang yang berada di ujung telepon, raut wajahnya seketika menjadi muram, terlihat ada kesedihan yang sangat mendalam. Betapa terkejutnya Bi Inah dengan berita yang ia terima bahwa pesawat yang ditumpangi majikannya yang tak lain adalah kedua orangtua Nessa mengalami kecelakaan. Di depan kamar terlihat gadis yang baru beranjak dewasa itu sedang berdiri, bersandar pada pintu kamarnya.

“Siapa Bi yang telepon, Bunda ya?” Bi Inah tak tahu harus menjawab apa. Ia takut jika mengatakan yang sebenarnya akan melukai hatinya, namun lambat laun Nessa juga akan mengetahui yang sebenarnya. Bi Inah menghampiri Nessa, matanya berkaca-kaca. Ada air mata yang tertahan disudut matanya. Sedang Nessa merasa heran, prasangka buruk pun mulai merasuki pikirannya.

”Kenapa Bi, Bibi ko nangis? Tadi telepon dari siapa? Bibi bilang sama aku?” Nessa mengoyang-goyangkan tubuh Bi Inah dan memaksanya untuk bicara. Tapi Bi Inah memilih untuk memberitahu Nessa secara perlahan. Dengan terbata-bata Bi inah mengatakan hal yang sejujurnya. Seketika Nessa histeris. Air mata tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk matanya. Sekujur tubuhnya lemas tak ada tenaga. Bi Inah tidak bisa berbuat apa-apa selain mendekap erat tubuhnya. Nessa begitu terpukul atas kejadian ini. Ia hanya bisa berdoa memohon pada Tuhan semoga orangtuanya dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat.

***

Jatuhnya pesawat yang ditumpangi kedua orangtua Nessa sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Bahkan, sejak dua hari setelah kejadian itu Nessa absen tidak masuk kelas.

Dari hari ke hari ia selalu mengikuti pemberitaan di televisi. Namun, pesawat yang di tumpangi kedua orangtuanya dinyatakan hilang. Tim evakuasi yang terdiri dari tim SAR dan Polisi pun tak menemukan bangkai pesawat tersebut. Padahal polisi sudah menyusuri tempat yang diduga tempat jatuhnya pesawat. Pencarian dilakukan baik di darat maupun di lautan namun tak jua membuahkan hasil.

Satu pekan sudah hilang dan jatuhnya pesawat yang ditumpangi kedua orangtua Nessa. Sementara itu, di rumah ia ditemani Ryan serta beberapa sanak saudara lainnya yang menungggu kabar tentang keberadaan orangtua Nessa. Wajah orang-orang yang keluar masuk rumah begitu muram tak ada senyuman. Di depan rumah berjejer beberapa karangan bunga, padahal nasib meninggalnya kedua orangtua Nessa pun masih belum diketahui secara pasti. Namun, jika memang benar, betapa pilunya hati gadis ini. Ia harus kehilangan kedua orangtuanya dalam waktu yang bersamaan.

Ia tak tahu harus menanyakan pada siapa, meminta tolong pada siapa selain pada Tuhan ia menggantungkan segala harapannya, meski pihak kepolisian menyatakan seluruh awak dan penumpang pesawat dinyatakan tidak ada yang selamat karena proses pencarian sudah memakan waktu lebih dari seminggu. Namun disaat asanya yang sudah menipis, ia masih terus berharap dan berdoa semoga kedua orangtuanya dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat, dan keajaiban itu akan datang untuknya. Nessa masih belum percaya jika kedua orangtuanya sudah tiada selama belum melihat jasadnya.

***

Keesokan harinya Nessa memutuskan untuk kembali ke sekolah, ia tak ingin terlalu larut dalam kesedihan. Namun sejak kejadian itu, Nessa yang biasanya adalah sosok gadis periang kini lebih cenderung pendiam.

“Sa, ke kantin yuk?” ajak Ocha dan Sisil.
“Aku disini saja. Enggak laper” Ocha dan Sisil tidak tahu harus berbuat apa untuk mengembalikan sosok Nessa seperti semula. Semenjak kejadian itu, Nessa mempunyai hobbi baru. Ia lebih senang menyepi memandang langit baik di rumah maupun di sekolah, karena menurutnya, jika bersedih pandanglah langit, maka kita akan merasakan Tuhan senantiasa bersama kita, dan ketika ia memandang langit, ia seperti melihat wajah ayah dan bundanya. Terkadang, terlihat ia sering berbicara sendiri sambil menopang dagu memandang langit.

***


Saat makan malam, ia melihat sebuah tayangan di televisi. Seorang narasumber mensinyalir bahwa pesawat yang hilang itu tersedot oleh arus Segitiga Bermuda, karena kejadian serupa juga pernah terjadi beberapa tahun silam. Hal itu pun membuat rasa penasarannya dipecahkan dengan browsing melalui Google perihal segitiga bermuda.
Derai air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya, saat ia membaca artikel yang ia searching tentang Segitiga Bermuda, fenomena alam yang baru pertama kali ia dengar. Naasnya, mengapa hal ini harus terjadi pada orangtuanya, harta paling berharga yang ia miliki di dunia. Nessa terdiam, antara percaya atau tidak dengan ulasan tentang Segitiga Bermuda. Mungkin jika apa yang ia baca itu benar, ia tidak akan pernah bisa melihat senyum orangtuanya untuk selama-lamanya. Impian untuk membahagiakan kedua orangtuanya saat melihat ia wisuda sarjananya pun sirna.





***
Hingga hampir tengah malam ia belum juga tertidur, ia masih duduk sendiri di teras rumah sambil memandang langit bertemankan hembusan angin kencang yang silih berganti menyapanya. Ryan hanya memandang adiknya dari balik tirai jendela kamarnya, dan kemudian menghampirinya.
“Ko belum tidur sih dek? Angin malam tuh enggak baik buat kesehatan. Sana, cepet tidur?” Ryan duduk disamping Nessa.
“Nessa kangen sama Ayah, kangen sama Bunda juga...Ayah sama Bunda lagi apa ya Kak? Mereka tidur dimana? Udah makan belum ya Kak?” Bibir Nessa bergetar, sorot matanya mengisyaratkan bahwa ia begitu merindukan kedua orangtuanya. Ryan tersenyum pahit, tatapannya menerawang kosong mendongak ke langit yang pekat dengan kabut malam.
“Sabar ya dek, Kakak juga sama kangen sama Ayah Bunda, Tapi Kakak juga enggak tau mereka ada dimana. Insya Allah Kakak udah ikhlas dek, kamu juga harus ikhlas ya sayang,” ujar Ryan mengelus-ngelus rambut Nessa.
“Tapi Kak?”
“Tapi apa? Hemm... gini, misalnya Kakak dipinjemin motor sama Yoga, Kakak udah sayang...banget sama motornya terus besoknya diambil lagi sama Yoga. Apa Kakak berhak marah ketika barang yang bukan milik Kakak diambil sama yang punyanya?” Nessa menggelengkan kepalanya.
“Sama halnya dengan Kakak yang sayang sama Ayah Bunda, tapi ternyata Tuhan lebih sayang sama mereka karena Tuhan adalah pemiliknya, intinya Tuhan yang memberi dan pada Dia pula semua akan kembali,” Nessa berulang kali menyeka bulir air mata yang menyusuri pipinya mendengar nasehat Ryan.
Dalam setiap lima waktunya, Nessa tak pernah lelah menaruh harapannya pada Tuhan, memohon yang terbaik untuk kedua orangtuanya.
”Ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, aku mohon dengarlah doaku. Lindungilah kedua orangtuaku dimanapun mereka berada. Apapun yang menjadi keputusan-Mu aku sudah ikhlas jika memang Engkau telah mengambil mereka dariku. Ijinkan tim evakuasi menemukan jasad keduanya. Dan berikanlah surga untuk keduanya. Berikan aku ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi ujian-Mu ini ya Allah. Amin,” desahnya haru.


***
Empat tahun kemudian...
Seorang wanita cantik dengan balutan jins hitam serta sweater merah marun turun dari mobil xenia hitamnya, Ya wanita tersebut adalah Nessa. Semenjak lulus SMA, Nessa ikut bersama Ryan ke Semarang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Meniggalkan Ocha, Sisil, Bi Inah, serta segudang kenangan di rumah yang belasan tahun pernah ditempatinya, Hari itu ia kembali menapaki jejak masa kecilnya, bertahun-tahun rumah itu memang tak berpenghuni, namun dipaksa tetap berdiri bak prasasti , kokoh berdiri meski nyaris tak terurus. Mungkin tak berharga secara wujud fisik. Tapi rumah itu bermakna karena cerita yang pernah ada di dalamnya. Setiap sudut rumah ini ada kisahnya, baik menyenangkan maupun tidak. Pada tiang-tiangnya tak pernah berganti. Seolah-olah pada dindingnya masih terukir jelas hasil coretannya dulu yang bentuknya tak karuan ketika baru bisa menulis.


