Senin, 30 April 2012

Ketika Senja Kita Berkabut Duka


Rega Afrizal dan Aini Nur Latifah

Aksara dan coretan dalam bait-bait kata ini , Ku bingkiskan sebagai kenangan terakhir dariku untukmu…
Mungkin suatu masa nanti,
Senja tak dapat kulihat lagi melukis wajahmu dalam indahnya jingga di suatu soreku,
Mungkin pula tak pernah ku tahu kemana awan berarak membisu
Kala senjaku berkabut rindu,
Ketika jarum gerimis menghias ruang jemari waktu,
Menjemput malam menuju peraduan
Memeluk bayang dalam erat impian
Tak akan pernah aku lupa, kala erat jemari menemani resah rindu di hati kita
Di kala senda gurau menghiasi jalinan kisah yang terpaut mesra
Tentangku yang berjalan dalam kisah hidupmu
Tentangmu penoreh cerita terindah dalam hidupku…
Jika nanti kau merindukanku
Ingatlah aku dalam kenangan lalu
Karena mungkin saat itu aku telah jauh disana dan telah berlalu dalam kisah yang pernah kita ukir dulu
Ketahuilah, kau kan tetap menjadi sahabat terindah dalam hatiku,
Karena kau adalah mimpi yang selama ini menguatkanku,
Kau sahabat terindah yang takkan kubiarkan waktu menghapusmu
Jika esok aku telah tiada
Mungkin pula aku telah hilang di rimba asa
Atau mungkin senja menenggelamkan raut rupa
Ku harap kau tegar melangkah dalam setiap lembar kisah yang akan tercipta..
Untukmu sahabat terindahku,
Ingatlah..
Bahwa aku takkan pernah sedetikpun meninggalkanmu,
Sadarilah..
Hanya sebatas ragaku ini yang melambaikan salam perpisahan
Namun hati ini takkan pernah beranjak pergi dari sisimu
Persahabatan…
Kerinduan…
Kenangan…
Terukir indah dalam sebuah bingkai kehidupan..
Jika aku boleh meminta pada Tuhan,
Aku tak pernah ingin ada perpisahan…
Aku tak pernah ingin ada kehilangan…
Aku tak pernah ingin ada kematian…
Ketahuilah…Bukan karna aku ingin melepasmu,
Namun jemari takdir terlalu erat menahan khilaf jiwa yang tak pernah aku minta…

*) Dalam cerpen Cerita kita di bawah naungan langit senja part 2 :D

Bukan karena takut berpisah dengan dunia



Tatkala Amin bin Abdillah At-Tamimi, seorang tokoh tabi’in terkemuka sakit menjelang wafatnya, para sahabat beliau menjenguknya dan mereka mendapatkan beliau sedang menangis. Mereka bertanya, “Apa yang menyebabkan anda menangis, padahal anda memiliki banyak keutamaan ini dan itu?” Beliau menjawab,” Demi Allah aku menangis bukan karena ingin lama hidup di dunia atau takut menghadapi kematian, akan tetapi aku menangis karena jauhnya perjalanan dan alangkah sedikitnya bekal. Sungguh saya berada di antara tebing dan jurang. Bisa jadi ke surga bisa pula tergelincir ke neraka, saya tidak tahu dimana saya akan sampai…” Kemudian beliau mengehela nafas pelan sedang bibirnya basah dengan dzikrullah.
Begitulah karakter generasi terbaik, amalnya mencapai puncak, tapi rasa takutnya juga mencapai puncak. Beliau dikenal ahli ibadah, ahli ilmu dan sangat zuhud. Hingga Alqamah bin Martsad berkata, “Puncak orang yang zuhud ada delapan orang dan yang terdelapan adalah Amir bin Abdillah At-Tamimi.”
Lalu bagaimana dengan kita? Adakah kita merasa cukup dengan bekal yang telah kita siapkan untuk perjalanan yang maha panjang?