“Nessa kangen sama Ayah, sama Bunda...,”ujarnya sambil membersihkan foto keluarga yang hampir seluruh permukaannya tertutup debu. Begitulah kenangan. Kita seringkali melekat pada dimensi visual, suara ataupun aroma dari sebuah benda yang mungkin kita pernah berinteraksi dengannya.
Meski sampai detik ini jasad kedua orangtua Nessa belum juga ditemukan, Nessa masih belum berhenti berharap, meskipun harapannya melihat kedua orangtuanya pulang kembali ke rumahnya sangat tipis. Empat tahun sudah musibah itu berlalu, namun hal itu tidak membuat Nessa berlama-lama larut dalam kesedihan. Nessa bangkit kembali melanjutkan hidupnya meski ia sendiripun tak pernah tahu lagi tentang keberadaan orangtuanya. Kini, Nessa tercatat sebagai Mahasiswa tingkat akhir jurusan psikolog di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di kota Semarang.


***


Satu minggu kemudian.....
Hari ini Nessa diwisuda, hanya Ryan yang berada di sampingnya. Alangkah bahagianya Nessa apabila kedua orangtuanya ikut mendampinginya dan dapat melihat Nessa tumbuh menjadi dewasa. Namun hal itu pun mungkin kini hanya tinggal khayalan semata. Nessa terlihat sangat cantik dan anggun dengan kebaya biru yang dikenakannya, ditambah lagi dengan balutan baju wisuda lengkap dengan toganya.
Usai prosesi wisuda, sambil memandang langit ia berkata lirih, “Ayah, Bunda hari ini Nessa diwisuda. Nessa pakai baju toga, seperti impian Bunda???” ujarnya menangis haru karena rindu yang telah bertahun-tahun menyesakkan rongga dada.

Rabu, 28 Maret 2012

Flu dan tentang celoteh kita dulu



Di suatu sore…beberapa tahun yang lalu….

Yuda : “Hemm tumben banget seharian ini si bawel Aya diem aja…lagi sariawan ya?” Aya tetap diam tak menggubris apa yang dikatakan Yuda.“Biasanya kalo sebelum berangkat sekolah Aya dongeng dulu sama Kak Yuda di telepon, Kakak Aya hari ini masuk jam 7, pulangnya jam 2 terus ada les tambahan disekolah sampe jam 4. Dilanjut lagi les buat SNMPTN sampe jam 7 malem, Aya pulangnya bareng sama Sofi kok tenang aja. Kakak enggak usah khawatir. Kalo udah nyampe rumah terus mandi, shalat isya, mam dulu, kalo belum ngantuk nulis dulu kalo udah ngantuk bobo deh. Inget pasal 1 Kakak jangan bandel ya, pasal 2 jangan lupa shalat, pasal 3 jangan lupa ngaji terus mam, pasal 4 kalo mau ngapa-ngapain bilang, kalo Aya enggak sms berarti Aya lagi sibuk. Kakak mau pesen apa sama Aya? Gitu kan? Tuh Kak Yuda aja nyampe apal?”

Aya melempar senyum menatap Yudha. Bertanya-tanya apakah ia secerewet itu?

Aya : “Aya lagi sakit flu tau nih Kak,” Aya bersuara tapi begitu pelan, suaranya agak sumbang karena sedang flu.
Yudha : “Ih suaranya lucu kaya kodok, hehehe”
Aya : “Ih serak-serak becek gini kaya Dewi Persik masa di olok-olok kaya kodok sih?” Aya menekuk wajahnya.
Yuda : “Hahaha..serak-serak becek? Sukurin, abis bandel sih enggak pernah dengerin apa kata Kakak, Bandel dibilangin jangan ujan-ujanan” ujar Yuda sambil meleltkan lidah.
Aya : “Biarin, bukan ujan-ujanan tau tapi kehujanan!!!”
Yuda : “Sama aja jelek”
Aya :” Beda dong! Kalo hujan-hujanan itu perbuatan yang di sengaja, kalo kehujanan kan enggak?”
Yuda :” Iya iya, sekarang Aya udah pinter nyeramahin Kakak ya? Yaudah sana minum obat dulu biar suara manjanya balik lagi, hehe” Yuda mengacak-ngacak rambut Aya.
Aya :” Udah dong tadi..weeeww”
Yuda :” Obat apa hayoooo?”
Aya :”Tadi abis minum pop ice dingin dong, di atasnya di taburin keju, coklat, susu, sama permen…hemm enak doong?”
Yuda :” Enggak sekalian dicampur Baygon?” ucap Yuda dengan nada sinis.
Aya :” Ih masa dicampur Baygon? Jahat banget Kaka sama Aya, entar kalo Aya enggak ada Kakaknya nangis loh? weww”
Yuda :” Suka sembarangan deh ngomongnya? Sebel ah…Abis Aya bandel sih gimana mau sembuh coba?…Kak Yuda ngambek ah”
Hening….keduanya tapak larut dengan pikirannya masing-masing. Sesekali saling curi-curi pandang.
Aya :” Kakak, tadi pulang jam berapa?” Yuda diam, justru ia malah bernyanyi-nyanyi kecil tak mendengarkan Aya bicara.
Aya :” Kakak ih jangan diem aja, baikan yuk? Kaya bocah tau ngambek mulu”
Yuda :” Yang kayak bocah tuh kamu, dibilangin enggak pernah mau nurut”
Aya :” Iya maaf deh, besok-besok beneran nurut deh janji, kan kalo Aya flu suaranya jadi merdu iya kan hehe?”
Yuda :” Kaya kodok tau jelek?”
Aya :”Tapi suka kan?” Aya mengerlingkan mata, Yuda mencubit pipi Aya gemas. 

***
Itulah dialog kita tentang ‘flu’, aku rindu marahmu, perhatianmu, candamu, caramu mengolok-ngolokku…

Sore ini, flu kembali mengingatkan aku tentang cerita kita dulu. Andai aku bisa menahan perjalanan sang waktu, aku tidak akan pernah membiarkan sore itu berlalu. Aku tak pernah tahu lagi bagaimana keadaan Yudha semenjak ia memutuskan untuk melanjutkan study nya di kota gudeg Yogyakarta.
Jadilah wanita yang selalu tegar seperti keindahan sang mawar. Kakak percaya, Aya pasti bisa melewati semuanya sekalipun tanpa Kakak itulah pesan darimu yang selalu mengingatkan aku tentangmu.

Aku rindu kebersamaaan itu, celoteh kita beberapa tahun yang lalu…

Kamis, 22 Maret 2012

Cantik Dengan Air Wudlu

     
      
     Mempercantik diri bagi sebagian wanita sangatlah penting, bahkan mereka rela merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah hanya untuk mempercantik diri. Mereka rela berada di salon selama berjam-jam bahkan ada juga yang melakukan operasi hingga ke luar negeri hanya karena ingin ‘cantik’. Sungguh disayangkan, padahal menurut saya cantik itu tidak perlu mahal. Cantik dihadapan Tuhan itu bukan terletak pada wajah akan tetapi terletak dari dalam hati karena pada dasarnya semua wanita itu cantik, hanya saja tidak semua budi pekerti mereka pun demikian. Karena menurut pandangan saya, kecantikan di dalam (hati) dengan sendirinya akan terpancar keluar. Bukankah begitu?

     Menjaga penampilan memang boleh-boleh saja, yang patut kita ingat Tuhan memang menyukai keindahan namun Tuhan tidak menyukai hal-hal yang berlebihan. Bukan maksud untuk menyombongkan diri, saya memang bukan tipikal wanita yang selalu terlihat modis dalam hal penampilan dan saya pun tidak pernah peduli dengan anggapan orang jika mereka berkata saya ketinggalan zaman. Inilah saya yang selalu apa adanya tanpa merubah dan berpura-pura menjadi orang lain, yang penting saya nyaman dengan apa yang saya kenakan. Melihat dari sudut pandang saya pribadi, banyak yang salah kaprah dengan arti cantik itu sendiri. Misalnya saja, sering saya melihat wanita yang bersolek berlebihan. Dengan berbagai macam alat kecantikan dimulai dari pemutih, pelembab, pencuci wajah, bedak, lipstik, belum lagi body lotion, peralatan ini itu untuk rambut entah masih banyak lagi. Walaupun saya seorang wanita saya tidak hafal dengan berbagai kecantikan tentang wanita, karena saya tidak suka berdandan dan kurang menyukai aksesoris yang berbau wanita. Bahkan untuk alas wajah saja, saya hanya mengenakan bedak tabur bayi tak peduli dengan anggapan seperti anak kecil. Cukup simple bukan? selebihnya saya percaya pada manfaat air wudlu. Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca di jelaskan,

Wudhu bukanlah sesuatu yang sederhana dalam kehidupan seorang Muslim, karena ia selalu membuatnya berenergi dan bercahaya .” (Syaikh Ibrahim An Nu’aimi)

     Menurut saya air wudlu yang membasuh sebagian anggota tubuh saya sudah cukup untuk membuat kita tampak cantik luar dalam. Kesannya lebih natural dan bercahaya, karena pancaran kecantikannya langsung dari Tuhan. Bahkan dengan berwudlu, tidak hanya dapat menghapus noda-noda pada wajah kita, bahkan dapat pula menggugurkan dosa-dosa kita. Saya selalu merasa ketika seharian disibukkan dengan berbagai aktivitas atau saat berpergian kemana-mana, ketika wajah terlihat kusam, lelah dan kebetulan sudah masuk waktu shalat dan kemudian bergegas mengambil air wudlu lalu sholat, setelahnya wajah begitu tampak fresh, segar. Lain halnya jika hanya kembali dipoles dengan berbagai kosmetik memang terlihat cantik tapi masih terasa tidak nyaman. Saya yakin pembaca sekalian juga pernah merasakan hal demikian. Saya selalu merasa wajah saya lebih bercahaya cukup dengan air wudlu. Tak ada satupun produk kosmetik yang dapat menandingi kilauan pancaran dari air wudlu. Dijelaskan dalam suatu hadis bahwa,

     “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kaki mereka bercahaya, karena bekas wudhu’.” (HR. Al Bukhari no. 136 dan Muslim no. 246)

           Masih ragu dengan khasiat air wudhu? Cantik karena air wudlu? Ayoo siapa yang mau? ^_^

Rabu, 07 Maret 2012

Arti Dari Sebuah Kata Mahasiswa


Mahasiswa, mungkin semua orang tidak asing dengan istilah yang satu ini. Banyak orang yang merasa bangga ketika menyandang status sebagai mahasiswa, atau orang tua yang sangat menginginkan anaknya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ya memang tidak bisa dipungkiri mahasiswa dianggap sebagai kaum intelektual yang mengerti segala hal. Dan terkesan diagungkan karena memiliki kata maha, yang berarti siswa yang agung atau siswa yang hebat.

Fungsi dan Peranan Mahasiswa
Mahasiswa mempunyai fungsi dan peranan penting dalam pembangunan bangsa. Dimana mahasiswa mempunyai peranan sebagai agent of change, social control, dan iron stock. Sebagai agent of change, mahasiswa berperan sebagai agen perubahan. Yang diharapkan membawa perubahan bangsa ini kearah yang lebih baik ke depannya. Tentu sebagai agent of change mahasiswa harus mempunyai visi dan mindset yang jauh ke depan, memiliki cita-cita besar dan rasa nasionalisme yang tinggi. Dan kita tidak bisa memungkiri fakta sejarah tentang pergerakan yang telah dilakukan oleh mahasiswa, yang telah menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban bangsa. Sedikit contoh, ketika membuka buku-buku sejarah disana pasti tertulis tentang awal-awal bangkitnya pergerakan bangsa. Beberapa pergerakan yang dipelopori oleh mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Belanda, kemudian berlanjut dengan lahirnya sebuah organisasi kepemudaan bernama Budi Utomo pada tahun 1908. Yang sampai saat ini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Lalu siapa yang tidak mengenal sosok Soe Hok Gie, aktivis kampus yang terkenal di tahun 60-an. Seorang pemuda keturunan yang berani mengkritik pemerintahan Orde Lama lewat tulisan-tulisannya yang diterbitkan di beberapa media cetak di Indonesia pada saat itu. Gie menganggap pemerintahan Orde Lama sudah tidak sanggup lagi memegang tampuk pemerintahan, dan arah politik Bung Karno sudah tidak pro rakyat. Gie tidak takut meskipun harus berhadapan dengan orang nomor 1 di Indonesia pada saat itu, kemudian menanggung resiko dikucilkan dari lingkungan sekitarnya karena sikap Gie yang dianggap terlalu kritis dan membahayakan. Padahal sebenarnya mereka mendukung langkah-langkah yang dilakukan Gie, tetapi mereka tidak mempunyai cukup keberanian seperti Soe Hok Gie. Namun Gie tetaplah Gie, dia tidak pernah mundur dengan sikap kritisnya. Dan akhirnya usaha Gie dan mahasiswa Indonesia pada saat itu berhasil, Orde Lama berhasil digulingkan pada tahun 1966. Bung Karno turun dari kursi kepresidenan dan digantikan oleh Pak Harto. Kemudian berlanjut pada tahun 1998, sebuah sejarah yang tidak akan pernah dilupakan oleh bangsa Indonesia. Sebuah rezim yang telah membelenggu Indonesia selama 32 tahun berhasil digulingkan. Mahasiswa di seluruh Indonesia atas nama rakyat bersatu untuk menuntut sebuah reformasi di Republik ini dan berhasil menggulingkan Pak Harto dari kursinya. 

Mungkin itu hanyalah beberapa catatan sejarah yang telah ditorehkan mahasiswa Indonesia pada masa itu. Masih banyak sejarah pergerakan yang telah dilakukan oleh mahasiswa Indonesia yang menghiasi perjalanan bangsa sampai saat ini. Mahasiswa adalah pelopor, penggerak, bahkan sebagai pengambil keputusan.

Selanjutnya peranan yang kedua sebagai social control, mahasiswa harus peka terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak hanya lingkup kampus, tapi juga lingkungan sekitar kampus. Dan harus kritis kepada isu-isu yang sedang berkembang, baik isu nasional maupun isu daerah. Jangan sampai mahasiswa tidak mengetahui isu-isu atau malah acuh tak acuh. Kemudian mahasiswa harus selalu mengawal kebijakan yang akan dikeluarkan oleh pemerintah, apakah kebijakan tersebut pro rakyat atau hanya mementingkan sebuah golongan atau malah sebaliknya merugikan rakyat. Disinilah sikap kritis mahasiswa dibutuhkan, untuk mengkaji lebih dalam sebuah keputusan atau kebijakan dari pemerintah. Jangan sampai kebijakan tersebut malah merugikan rakyat banyak. Ini adalah sebuah bentuk kepedulian mahasiswa kepada bangsa dan negaranya. Dan juga termasuk fungsi mahasiswa sebagai pengawal kebijakan dan pelaksana kebijakan.

Kemudian sebagai iron stock atau stok yang melimpah. Maksud iron stock disini mahasiswa diibaratkan sebagai cadangan logam atau aset yang suatu saat nanti akan terpakai menggantikan pemimpin-pemimpin saat ini. Unggul atau tidaknya suatu bangsa di masa depan tergantung dari pemuda-pemudanya hari ini. Karena dengan SDM yang berkualitas sebuah negara akan maju dan bisa mengembangkan potensi yang dimiliki oleh negaranya. Lalu sebuah pertanyaan akan muncul, kenapa harus besi ?. Kenapa tidak emas atau perak saja yang harganya lebih mahal ?, jadi namanya golden stock atau silver stock. Jawabannya karena besi mudah berkarat, besi yang sudah tua suatu saat akan berkarat dan akan digantikan oleh besi yang baru. Itulah perumpamaan tentang pemimpin Indonesia, suatu saat seorang pemimpin akan tua dan digantikan oleh mahasiswa atau pemuda yang ada pada saat ini. Ada suatu pepatah mengatakan, “jika kalian ingin melihat Indonesia 10 atau 20 tahun yang akan dating, maka lihatlah pemudanya hari ini”. Maksudnya berkaca pada hari ini untuk melihat masa depan.

Realita Mahasiswa Saat Ini
Berbicara mengenai mahasiswa saat ini menurut pandangan banyak orang tidak lebih dari sekedar gengsi, atau istilah nya “gak kuliah, gak gaul”. Memang tidak bisa dipungkiri, saat ini kuliah hanya untuk sekedar gengsi tanpa memahami makna kuliah atau arti dari mahasiswa sesungguhnya. Mahasiswa saat ini cenderung malas berpikir, lebih suka hal-hal yang instan seperti mencontek dari pada berusaha untuk belajar. Lebih suka hura-hura dan berperilaku hidup konsumtif, dan yang lebih parah memakai narkoba dan memiliki pola hidup bebas. Banyak berita kriminal yang tersangkanya adalah mahasiswa, dan beberapa kejahatan lain yang dilakukan oleh mahasiswa. Memang ini adalah sebuah ironi dan realita yang dihadapi oleh mahasiswa Indonesia saat ini. 

Kemudian mahasiswa saat ini lebih cenderung bersikap apatis, terkesan tidak mau tahu atau yang lebih parahnya tidak ingin tahu. Kalau seandainya ditanya tentang tri dharma perguruan tinggi mungkin tidak banyak yang mengetahui apalagi memahami makna dari tri dharma perguruan tinggi. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat hanyalah sekedar simbolisasi tanpa sebuah pengamalan. Atau hal yang paling umum saja, siapa yang bisa menyebutkan visi dan misi kampusnya ?, Itu seharusnya adalah hal yang paling umum kita ketahui. Kampus tempat sehari-hari kita menuntut ilmu tapi visi dan misi dari kampus kita sendiri tidak tahu, bagaimana bisa membangun Indonesia yang sarat permasalahan dan telah menjadi sebuah bola salju yang besar tanpa memiliki rasa kepedulian terutama kepedulian kepada lingkungan sekitar. Kebanyakan mahasiswa saat ini tidak lebih dari siswa SMA tanpa baju seragam atau lebih tepatnya siswa SMA kelas 4. Mungkin ini adalah sebuah hal lucu atau istilah aneh, namun inilah kenyataannya. Mahasiswa adalah kaum intelektual yang seharusnya memiliki kecerdasan berpikir juga lebih dewasa dalam menyikapi sebuah masalah. Berpikir secara positif tapi kritis. Namun kenyataannya malah sebaliknya, menyelesaikan masalah dengan kekerasan dan emosi. Tidak jarang kita melihat tawuran antar mahasiswa, aksi kekerasan yang melibatkan senior dan junior, bahkan sampai merusak kampus.