Rabu, 11 April 2012

HIDUP



Ada yang mencaci, ada yang menghina, ada yang memaki dan ada yang memuji. Ini hidup Nak kau harus tahu itu, butuh ketangguhan untuk menghadapinya. Kau harus menjadi batu, kau juga harus menjadi air. Batu adalah partikel padat yang bisa kau gunakan untuk melempar orang-orang yang kau tak suka, batu juga bisa kau gunakan untuk bertahan hidup walaupun nanti akan terkikis bila selalu kau pakai. Air… ya air, kau juga harus menjadi air yang mengalir, bisa meresap elemen apapun bila tidak kau akan terus mengalir sampai kau tahu apa yang harus kau tuju. Air juga kadang keras seperti batu, melebihi batu malah, dia bisa menghancurkan apapun, bila kau mau.

Kalau kau hanya menjadi daun-daun yang hijau dan indah dipandang, kemudian kau menguning dan mengering, kau akan terbawa angin, lepas dari ranting-ranting yang kau tempati, mengikuti angin yang menghempasmu kemudian kau akan jatuh ke tanah, diiringi injakan makhluk-makhluk lain yang tak menganggapmu ada.

Bila kau mau menjadi bunga, bunga apa yang akan kau pilih? Mawarkah? Yang menunjukan keangkuhan lewat durinya. Padahal ia sangat disukai semua orang, mengapa ia begitu takut disentuh orang-orang yang hanya akan merusaknya dan mengapa dia begitu berbelas asih untuk orang-orang yang jatuh cinta? Perlu kau tahu Nak, kelopaknya akan runtuh seiring kau mencintainya, durinya akan menusukmu karena kau sangat ingin memilikinya. Kau harus tahu Nak, hidup bukan sekedar menyenangkan orang lain yang melihatmu, atau hidup bukan sekedar untuk menjaga keindahanmu saat itu. Hidup adalah jalan kita menuju Rabb yang Khaliq.

Kau suka senandung Nak? Senandung yang membuatmu bahagia, senandung yang membuatmu menangis, senandung yang membuatmu berarti, senandung yang membuatmu tiada. Hidup bagaikan syair-syair yang kau senandungkan lewat gema yang kosong, kau akan mendapatkan suaramu kembali dengan utuh dan begitu keras. Kau harus mempersiapakan telinga untuk mendengar, kau harus mempersiapkan mulut untuk berkelit, kau harus mempersiapakan hati untuk merasa. Tak ada yang luput dari pengawasan-Nya Nak.

Apa kau pernah merasa sepi? Sepi karena sendiri, sepi karena ramai, sepi karena kau tak tahu apa yang kau mau. Rasa sepi itu menyakitkan kau bisa mati karenanya, jadi berhati-hatilah kau menjaga hatimu.

Yang mereka ingin…

kau terus berkibar seperti angin
kau terus kuat seperti tanah
kau terus tersenyum seperti matahari
kau terus bahagia seperti embun
kau terus bertahan seperti cahaya

Kau tidak sendiri…
masih ada aku
masih ada dia
masih ada kami
masih ada mereka
masih ada hari esok
masih ada Tuhan

Ya Tuhan… apa kau sudah mengenalNya? Cobalah berkenalan denganNya, jatuh cinta padaNya, merindukanNya. Kau tidak akan sengsara, kau tidak akan terluka, walau seisi dunia tak kau punyai. Berbagilah denganNya, ceritakan saat kau sedih, ceritakan saat kau bahagia, lewat kidung-kidung doa yang kau panjatkan. Percayalah bahwa Dia tidak akan meninggalkanmu, meski kau berbuat salah, meski kau berpaling dariNya. Dia tidak marah, Dia hanya menyentuhmu dengan lembut lewat surat-surat cinta yang selalu kau baca selepas duniamu. Ingatlah Nak… kau harus tetap semangat karena Tuhan selalu mengabulkan apa-apa yang kau inginkan.
For My Prudent… we love you all 


*Kompasianer

Selasa, 10 April 2012

Manakala Hidupmu Tampak Susah Untuk Dijalani...