Bisa dikatakan mahasiswa saat ini sedang dilanda krisis, kehilangan jati diri dan krisis kepedulian. Hanya sedikit mahasiswa yang mau terjun langsung ke masyarakat, mahasiswa hanya sibuk dengan dunia nya sendiri. Kaum individualis hanya fokus untuk belajar, agar mendapatkan IPK 4,0 atau berpredikat cumlaude ketika lulus nanti. Mereka menganggap berorganisasi dan bersosialisasi tidak ada gunanya hanya membuang-buang waktu. Memang mereka profesional, tujuan kuliah adalah untuk belajar dan menuntut ilmu. Tapi dengan permasalahan yang sedang dihadapi di masyarakat, saat naif kalau mereka masih saja mementingkan kepentingan pribadi dan mengabaikan penderitaan yang dialami masyarakat diluar sana. Kemudian kaum hedonis, hanya mementingkan hura-hura dan gaya hidup yang high class seakan dunia hanya untuk hari ini. Seandainya uang yang didapat berasal dari penghasilan sendiri tidak masalah bahkan bagus, walaupun masih kuliah sudah bisa bekerja dan membiayai hidupnya sendiri tetapi tentunya harus dengan cara yang halal. Akan tetapi kebanyakan mahasiswa saat ini masih mengemis kepada orang tua, masih minta uang kepada orang tua. Apakah hal ini bisa dijadikan kebanggaan, bisa beli ini beli itu tapi pakai uang bapaknya. Padahal mahasiswa di didik untuk menjadi pribadi yang kontributif , dan memiliki sikap yang produktif tidak lagi konsumtif. Dan ada juga mahasiswa yang seakan tidak mementingkan kuliahnya, hanya sibuk kumpul-kumpul dan melakukan hal yang kurang jelas dan tidak bermanfaat. Waktunya hanya terbuang percuma dan lebih parah nya sampai banyak yang Drop Out atau kena DO.

Lalu organisasi-organisasi kampus saat ini tidak lagi menjadi episentrum pergerakan mahasiswa, yang mewadahi dan mengayomi mahasiswa. Para aktivis yang katanya para pejuang nasib mahasiswa dan nasib masyarakat Indonesia hanya sibuk aksi sana-sini tanpa hasil dan tujuan yang jelas. Tugas kuliah diabaikan dengan alasan sibuk rapat, sibuk konsolidasi atau hal-hal yang lain. Padahal menjadi aktivis bukanlah kewajiban tetapi sebuah pilihan. Ketika sudah berniat menjadi aktivis maka bersikaplah professional. Bukankah mahasiswa yang hebat itu adalah orang yang hebat dalam organisasi dan berprestasi di akademik. Kemudian aksi-aksi mahasiswa saat ini kebanyakan hanya didasari ingin ikut-ikutan tanpa pemahaman dan tujuan yang jelas. Dan terkesan setiap kali ada aksi turun jalan maka akan berakhir rusuh. Nah, inilah yang seharusnya dipahami oleh para aktivis kampus. Aksi bukan hanya turun ke jalan atau berdemo di depan gedung pemerintahan. Melakukan kampanye cinta lingkungan dengan melakukan penanaman pohon itu juga aksi, atau turun ke desa sekitar lingkar kampus untuk melakukan kerja bakti dengan masyarakat yang ada disana itu juga termasuk aksi. Yang seperti ini lebih bermanfaat dan bersifat nyata, juga termasuk dalam tri dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat. Karena yang dibutuhkan saat ini adalah karya nyata bukan hanya teori atau konseptual belaka. 

Memang aksi turun ke jalan juga dibutuhkan ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tidak pro rakyat atau tidak sesuai dengan keadaan yang ada, namun aksi turun ke jalan adalah pilihan yang terakhir. Ketika langkah-langkah yang telah kita tempuh tidak berhasil. Langkah yang pertama tentu kita harus melakukan kajian terhadap suatu kebijakan, apakah ini bermanfaat atau tidak. Kalau bisa berdialog langsung dengan pejabat pemerintahan kenapa tidak, anggota DPR, menteri atau presiden sekalipun. Mahasiswa punya kekuatan untuk melakukan hal itu, selagi jaket almamater masih melekat di badan kita harus mempunyai keberanian untuk melakukannya. Kemudian langkah selanjutnya membuat kritikan langsung di media-media cetak dan elektronik, agar setidaknya para pejabat kita mendengarkan apa yang sesungguhnya diinginkan masyarakat. Atau setidaknya membuka hati nurani dari pejabat-pejabat elit Republik ini, memang rakyat banyak yang kecewa dengan janji-janji dan kinerja dari pemerintah. Tetapi setidaknya pemimpin-pemimpin itu masih manusia, setiap manusia pasti memiliki hati nurani. Tergantung nanti pintu hatinya oleh Tuhan akan dibukakan atau tetap beku. Dan seandainya cara ini tidak berhasil juga barulah langkah terakhir kita tempuh, melakukan aksi turun ke jalan. “Katakan hitam adalah hitam, katakan putih adalah putih”.

Mahasiswa sebagai Pewaris Peradaban
Nah, disini tentu kita telah melihat permasalahan yang sedang dihadapi mahasiswa Indonesia saat ini. Mahasiswa kehilangan jati diri yang sejatinya sebagai elemen perubah bangsa dan pewaris peradaban bangsa, dan kurang memiliki kepedulian dan rasa keingintahuan yang kuat. Sejarah masa lampau hanya tinggal untuk dijadikan kenangan, aksi nyata mahasiswa yang telah menorehkan prestasi hebat di sejarah peradaban bangsa malah dijadikan dongeng sebelum tidur. Bukankah Bung Karno pernah berkata, “jangan sekali-sekali melupakan sejarah”.
 
Permasalahan seperti ini harus segera diatasi sebelum menjadi budaya dalam diri mahasiswa Indonesia. Mahasiswa Indonesia harus bangkit dari tidur panjang yang melenakan, bergerak dan berkarya untuk sebuah perubahan. Lupakan masa lalu yang kelam dan menatap masa depan yang cemerlang. 

Kemudian pertanyaannya, apa yang harus dilakukan mahasiswa saat ini ?
Hal yang harus dilakukan mahasiswa Indonesia saat ini adalah mulai berubah, dan mulai berkarya secara nyata. Tidak perlu sesuatu yang besar, cukup dengan hal yang kecil namun kontinyu. Kemudian mulai dari diri sendiri dan mulai dari saat ini, selalu berpikir positif dan dewasa dalam menyikapi sebuah masalah. Sesungguhnya hal-hal besar terlahir dari sebuah hal yang kecil, belum terlambat untuk berubah. Mungkin saat ini di dunia Internasional, Indonesia terkenal sebagai Negara yang paling banyak korupsi, sistem hukum yang tidak adil dan terkesan berat sebelah, pembajakan hak cipta atau lain sebagainya. Namum optimislah, 20 atau 30 tahun lagi mahasiswa saat inilah yang akan membawa perubahan untuk Indonesia kearah yang lebih baik. Ketahanan pangan, peningkatan ekonomi, kemajuan teknologi, dan hukum yang adil bukan hanya sebuah mimpi tapi impian yang akan tercapai dengan tekad yang kuat.


Dari sekian banyak permasalahan mengenai mahasiswa, Ibu Pertiwi janganlah bergundah hati. Masih banyak mahasiswa Indonesia memiliki sikap-sikap yang idealis dan bercita-cita bangsanya maju. Masih banyak yang seperti Bung Hatta, Khoirul Saleh, dan Sutan Syahrir. Mahasiswa yang memiliki mimpi dan cita-cita yang besar, ide-ide cemerlang untuk pengembangan Indonesia yang gemilang. 

Untukmu mahasiswa Indonesia, berhentilah membanggakan kejayaan masa lalu karena masa lalu hanya tinggal sebagai kenangan. Tapi berkaryalah untuk masa depan yang cemerlang, karena sejarah peradaban bangsa ini berada di tanganmu. Bermimpilah menjadi pembuat sebuah sejarah, bukan penikmat masa lampau.

 *)Oleh: Kak Givo Aulia

Minggu, 26 Februari 2012

Cerita Kita




Terima kasih, Kau membuatku sedikit
damai untuk berani berpikir,
Bahwa akhirnya aku harus
memahamimu sebagai sepotong bagian dari pencarianku…
Bahwa kau bukan cinta sejati untukku berhenti
selamanya…
Tapi kini biarkan sekali lagi aku berusaha membuatmu
mengerti…
Setelah satu permintaan
yang tak mungkin kuteruskan,
Aku akan mencintaimu
dengan cara yang lain…
Aku ingin mencintaimu
dengan membuatmu mengerti,
Bahwa aku mungkin akan meninggalkan
persinggahanku di hatimu
Tapi telingaku tak berhenti
terbuka untuk panggilanmu,
Meski sekedar untuk
membuatmu tak merasa sendiri
Dan tak merasa sepi…
Meski ruang tak akan menempatkanmu dalam
rengkuh pelukanku,
Dan waktu tak akan selamanya membawa aroma
tubuhmu ke ujung hidungku,
Tapi hatiku selalu dekat pada jiwamu yang mampu
membuatku tenang…
Dan pada akhirnya,

Aku tak ingin berhenti
mencintaimu…..

Tuhan, terimakasih telah kau kenalkan aku padanya
Dia yang memberi aku sebuah pelajaran berarti
Tentang rasa mencintai dan mengasihi
Tentang indahhnya hidup ini
Sesungguhnya,
Ada bahagia yang mengalir saat kau bersamaku
Bila kau percaya,
Ada sejuk yang merasuk kala kau isi hariku
Dan bila kau merasa,
kau lah lembaran hangatku
Kuntum-kuntum bunga yang menghiasi hidupku..... 