 Seorang professor berdiri di depan
kelas filsafat dan mempunyai
beberapa barang di depan mejanya.

Saat kelas dimulai, tanpa
mengucapkan sepatah kata, dia
mengambil sebuah toples mayones
kosong yang besar dan mulai mengisi
dengan bola-bola golf.

Kemudian dia berkata pada para
muridnya, apakah toples itu sudah
penuh? Mahasiswa menyetujuinya.

Kemudian professor mengambil sekotak
batu koral dan menuangkannya ke
dalam toples. Dia mengguncang dengan
ringan. Batu-batu koral masuk,
mengisi tempat yang kosong di antara
bola-bola golf.

Kemudian dia bertanya pada para
muridnya, Apakah toples itu sudah
penuh? Mereka setuju bahwa toples
itu sudah penuh.

Selanjutnya profesor mengambil
sekotak pasir dan menebarkan ke
dalam toples...

Tentu saja pasir itu menutup segala
sesuatunya. Profesor sekali lagi
bertanya apakah toples sudah penuh?

Para murid dengan suara bulat
berkata, "Yaa!"

Profesor kemudian menyeduh dua
cangkir kopi dari bawah meja dan
menuangkan isinya ke dalam toples,
dan secara efektif mengisi ruangan
kosong di antara pasir.

Para murid tertawa...

"Sekarang," kata profesor ketika
suara tawa mereda, "Saya ingin
kalian memahami bahwa toples ini
mewakili kehidupanmu.
"

"Bola-bola golf adalah hal-hal yang
penting - Tuhan, keluarga, anak-anak,
kesehatan, teman dan para
sahabat. Jika segala sesuatu hilang
dan hanya tinggal mereka, maka
hidupmu masih tetap penuh.
"

"Batu-batu koral adalah segala hal
lain, seperti pekerjaanmu, rumah
dan mobil.
"

"Pasir adalah hal-hal yang lainnya
- hal-hal yg sepele.
"

"Jika kalian pertama kali memasukkan
pasir ke dalam toples,
"  lanjut
profesor, "Maka tidak akan tersisa
ruangan untuk batu koral ataupun
untuk bola-bola golf. Hal yang sama
akan terjadi dalam hidupmu
."

"Jika kalian menghabiskan energi
untuk hal-hal sepele, kalian tidak
akan mempunyai ruang untuk hal-hal
yang penting buat kalian
"

"Jadi..."

"Berilah perhatian untuk hal-hal
yang kritis untuk kebahagiaanmu.
Bermainlah dengan anak-anakmu.
Luangkan waktu untuk check up
kesehatan.


Ajak pasanganmu untuk keluar makan
malam. Akan selalu ada waktu untuk
membersihkan rumah, dan memperbaiki
mobil atau perabotan.
"

"Berikan perhatian terlebih dahulu
kepada bola-bola golf - Hal-hal
yang benar-benar penting. Atur
prioritasmu. Baru yang terakhir,
urus pasir-nya
."

Salah satu murid mengangkat tangan
dan bertanya, "Kalau Kopi yg
dituangkan tadi mewakili apa?"

Profesor tersenyum, "Saya senang
kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan
kepada kalian, sekalipun hidupmu
tampak sudah begitu penuh, tetap
selalu tersedia tempat untuk
secangkir kopi bersama sahabat"
:-)

Senin, 09 April 2012

Memandang Langit



Jam pelajaran Fisika telah usai bersamaan dengan berdentangnya lonceng sekolah, satu persatu satu Nessa dan Ocha menuruni anak tangga sekolah.
”Nes, aku ke perpus dulu ya ngembaliin buku, tungguin di depan gerbang sekolah aja?”
“ Ya, buruan Cha jangan lama-lama,” jawab Nessa tersenyum simpul.
Lima belas menit Nessa menunggu di depan gerbang sekolah, akhirnya Ocha datang juga. Lantas, mereka memutuskan untuk pulang bersama.

Nessa dan Ocha bersahabat sejak pertama kali mereka duduk di bangku SMA, keduanya seakan sudah khatam membaca tabiat masing-masing, sekalipun ada cekcok tidak pernah menjadi ribut besar. Mereka saling mengisi dan melengkapi satu sama lain. Di sekolah, Nessa terbilang anak yang supel dan periang. Tapi sayang, ia cenderung bersikap pendiam saat kembali pulang ke rumah, karena seringkali didapatinya rumah dalam keadaan sepi. Nessa merupakan anak bungsu dari dua bersaudara, kakak lelaki satu-satunya, Ryan melanjutkan kuliah di Semarang dan tinggal bersama neneknya, sementara kedua orangtuanya bekerja di sebuah perusahaan yang sama dari pagi hingga sore hari. Tak jarang, kedua orangtuanya pulang hingga larut malam karena mengurusi pekerjaan. Materi memang tercukupi, namun kasih sayang tidak terpenuhi. Hanya Bi Inah lah yang setiap hari menemaninya di rumah.

***

Pagi-pagi sekali, ayah dan bunda Nessa harus terbang ke kota Makassar karena ada rapat mendadak. Sehingga harus meninggalkan Nessa bersama Bi Inah di rumah. Dibangunkannya Nessa oleh sang bunda, ia tampak masih setengah tertidur.

”Nessa baik-baik ya di rumah. Bunda sama Ayah ada pekerjaan di luar kota. Lusa juga Bunda langsung pulang ko, kalo perlu apa-apa tinggal bilang aja sama Bi Inah ya?” diciumnya kening Nessa oleh ayah dan bundanya, ia cemberut sambil menekuk wajahnya.

Selang 30 menit kemudian, saat embun pagi masih membasahi bunga-bunga di pekarangan rumah, Nessa bergegas mengendarai sepeda motor menuju rumah Ocha, untuk berangkat sekolah bersama. Hanya menunggu sepuluh menit, kemudian Ocha menghampiri Nessa.

Mereka terlihat sangat kompak, keduanya berlalu meninggalkan rumah Ocha melaju membelah jalanan kota hujan menuju sekolah.

***

Jam istirahat, Nessa dan Ocha habiskan di bawah pohon rindang sambil ditemani beberapa cemilan. Sementara Ocha asyik dengan sate bakso bakar yang berada di genggaman tangannya, Nessa justru sama sekali belum menyentuh makanannya.

“Ko bengong sih Sa? Kenapa?” Ocha urung melahap bakso bakar yang hampir menyentuh bibir mungilnya.
“Enggak tau, aku enggak nafsu aja,” jawab Nessa sambil menengadah ke langit memandangi sekawanan burung-burung yang berterbangan.
“Aku iri sama kamu Cha. Kebahagiaanmu begitu lengkap, mempunyai keluarga yang utuh, saling menjaga satu sama lain. Tidak seperti aku!”

Ocha memandang Nessa iba, meskipun Ocha berasal dari keluarga sederhana tapi ia mempunyai keluarga yang sangat perhatian padanya. Nessa kembali melanjutkan ceritanya sebelum Ocha menanggapinya, “Ayah sama Bunda sibuk mencari materi, Ka Iyang enggak pernah pulang, di rumah aku cuma tinggal sama pembantu, aku rindu kebersamaan itu?” Nessa hampir tak mampu membujuk cairan pelindung matanya supaya dia tidak menampakkan dirinya.

“Sabar ya Sa, orangtua kamu kan kerja buat kamu juga? Iya kan? Kalo Kak Iyang, kan dia lagi sibuk nyusun skripsi, kalo udah waktunya juga dia pulang?” Ocha mendengus pelan.

Lonceng kuno sekolah berbunyi menandakan jam istirahat telah usai. Nessa dan Ocha berlalu meninggalkan taman sekolah menuju kelas.