*Cerpen Tuhan Aku Ingin Menangis






Rabu, 22 Februari 2012

Ayah punya caranya sendiri untuk mencintai kita



“Ayah saya tidak pernah mengatakan kepada saya bagaimana caranya untuk hidup, tapi ia  hidup dan aku mengambil pelajaran darinya ( Cla rence)


       Memang tidak dapat kita pungkiri bahwa keberadaan ayah sebagaiman Ibu tak kan lekang di makan waktu. Ibu kita menunggu waktu Sembilan bulan untuk menunggu kelahiran kita dengan bertaruh nyawa, lalu ayah kita menunggu belasan tahun sejak kita di beri nama untuk bisa di lihat  sebagai manusia dewasa yang hidup dengan kesadaran sebagai orang. Itu pun tak jarak seperti bertepuk sebelah tangan.
       Saat kita sudah remaja, atau ketika kita sudah beranjak dewasa, ketika sudah memiliki kesibukan baru di luar rumah., semakin tidak ada waktu untuk Ayah kita, Maka dalam hatinya ia berkata, ”Anakku mulai menjauh dariku dan takkan ku rengkuh kembali seperti ketika ia saaat kanak-kanak.”. Galau, karena kita sudah memiliki dunia kita sendiri, Risau karena jarakpun terus bertambah jauh.
       Saat kita benar-benar meninggalkan rumah, karena tuntutan pertumbuhan diri, kegalauan itu semakin bertambah. “Sejak suara tangismu, Sejak ku lantunkan suara adzan ke telingamu aku begitu menyayangimu. Ya, kau adalah permata hatiku. Namun, kau bukanlah selamanya milikku”.

“Rumah ini hanya persinggahan dalam perjalanmu menuju kedewasaan. Kini sudah hampir masanya kau pamit. Walau di hatiku terpancar sedikit rasa pahit. Tapi siapalah aku yang yang dapat menahan perjalanan sang waktu? Siapalah aku yang dapat menahan realita kedewasaan? Maafkan aku wahai anakku”.
“Bukan aku tidak rela kau pergi, tetapi karena aku terlalu mencintaimu! Hatiku bertanya-tanya adakah orang lain yang mencintaimu dan menjagamu sepenuh hati?. Sejak kau berjalan tertatih aku melihatmu jatuh tanpa rasa letih. Ku balut lukamu dengan hati-hati agar kau tak menjerit sakit. Tapi, jika suatu hari hatimu terluka, Siapakah yang akan membalut lukamu dalam perjalanan hidupmu?

       Kepada kita anak lelakinya ayah berpesan, “Jadilah lebih kuat dan tegar dari aku, pilihlah Ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik, berikan yang terbaik untuk menantu dan cucu-cucuku daripada apa yang telah aku beri padamu”.

        Kepada kita anak gadisnya Ayah berpesan,”Jangan cengeng meski kamu seorang anak perempuan. Jadilah sellau bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak. Laki-laki yang akan melindungimu melebihi perlindungan Ayah. Tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah dihatimu”.
        Dalam pesan-pesannya Ayah hanya ingin memastikan bahwa kita telah ia titipkan kepada Dzat yang Maha Menjaga. Semua ia lakukan untuk melengkapi apa yang telah ia berikan.
       Akan tetapi, kelak ketika kita akan menikah, detik-detik memulai hidup baru adalah detik-detik perpisahan bagi orangtua kita. Tidak secara ikatan tapi secara kesempatan. Jika sesaat kala iti dia Nampak menjauh dari pandangan kita, mungkin mereka sengaja menghindar untuk menyeka air matanya yang tak mampu ia tahan. Saat itu begitu menyenangkan bagi kita. Tapi ayah dan ibu, seolah menanti detik-detik akhir kebersamaan. Dan merekapun hanya terdiam.

Firman Allah dalam Al-Qur’an :
“Wahai Tuhanku. Kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil (QS. Al-Isra’ : 23-24)

 Ayah punya caranya sendiri untuk mencintai kita..............

Ada Hantu di Sekolah


       Duh pelajaran seni budaya kok lama banget ya? perutku udah demo nih teriak-teriak minta diisi. Kapan keluarnya sih nih Ibu Eni? Sambil garuk-garuk kepala, aku menyoret-nyoret buku bersampul biru milikku dengan tulisan yang enggak jelas.

       “Anak-anak, karena seni budaya tidak ada dalam mata pelajaran UAS jadi ibu mau nilai uas kalian diganti dengan pementasan drama di setiap kelas. Untuk tema bebas, jadi satu kelas dibagi  menjadi 7 kelompok, dan pementasan drama dimulai dari satu minggu yang akan datang. Untuk pelajaran hari ini ibu cukupkan sekian, terimakasih.” Ibu Eni pun berlalu pergi meninggalkan kelas. Sementara anak-anak di kelas saling menggerutu kesal mengapa harus ada pementasan drama disaat kami sibuk menyiapkan ujian nasional.

       Akhirnya setelah cukup sabar menanti, tiba juga waktu yang sangat aku tunggu-tunggu. Ya, lonceng sekolah yang seharusnya sudah dimuseumkan itu berbunyi yang menandakan waktu jam pulang telah tiba. Pikiranku sudah tertuju pada kantin sekolah dan membayangkan lezatnya soto ayam Bu Sulastri yang paling enak sejagad raya. hemm kelezatannya serasa sudah menempel di ujung lidahku. Hoalah lebay ya...hihi.

       Aku beranjak ke kantin bersama lima orang sahabat seperjuanganku, Chika si bawel, Arga si kutu kampret ups kutu buku maksudnya, Sherin yang centil, Boni si gendut dan yang terakhir Dika si ganteng kalem. Kalo aku siapa ya? Si baik hati aja deh (PD abis ya…haha).

      Selama di kantin sekolah, kita sibuk menyusun strategi tema apa yang akan kita ambil untuk pementasan drama. Akhirnya setelah berunding dengan perdebatan yang cukup alot kita memutuskan bahwa kisah persahabatan kita yang konyol inilah yang akan mewarnai panggung aula sekolah. Seperti biasa aku ditunjuk sebagai penulis skenario. Teman-temanku menyarankan kalau naskah harus dikemas seapik mungkin dengan dibumbui komedi di dalamnya.

       “Na, awas ya peran gue jangan yang jelek-jelek amat” ujar Bogi meminta peran yang baik padaku.
       “Tenang aja Gi, besok gue pastiin naskah udah jadi. Udah ada di kepala gue nih cerita apa yang bakal gue bikin..Hehe” paparku sambil tertawa.
       “Iya loh Na, peran gue juga jangan yang aneh-aneh awas aja loh, enggak bakal gue kasih tiket nonton gratis lagi” ujar Sherin mengancamku.
       “Eh, dimana-mana tuh pemain nurut aja ma sutradaranya dikasih peran apapun harus PROFESIONAL” imbuhku. Akupun senyum-senyum sendiri mengingat cerita apa yang akan aku buat.

***

        Makan soto di kantin berlalu dan dilanjutkan proses pembuatan naskah di rumah Chika (proses pembuatan naskah? udah kaya mau buat naskah proklamasi aja ? haha). Tapi tidak semua teman-temanku ikut. Hanya ada aku, Sherin, Chika dan Dika sementara Bogi dan Arga beralasan ada urusan keluarga. Dengan mimik wajah serius aku menyusun naskah dan menentukan peran apa saja yang cocok untuk sahabat-sahabatku ini. Ditemani secangkir jus jeruk dan setumpuk cemilan akhirnya selesai juga naskah drama seni budaya.

       “Nih udah jadi baca deh, pasti kalian bakal tertawa terbahak-bahak” aku pun menyodorkan naskah itu pada Dika, sementara Chika dan Sherin terlihat sangat penasaran. Belum saja  mereka selesai membaca naskah tersebut, ketiganya langsung tertawa terpingkal. Karena dalam naskah  drama tersebut Bogi dan Arga berperan sebagai Dono dan Jono. Dono berkarakter keren tapi budek sementara Arga culun abis dengan kaca mata kuda dan tompel besar di pipi sebelah kirinya.
       “Wah parah ya lu Na…hahaha lucu tau, enggak kebayang tampang bloonnya si Bogi sama Arga meranin tokoh Dono dan Jono,” Dika begitu terlihat puas tertawa membayangkan peran Bogi dan Arga.
       “Udah kaya anak kembar kali ya mereka berdua. Kembar tapi beda…hehehe” ujar Chika menimpali.
       “Udah dulu ketawa-ketawanya disimpen buat besok aja ya kasian tau mereka? Lagian siapa suruh mereka enggak datang” ujarku mencoba sok bijak padahal dalam hatiku, aku juga tertawa geli seperti mereka hahaha.

       “Oh ya, ya ampun gue nyampe lupa. Sore ini kan gue tuh mau ke salon sama nyokap gue” Dengan gaya centilnya Sherin menepuk jidatnya yang seperti lapangan golf tapi terhalang oleh poni kudanya (hehe…Sssstt jangan bilang-bilang ya).
       Akhirnya karena hari sudah mulai petang, Kami semua pun memutuskan untuk pulang.

***

       Meskipun naskah sudah selesai aku buat dan semua sahabatku menerima peran masing-masing tapi kami tidak pernah melakukan latihan sekalipun karena masing-masing disibukkan dengan jadwal mempersiapkan ujian nasional. Pagi hari, kami belajar seperti biasa di sekolah. Siang, tambahan jam belajar membahas soal-soal UAN tahun sebelumnya di sekolah. Dan sore harinya sampai jam 6 malam kami harus mengikuti les di tempat yang berbeda. Sedangkan hari Minggu kami di sibukkan dengan Try Out. Sampai saat pementasan hanya tinggal satu hari lagi, kami pun mencoba menyempatkan diri untuk latihan. Setelah berunding, waktu yang cocok adalah sepulang les jam 6 malam di sekolah. Meskipun menuai pro dan kontra, Ya mau dikata apalagi deadline hanya tinggal menghitung hari.

       “Guys, pokonya kalo lo pada udah  selesai lesnya kalian harus pada langsung ke sini. Kita janjian di pintu gerbang depan sekolah. Ok???” ujar Dika si kutu kampret dengan antusias. Anak-anak yang lain cukup mengiyakan, urusan datang apa enggaknya sih belakangan.

       Setelah seharian berkutat dengan soal-soal dan pembahasannya UAN tahun lalu, malam mencekam  itu pun datang. Dan petualangan itupun dimulai.
       Saat aku tiba di gerbang sekolah, hanya ada Chika dan Bogi saja yang menunggu disana. Sementara yang lainnya dan si kutu kampret dika yang suka ngaret juga belum tampak batang hidungnya. Setelah kurang lebih menunggu 20 menit, akhirnya personil kami lengakap juga ( Band kali ya??).

       “Eh, yakin nih kita mau latihan di aula? Itu kan jauh. Kalian tau kan belakang sekolah kita itu kuburan?” Ujar Chika yang begitu penakut.

      “Tenang aja, lo ga sendiri kali ada kita-kita juga. Makannya jangan bawel. Nanti kalo ada setan yang jatuh cintrong ama lo gimana coba?” Dika pun menakut-nakuti Chika.

      “Hushhh jangan ngomong sembarangan,” Bogi pun membekap mulut Dika. Sementara kami terus menyusuri koridor sekolah. Suasana sekolah begitu tampak sunyi. Tak ada keramaian seperti yang biasanya aku lihat pagi hari. Hanya ada Pak Tono yang tampak sedang menyalakan lampu ruang guru, Dia hanya melirik sedikit dan tersenyum getir pada kami, padahal Pak Tono selalu bersikap hangat pada kami. Entah kenapa sikap Pak Tono sore itu sedikit berbeda. Ruang guru menyala, sementara kelas-kelas dibiarkan gelap tanpa ada penerangan sedikitpun. Kutengok kanan kiri, suasana sekolah di malam hari begitu menyeramkan. Gelap, semua ruangan kosong tak berpenghuni. Tak ada suara sama sekali. Hanya suara hentakan langkah kaki kami yang terdengar sepanjang menyusuri koridor sekolah. Aku bergandengan tangan  begitu erat dengan Sherin dan Chika.

       Setelah hampir 15 menit kami melawan rasa takut, akhirnya tiba juga kami di aula sekolah. Karena saat itu adzan maghrib sudah berkumandang, kami memutuskan untuk shalat terlebih dahulu. Saat aku dan teman-teman lainnya hendak berwudlu di mushola yang berhadapan dengan aula sekolah. Aku melihat pohon mangga di taman sekolah begitu menyeramkan, daun-daunnya melambai tertiup angin, membuat bulu kuduk merinding. Mulutku tak henti berkomat kamit membaca ayat suci Al-qur’an yang aku bisa. Begitu pun aku melihat teman lainnya. Mereka juga tak henti komat kamit karena jiwa penakut saat ini sedang menghantui kami. Karena konon ceritanya, saat anak pramuka menginap di sekolah, ada yang melihat sosok yang menyeramkan di pohon mangga, sampai  orang yang melihat makhluk itu kesurupan. Baru saja aku melangkahkan kaki kananku ke mushola. Tiba-tiba lampu mushola mati. Sontak saja kami semua berhamburan mencoba untuk keluar dari mushola, sementara Chika masih berada dalam mushola. Ia teriak sekencang-kencangnya dan menarik celana Dika sampai melorot karena Chika phobia dengan gelap. Eh enggak taunya, lampu mushola sengaja dimatikan sama si gendut Bogi. Sementara itu, ia muncul dari balik pintu sambil  cekikikan melihat raut wajah takut kami.

      Saat lampu sudah menyala ....
“Heh tadi lu kentut ya?” tanya Chika serius pada Dika.
“Dikit.. maklum Efek takut juga Ka hehehe” Dika tertawa kecil.
“Ih..Dika jorok banget sih lu. Sedikit tapi baunya sekilo tau enggak?” tawa pun pecah di mushola sekolah. Hahaha lucu sekali tingkah mereka sampai aku tertawa geli di buatnya. Arga dan Bogi pun begitu puas melihatnya. Kurang asem si Bogi enggak tau apa kalo yang ada dihadapan dia ini manusia-manusia parno semua  sama hal yang begituan. Huuhh  kita semua dibuat sport  jantung sama dia. Karena enggak mau berlama-lama di sekolah, lelucon Bogi tak begitu kami anggap serius. Dan kita memutuskan untuk Shalat berjama’ah dan Arga lah yang menjadi imam.

       Shalat maghrib selesai dan kami kembali ke aula, latihan drama sesuai naskah dan peran masing-masing. Latihan berjalan lancar tanpa sedikit hambatan walau harus beberapa kali diulang karena salah. Tapi tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 08.30 WIB.
       “Eh temen, udah dulu yuk latihannya. Udah jam setengah sembilan nih. Gue mau pulang ah nanti nyokap gue nyariin,” Chika merasa takut kalo-kalo pas dia pulang di sambut sama omelan nyokapnya.
       “Iya sih pulang ajah yuk…jujur perasaan gue dari tadi gak enak nih” ada sesuatu yang mengganjal di hatiku malam itu.
       “Okeh kita lanjutin besok pagi-pagi ya soalnya kan kita kan kelompok dua. Tapi kita ke gerbang depannya bareng-bareng ya” pinta Sherin memohon.
       “Siipp yaudah kita pulang yuukkk….” ajak Bogi.

      Malam begitu mencekam, ditambah lagi suara gemuruh yang bersahut-sahutan pertanda akan turun hujan. Kami berjalan bersama ditengah lapangan upacara, hanya dengan diterangi cahaya rembulan. Jujur aku begitu takut karena memang kata cerita satpam sekolah, biasanya saat malam seperti ini siswa yang sudah meninggal karena kecelakaan sering berkeliaran di sini. Jantungku berdegup kencang saat melewati pohon rindang yang berada di depan perpustakaan.
       “Na, gue takut nih. Pegang tangan gue erat-erat ya” sambil celingak celinguk Sherin berbisik padaku. Aku dan yang lainnya pun terus melangkah begitu cepat. Tanpa terasa rintik-rintik hujan mulai membasahi baju kami.

       “Eh, Hujan, cepetan dong jalannya” seru Arga yang berada di depan.
Jantungku terus berpacu lebih kencang, Langkah Arga tiba-tiba terhenti.
       “Eh Guys, lo pada liat sesuatu enggak?” tanya Arga gemetar.
       “Apaan?? Ah lo jangan nakut-nakutin plis deh. Awas aja kalo kejadian di mushola tadi terulang lagi” kataku mengancam.
      “Iiiya Na…gue juga liat”  kata Bogi dengan suara berat.

      Setelah mendengar hal yang sama dari Bogi akupun mulai percaya dengan apa yang dibilang Arga. Meski aku sendiri tidak melihatnya. Peluh dingin bercucuran. Bajuku basah dengan air hujan bercampur dengan keringat.
      “Aaaaanti…gue liat Anti depan kelasnya melihat ke arah kita. Ayo cepetan sumpah gue enggak boong,” ucap Bogi gemetar. Anti adalah salah satu siswa yang dua minggu lalu mengalami kecelakaan dan tewas seketika di ruas jalan sudirman.
       Tidak ada jalan lain, kami pun memutuskan untuk lari sekencang-kencangnya. Bogi memberi aba-aba 1….2….3…. Lariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii...

       Ditengah hujan yang mengguyur tubuh kami, kami berlari ketakutan di tengah lapangan upacara dengan masih mengenakan seragam sekolah. Aku, Chika dan Sherin pun tak berani menengok kanan kiri, pandangan kami lurus ke depan tanpa melihat kelas-kelas kosong yang ada di kanan kiri kami. Tiba-tiba saja saat tiba di depan ruang guru lonceng kuno sekolah berbunyi padahal di ruang guru tak ada seorangpun disana. Sehingga kadar ketakutan kami pun semakin menjadi. Tiba-tiba kacamata Arga terjatuh. Karena kaca mata Arga jatuh, dia sempoyongan ddan tidak bisa melihat dengan jelas. Tong sampah sekolahpun ia tabrak hingga sampah-sampah berserakan dan terdengar suara bising karena tong sampah berbahan dasar kaleng. Sampah-sampah pun menempel pada baju Arga. Antara rasa ingin ketawa, kasian dan ketakutan campur aduk saat itu.