***

Siang itu awan mendung menghiasi langit Bogor. Nessa baru saja tiba dari sekolah, setelah membuka sepatu, kemudian ia bergegas masuk ke kamarnya. Bi Inah sibuk dengan setumpuk pekerjaannya di dapur. Sementara itu telepon rumah berdering, diangkatnya telepon tersebut. Usai berbicara dengan orang yang berada di ujung telepon, raut wajahnya seketika menjadi muram, terlihat ada kesedihan yang sangat mendalam. Betapa terkejutnya Bi Inah dengan berita yang ia terima bahwa pesawat yang ditumpangi majikannya yang tak lain adalah kedua orangtua Nessa mengalami kecelakaan. Di depan kamar terlihat gadis yang baru beranjak dewasa itu sedang berdiri, bersandar pada pintu kamarnya.

“Siapa Bi yang telepon, Bunda ya?” Bi Inah tak tahu harus menjawab apa. Ia takut jika mengatakan yang sebenarnya akan melukai hatinya, namun lambat laun Nessa juga akan mengetahui yang sebenarnya. Bi Inah menghampiri Nessa, matanya berkaca-kaca. Ada air mata yang tertahan disudut matanya. Sedang Nessa merasa heran, prasangka buruk pun mulai merasuki pikirannya.

”Kenapa Bi, Bibi ko nangis? Tadi telepon dari siapa? Bibi bilang sama aku?” Nessa mengoyang-goyangkan tubuh Bi Inah dan memaksanya untuk bicara. Tapi Bi Inah memilih untuk memberitahu Nessa secara perlahan. Dengan terbata-bata Bi inah mengatakan hal yang sejujurnya. Seketika Nessa histeris. Air mata tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk matanya. Sekujur tubuhnya lemas tak ada tenaga. Bi Inah tidak bisa berbuat apa-apa selain mendekap erat tubuhnya. Nessa begitu terpukul atas kejadian ini. Ia hanya bisa berdoa memohon pada Tuhan semoga orangtuanya dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat.

***

Jatuhnya pesawat yang ditumpangi kedua orangtua Nessa sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Bahkan, sejak dua hari setelah kejadian itu Nessa absen tidak masuk kelas.

Dari hari ke hari ia selalu mengikuti pemberitaan di televisi. Namun, pesawat yang di tumpangi kedua orangtuanya dinyatakan hilang. Tim evakuasi yang terdiri dari tim SAR dan Polisi pun tak menemukan bangkai pesawat tersebut. Padahal polisi sudah menyusuri tempat yang diduga tempat jatuhnya pesawat. Pencarian dilakukan baik di darat maupun di lautan namun tak jua membuahkan hasil.

Satu pekan sudah hilang dan jatuhnya pesawat yang ditumpangi kedua orangtua Nessa. Sementara itu, di rumah ia ditemani Ryan serta beberapa sanak saudara lainnya yang menungggu kabar tentang keberadaan orangtua Nessa. Wajah orang-orang yang keluar masuk rumah begitu muram tak ada senyuman. Di depan rumah berjejer beberapa karangan bunga, padahal nasib meninggalnya kedua orangtua Nessa pun masih belum diketahui secara pasti. Namun, jika memang benar, betapa pilunya hati gadis ini. Ia harus kehilangan kedua orangtuanya dalam waktu yang bersamaan.

Ia tak tahu harus menanyakan pada siapa, meminta tolong pada siapa selain pada Tuhan ia menggantungkan segala harapannya, meski pihak kepolisian menyatakan seluruh awak dan penumpang pesawat dinyatakan tidak ada yang selamat karena proses pencarian sudah memakan waktu lebih dari seminggu. Namun disaat asanya yang sudah menipis, ia masih terus berharap dan berdoa semoga kedua orangtuanya dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat, dan keajaiban itu akan datang untuknya. Nessa masih belum percaya jika kedua orangtuanya sudah tiada selama belum melihat jasadnya.

***

Keesokan harinya Nessa memutuskan untuk kembali ke sekolah, ia tak ingin terlalu larut dalam kesedihan. Namun sejak kejadian itu, Nessa yang biasanya adalah sosok gadis periang kini lebih cenderung pendiam.

“Sa, ke kantin yuk?” ajak Ocha dan Sisil.
“Aku disini saja. Enggak laper” Ocha dan Sisil tidak tahu harus berbuat apa untuk mengembalikan sosok Nessa seperti semula. Semenjak kejadian itu, Nessa mempunyai hobbi baru. Ia lebih senang menyepi memandang langit baik di rumah maupun di sekolah, karena menurutnya, jika bersedih pandanglah langit, maka kita akan merasakan Tuhan senantiasa bersama kita, dan ketika ia memandang langit, ia seperti melihat wajah ayah dan bundanya. Terkadang, terlihat ia sering berbicara sendiri sambil menopang dagu memandang langit.

***


Saat makan malam, ia melihat sebuah tayangan di televisi. Seorang narasumber mensinyalir bahwa pesawat yang hilang itu tersedot oleh arus Segitiga Bermuda, karena kejadian serupa juga pernah terjadi beberapa tahun silam. Hal itu pun membuat rasa penasarannya dipecahkan dengan browsing melalui Google perihal segitiga bermuda.
Derai air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya, saat ia membaca artikel yang ia searching tentang Segitiga Bermuda, fenomena alam yang baru pertama kali ia dengar. Naasnya, mengapa hal ini harus terjadi pada orangtuanya, harta paling berharga yang ia miliki di dunia. Nessa terdiam, antara percaya atau tidak dengan ulasan tentang Segitiga Bermuda. Mungkin jika apa yang ia baca itu benar, ia tidak akan pernah bisa melihat senyum orangtuanya untuk selama-lamanya. Impian untuk membahagiakan kedua orangtuanya saat melihat ia wisuda sarjananya pun sirna.





***
Hingga hampir tengah malam ia belum juga tertidur, ia masih duduk sendiri di teras rumah sambil memandang langit bertemankan hembusan angin kencang yang silih berganti menyapanya. Ryan hanya memandang adiknya dari balik tirai jendela kamarnya, dan kemudian menghampirinya.
“Ko belum tidur sih dek? Angin malam tuh enggak baik buat kesehatan. Sana, cepet tidur?” Ryan duduk disamping Nessa.
“Nessa kangen sama Ayah, kangen sama Bunda juga...Ayah sama Bunda lagi apa ya Kak? Mereka tidur dimana? Udah makan belum ya Kak?” Bibir Nessa bergetar, sorot matanya mengisyaratkan bahwa ia begitu merindukan kedua orangtuanya. Ryan tersenyum pahit, tatapannya menerawang kosong mendongak ke langit yang pekat dengan kabut malam.
“Sabar ya dek, Kakak juga sama kangen sama Ayah Bunda, Tapi Kakak juga enggak tau mereka ada dimana. Insya Allah Kakak udah ikhlas dek, kamu juga harus ikhlas ya sayang,” ujar Ryan mengelus-ngelus rambut Nessa.
“Tapi Kak?”
“Tapi apa? Hemm... gini, misalnya Kakak dipinjemin motor sama Yoga, Kakak udah sayang...banget sama motornya terus besoknya diambil lagi sama Yoga. Apa Kakak berhak marah ketika barang yang bukan milik Kakak diambil sama yang punyanya?” Nessa menggelengkan kepalanya.
“Sama halnya dengan Kakak yang sayang sama Ayah Bunda, tapi ternyata Tuhan lebih sayang sama mereka karena Tuhan adalah pemiliknya, intinya Tuhan yang memberi dan pada Dia pula semua akan kembali,” Nessa berulang kali menyeka bulir air mata yang menyusuri pipinya mendengar nasehat Ryan.
Dalam setiap lima waktunya, Nessa tak pernah lelah menaruh harapannya pada Tuhan, memohon yang terbaik untuk kedua orangtuanya.
”Ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, aku mohon dengarlah doaku. Lindungilah kedua orangtuaku dimanapun mereka berada. Apapun yang menjadi keputusan-Mu aku sudah ikhlas jika memang Engkau telah mengambil mereka dariku. Ijinkan tim evakuasi menemukan jasad keduanya. Dan berikanlah surga untuk keduanya. Berikan aku ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi ujian-Mu ini ya Allah. Amin,” desahnya haru.