       “Heh, tungguin gue!!! Kaca mata gue jatoh nih gue enggak bisa liat” kata Arga sempoyongan dengan membawa sampah yang menyangkut di tasnya..
       “Haduh ada-ada ajah sih lo pake acara kacamata lo jatoh segala” balas Dika.
      “Udah jangan banyak ngomong cepet tuh tuntun si Arga” ucapku kesal melihat tingkah mereka. Dan mereka berdua memimpin di depan.

      Aduh kenapa disaat darurat seperti ini gerbang sekolah terasa jauh sekali? Ketika hanya tinggal beberapa langkah lagi menuju gerbang sekolah, ada sosok berbaju putih di bawah pohon akasia sekolah terlihat sedang tertunduk memungut sesuatu. Aku penasaran dan bertanya-tanya dalam hati apakah itu sesosok hantu? Karena Arga tidak menggunakan kacamata dan Dika tak menuntunnya, Arga pun menabrak sosok itu.

      “Ahhhhhhrrrggghhhhh Hahahahahantuuu………..” Arga pun berteriak.
Dan sosok yang sempat kami kira hantu itu mengarahkan lampu senternya pada kami. Dan dia adalah Pak Tono si penjaga sekolah.
      “Pak Tono??? Mau nagapain malem-malem kesini? Tanyaku.
      “Harusnya saya yang nanya, ngapain kalian malem-malem di sekolah masih pake seragam lagi?”
      “Kita abis latihan drama buat besok Pak !!!!” Chika pun menjawab.
     “Kalo Bapak, mau menyalakan lampu sekolah soalnya tadi belum sempet dinyalakan. Karena Bapak ketiduran.” Jawab Pak Tono singkat jelas padat.
      “Hah terus yang tadi kita liat nyalain lampu ruang guru siapa dong?” Tanya Arga heran.
       Tubuhku lemas seperti tak ada tulang, pandanganku perlahan terlihat kabur dan akhirnya mataku terpejam dan gelap seketika alias pingsan. -_-


Jumat, 10 Februari 2012

Cerita Kita Di Bawah Naungan Langit Senja




       Suatu siang di bulan Mei langit begitu cerah, kepulan awan putih begitu terlihat indah meliputi langit yang membiru. Di sudut taman sekolah, Risa terlihat begitu asyik membaca sebuah  novel. Ia pun tak menyadari bahwa ada Sisil yang sedari tadi berada di sampingnya.

       ”Hey, asyik banget sih baca novelnya sampe aku dicuekin gini,” ujar Sisil menggerutu sambil menepuk bahu Risa.
       ”Ups, sorry banget ya lagi seru nih Sil tanggung dikit lagi selesai novelnya,” Risa tetap fokus membaca novel My Last Love karangan Agnes Davonar dengan lollipop berwarna merah yang digenggamnya.

         Setelah selesai membaca novel Risa malah tertawa kecil melihat sahabatnya cemberut memandangnya.

       ”Sisil sayang, jangan ngambek ya. Aku lagi seru banget tadi baca novelnya. Senyum dong kalo senyum kamu tuh cantik banget tau Sil. Hehe…” Risa pun terus merayu Sisil.
       “Uda deh lupain..hehe. Ada hal yang lebih penting yang mau aku omongin sama kamu,” Sisil begitu tampak serius.
       “Apaan sih emang, serius banget?” tanya Risa penasaran.
       “Kalo aku perhatiin, kayaknya akhir-akhir ini Reza sering banget berduaan sama Diana ketua Ekskul KIR dibanding sama kamu?”
       “Mereka kan lagi sibuk mau ikutan lomba karya ilmiah remaja bulan depan nanti. Ya maklumlah kalo mereka deket. Aku yakin Reza bisa menempatkan dirinya dengan baik dan dia enggak akan lupain kita,” jawab Risa tenang.
       ”Tapi kamu enggak jeles apa Sa liat kedeketan mereka?”
       ”Hellooow, Sisil sayang aku sama Reza tuh cuma sahabatan enggak lebih. Lagian, enggak semua urusannya harus sepengetahuanku juga kan?” Belum sempat Sisil menjawab Reza pun datang dengan tiba-tiba.

       ”Woi pada ngerumpi mulu nih cewek. Ngomongin apaan sih?” seketika membuat Sisil yang sedang menyeruput jus jeruk tersedak.
       ”Ada deh rahasia perempuan, cowok enggak boleh tau” ujar Sisil sinis lalu berlalu pergi. Sisil terlihat acuh pada Reza yang akhir-akhir ini sibuk dengan dunianya sendiri dan terkesan melupakan pertemanan mereka.

       ”Kenapa sih tuh makhluk, ko jadi aneh gitu?” tanya Reza heran. Risa tak menjawab hanya sebatas menaikkan bahu dan mengernyitkan dahinya.
       ”Sa, ke tempat biasa yuk?” Reza tersenyum dan Risa pun mengiyakan ajakan Reza.
Mereka pulang bersama. Keduanya tampak larut dalam gelak tawa. Seperti biasa mereka selalu menghabiskan waktu bersama saat senja tiba, di atas gedung kosong yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Dari atas gedung mereka dapat menikmati kilauan cahaya senja yang begitu menakjubkan. Seakan dapat menyatu dengan alam di bawah naungan langit senja mereka menoreh cerita.

       Reza dan Risa sudah tampak terlihat seperti dua sejoli yang tidak dapat terpisahkan. Tapi bukan dalam hal pacaran, melainkan persahabatan mereka yang sudah terjalin cukup lama sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama hingga kini mereka duduk di kelas 3 SMA. Ibarat pribahasa, ada gula ada semut. Setiap ada Reza, pasti ada Risa. Mereka sudah seperti anak kembar. Selalu terlihat bersama dalam hal apapun. Tapi tak jarang pertengkaran pun mewarnai persahabatan mereka. Hanya saja mereka cenderung bersikap diam jika ada sesuatu hal yang mengganjal diantara keduanya. Seringkali teman-teman mereka mencomblangkan keduanya untuk menjadi sepasang kekasih, namun tak satupun usaha mereka yang berhasil, karena bagi mereka persahabatan itu jauh lebih indah dari pacaran, pacaran bisa putus. Tapi tidak dengan persahabatan yang mereka yakini akan berlangsung sampai mereka beranjak tua nanti.

***

       “ Za, coba liat deh langitnya indah banget ya. Kayaknya ini langit senja terindah yang pernah aku lihat,” Risa begitu terkagum-kagum melihat perpaduan warna lagit antara kebiruan-biruan dan kemerah-merahan. Reza hanya tertegun melihat raut wajah sumringah Risa. Ia tak ingin membebani pikirannya, Sehingga Reza pun mengurungkan niatya untuk menceritakan kegundahan hatinya.

       ”Iya Sa, bagus banget ya. Eh foto berdua yuk? Backroundnya keren nih?” Reza mengeluarkan kamera digital dari dalam tasnya.

       ”Boleh, boleh. Disini aja Za, supaya langit senjanya keliatan,” Risa menunjuk tempat yang sangat strategis. Mereka pun bergaya senarsis mungkin untuk sekedar dokumentasi pribadi. Dengan mengatur timer otomatis mereka berpose ria tanpa canggung karena mereka yakin tak ada seorangpun yang melihat gaya gokil mereka.

       ”Eh aku liat coba Za, bagus enggak?” Risa penasaran melihat hasil jepretan fotonya dengan Reza. Risa dan Reza tersenyum melihatnya.
       “Lucu kan Sa?” tanya Reza.
       ”Ih… lucu banget yang ini Za. Tapi kamunya jelek banget merem..hehehe. Nanti aku pake profil facebook ah” Reza merebut kamera digitalnya dari genggaman Risa.
       “Eits jangan yang itu, yang ini aja aku keliatan lebih ganteng, awas aja kamu anak  kecil kalo macem-macem”
      “Iya jeleeeek” Risa mencubit pipi Reza gemas. Keduanya pun meninggalkan gedung kosong itu dengan riang sambil tertawa-tawa.
       Langit sudah terlihat gelap, langit senja pun perlahan menghilang tertutup oleh kabut malam. Mereka berdua pun memutuskan untuk pulang.

       Kedekatan mereka berdua membuat setiap orang yang berada di sekelilingnya merasa iri, apalagi Reza mempunyai otak yang sangat cerdas dan selalu menjadi juara setiap ada Olimpiade Sains baik antar sekolah hingga menembus tingkat provinsi. Sedang Risa, meski ia hanyalah siswi biasa tapi ia mempunyai pribadi dan paras yang cantik sehingga tidak sedikit teman pria yang jatuh hati padanya. Namun, keduanya enggan menjalin cinta sampai nanti saatnya tiba.

***

         Satu minggu kedepan ini, ujian nasional dilaksanakan sehingga pertemuan Risa dan Reza pun tidak sesering seperti hari biasanya. Mereka hanya bertemu ketika pergi dan pulang sekolah bersama. Mereka fokus pada satu tujuan untuk lulus ujian nasional dan melanjutkan ke perguruan tinggi.

       Hari terakhir ujian nasional pun telah berlalu. Matahari telah condong ke barat. Sinarnya berwarna kuning kemerahan. Tampak rona bahagia menghiasi raut wajah keduanya. Dengan mengendarai sepeda motor milik Reza, mereka pergi ke tempat yang biasa mereka kunjungi. Mengahabiskan waktu sore dengan melihat semburat cahaya jingga bersama.

       Anak tangga mereka lalui satu demi satu hingga akhirnya sampai di puncak gedung, Risa termenung menatap langit memperhatikan keharmonian alam. Ia duduk sambil mendekap lututnya, pandangannya menerawang kosong. Sedang Reza merebahkan tubuhnya di atas puing-puing kayu yang dialasi sebuah tikar, mendonggakkan kepala ke langit yang tinggi bermain dan berimajinasi dengan kepulan-kepulan awan sambil memainkan jari telunjuknya seakan melukis dan menulis di langit bercahaya jingga.
       “Za, liat deh awan yang itu. Kumpulan awannya membentuk kelopak bunga yang indah seperti lukisan yang pernah aku buat”
       “Kalo aku melihat awan itu seperti pesawat terbang impianku. Hemm aku jadi pengen keliling dunia Sa,” Keduanya mengimajinasikan impian masing-masing.

       Hening..................

       Tiba-tiba alunan merdu evanescence My Immortal yang bersumber dari ponsel Risa membuyarkan lamunannya. Dirogohnya tas yang sedang di dekapnya. Ternyata  ada sebuah pesan masuk dari Reza yang berada tepat di belakangnya. Tertulis pesan,
       Sa, kamu nengok dong. Aku pengen cerita sama kamu. 

       Risa menoleh dan Reza membalasnya dengan senyum.
       “Ya ampun deket gini juga pake sms segala. Buang-buang pulsa”
       “Orang kaya gitu loh.hehehe. lagian kamu juga ngelamun aja”
       ”Mau cerita apa sih emang, penting ya?” Risa menopang dagunya dengan posisi tepat di depan wajah Reza.
       ”Aku lagi bingung Sa. Susah ya menentukan sebuah pilihan di antara dua pilihan”
       ”Maksudnya?” tanya Risa bingung.
       ”Kamu tau kan Sa cita-cita aku dari kecil itu apa? Aku pengen jadi pilot Sa, nanti kan aku bisa ajak kamu keliling dunia. Tapi Ibu enggak setuju. Ibu lebih setuju kalo aku ambil PMDK di ITB, karena jaraknya enggak terlalu jauh bisa pulang pergi Jakarta - Bandung” Reza menatap Risa, berharap Risa akan memberikan solusi.
       ”Kalo menurut aku sih, kamu turutin apa kata Ibu kamu aja Za, kan kalo kamu sekolah penerbangan di Makassar jauh banget. Nanti yang jagain aku disini siapa?” goda Risa.
       ”Emang aku babby sister kamu pake jagain kamu segala ?” ucap Reza nyolot tapi sambil tertawa kecil.

         Risa tampak murung. Ada gurat kesedihan diwajahnya. Tapi bukan karena ucapan Reza sebelumnya terlebih karena ia takut jika ia akan kehilangan sosok sahabat seperti Reza yang begitu setia mendampinginya baik ketika harinya dipenuhi gelak tawa ataupun ketika harinya dirundung lara. Karena selama enam tahun  terakhir ini, Rezalah yang selalu menjadi penopang Risa di saat Risa rapuh. Entah siapa yang akan menemani harinya jika Reza memilih kuliah di Makassar.
***


         Hari kelulusan itupun tiba. Dengan hati berdebar-debar Reza membuka amplop kelulusan, lalu disusul dengan Risa dan Sisil. Dengan penuh syukur Reza tersenyum girang. Bahwa dalam amplop tersebut jelas tertulis kata LULUS. Risa dan Sisil pun demikian. Jika tak ada orang di sekelilingnya saat itu  mungkin Risa sudah loncat-loncat girang. Reza menatap Risa, keduanya saling pandang. Keduanya begitu tampak bahagia Karena setiap kali kebahagian Risa itu pula yang akan menjadi kebahagiaan Reza, begitupun sebaliknya.

***

        Malam itu..hawa dingin menelusuk hingga menembus tulang rusuk. Bintang-bintang penghias malam pun tak terlihat karena  di telan awan malam. Di teras rumah Risa, Reza mengungkapkan apa maksud tujuannya mengajak Risa bicara.

       ”Sa, aku mau pamit sama kamu. Akhirnya Ibu mengizinkan aku  kuliah di Makassar, melanjutkan pendidikanku di sekolah penerbangan. Besok malam aku berangkat,” Reza begitu hati-hati bicara pada Risa. Karena Reza tahu Risa begitu tidak menginginkan perpisahaan ini.

       ”Wah asyik dong Za nanti kamu jadi pilot, terus aku ikut keliling dunia sama kamu ya  Za,” Risa tersenyum getir, ia mencoba menyembunyikan kesedihannya. Karena ia tak ingin terlihat cengeng didepan Reza.
       ”Besok temui aku di tempat biasa ya Sa. Aku harap kamu datang. Karena aku ingin melihat langit senja sama kamu sebelum aku pergi ke Makassar,” sesaat Risa diam.
       ”Tapi aku ga janji ya Za,” Risa beranjak dari kursi meninggalkan Reza. Sementara Reza menikmati keheningan malam dengan secangkir coklat hangat yang sebelumnya disuguhi oleh Risa.

       Di kamar....Risa menangis pilu, wajahnya sendu. Betapa menyakitkannya perpisahan ini. Risa memandangi fotonya dengan Reza. Enam tahun bukan waktu yang sebentar dalam mengarungi sebuah kisah persahabatan. Persahabatan mereka begitu indah. Seindah angan mereka mengukir mimpi tatkala senja tiba. Reza yang mempunyai mimpi menjadi seorang pilot, sementara Risa ingin menjadi desaigner terkenal. Padahal Risa selalu berharap bisa satu kampus dengan Reza. Namun kali ini cita-cita harus memisahkan persahabatan mereka.

***

       Sore hari, di gedung kosong tempat dimana Reza dan Risa menghabiskan harinya, dengan setia Reza menunggu kedatangan Risa. Ia berharap dapat melihat senja bersama sebelum pergi menuntut ilmu ke Makassar. Sesekali ia melirik arloji yang melingkar di lengannya namun Risa tak kunjung tiba. Sore itu langit beratapkan kilauan warna jingga yang berpendar dengan indahnya, tapi sayang kali ini Reza menikmatinya tanpa ditemani Risa. Saat ia hilir mudik kesana kemari, tak sengaja ia menginjak sebuah kertas. Ternyata kertas itu adalah surat dari Risa. Diambilnya lalu dibacanya surat tersebut,
    
        Reza, sahabat terbaikku. Maaf, aku tak bisa menemuimu. Mungkin kau cukup tahu alasanku mengapa aku tak ingin menemuimu. Aku tak ingin jikalau air mataku jatuh saat aku melepas kepergianmu, itu akan menjadi beban buatmu. Enam tahun melewati hari denganmu begitu indah kurasakan. Tak pernah kutemui sahabat sebaik dan setulus dirimu. Begitu banyak kenangan indah yang telah kita rajut bersama. Apalagi di tempat yang saat ini sedang kau pijak, di bawah naungan langit senja kita menorehkan sebuah cerita. Kisah persahabatan yang penuh dengan kebahagiaan dan kebersamaan, tak jarang juga diwarnai dengan kesedihan ataupun pertengkaran  Namun, kebahagiaan itu lebih nyata dari sebuah kesedihan. 

        Kau yang selalu melengkapi kekuranganku, menjadi penopang dalam sedihku, mengukir tawa dalam hariku.  Aku tak tahu. apa selepas kepergianmu aku masih mampu menginjakkan kakiku diatas gedung itu? Rasanya, aku tak mampu berdiri di tempat itu tanpa kehadiranmu. Hanya aku dan kamu yang dapat membuat gedung kosong yang lama mati itu hidup. Mempunyai sahabat terbaik sepertimu itu adalah hal terindah yang Tuhan titipkan untukku.
      Ketahuilah, cerita kita memang tak sempurna. Namun begitu penuh warna karena pernah ada tangis dan tawa di dalamnya. Semoga waktu tak membuat kita lupa, bahwa pernah ada satu cerita indah diantara kita.

     Reza sahabat terbaikku,
Pergilah meraih impian, aku sebagai sahabatmu hanya bisa mendoakan. Semoga apa yang selama ini kamu cita-citakan kelak akan menjadi kenyataan. Satu pesanku untukmu, bahwa impian itu ada tidak hanya sekedar untuk diimpikan tapi juga untuk diwujudkan. Jika memang ini pilihanmu, jalani. Yakinlah, Tuhan akan mempermudah jalanmu. Senyum terindahku, kuberikan untuk menemanimu pergi sahabatku tersayang.

                                                                                                                                        Sahabatmu,

                                                                                                                                             Risa 

       Reza, terdiam membaca surat dari Risa. Ia tak mampu berkata apa-apa, hanya ada sedikit air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Begitu berat baginya meninggalkan Risa. Risa, sosok gadis periang yang selama enam tahun terakhir ini menyuguhkan tawa dalam harinya kini sedang berduka karenanya.

       Yakinlah Sa, ini hanya sementara. Suatu saat nanti aku pasti akan kembali untuk mengajakmu keliling dunia seperti impian indah kita yang telah  kita ukir bersama di bawah naungan langit senja. Risa, sampai kapanpun kau akan tetap menjadi sahabatku selamanya tuturnya dengan suara parau.