***
Empat tahun kemudian...
Seorang wanita cantik dengan balutan jins hitam serta sweater merah marun turun dari mobil xenia hitamnya, Ya wanita tersebut adalah Nessa. Semenjak lulus SMA, Nessa ikut bersama Ryan ke Semarang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Meniggalkan Ocha, Sisil, Bi Inah, serta segudang kenangan di rumah yang belasan tahun pernah ditempatinya, Hari itu ia kembali menapaki jejak masa kecilnya, bertahun-tahun rumah itu memang tak berpenghuni, namun dipaksa tetap berdiri bak prasasti , kokoh berdiri meski nyaris tak terurus. Mungkin tak berharga secara wujud fisik. Tapi rumah itu bermakna karena cerita yang pernah ada di dalamnya. Setiap sudut rumah ini ada kisahnya, baik menyenangkan maupun tidak. Pada tiang-tiangnya tak pernah berganti. Seolah-olah pada dindingnya masih terukir jelas hasil coretannya dulu yang bentuknya tak karuan ketika baru bisa menulis.


“Nessa kangen sama Ayah, sama Bunda...,”ujarnya sambil membersihkan foto keluarga yang hampir seluruh permukaannya tertutup debu. Begitulah kenangan. Kita seringkali melekat pada dimensi visual, suara ataupun aroma dari sebuah benda yang mungkin kita pernah berinteraksi dengannya.
Meski sampai detik ini jasad kedua orangtua Nessa belum juga ditemukan, Nessa masih belum berhenti berharap, meskipun harapannya melihat kedua orangtuanya pulang kembali ke rumahnya sangat tipis. Empat tahun sudah musibah itu berlalu, namun hal itu tidak membuat Nessa berlama-lama larut dalam kesedihan. Nessa bangkit kembali melanjutkan hidupnya meski ia sendiripun tak pernah tahu lagi tentang keberadaan orangtuanya. Kini, Nessa tercatat sebagai Mahasiswa tingkat akhir jurusan psikolog di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di kota Semarang.


***


Satu minggu kemudian.....
Hari ini Nessa diwisuda, hanya Ryan yang berada di sampingnya. Alangkah bahagianya Nessa apabila kedua orangtuanya ikut mendampinginya dan dapat melihat Nessa tumbuh menjadi dewasa. Namun hal itu pun mungkin kini hanya tinggal khayalan semata. Nessa terlihat sangat cantik dan anggun dengan kebaya biru yang dikenakannya, ditambah lagi dengan balutan baju wisuda lengkap dengan toganya.
Usai prosesi wisuda, sambil memandang langit ia berkata lirih, “Ayah, Bunda hari ini Nessa diwisuda. Nessa pakai baju toga, seperti impian Bunda???” ujarnya menangis haru karena rindu yang telah bertahun-tahun menyesakkan rongga dada.

Rabu, 28 Maret 2012

Flu dan tentang celoteh kita dulu



Di suatu sore…beberapa tahun yang lalu….

Yuda : “Hemm tumben banget seharian ini si bawel Aya diem aja…lagi sariawan ya?” Aya tetap diam tak menggubris apa yang dikatakan Yuda.“Biasanya kalo sebelum berangkat sekolah Aya dongeng dulu sama Kak Yuda di telepon, Kakak Aya hari ini masuk jam 7, pulangnya jam 2 terus ada les tambahan disekolah sampe jam 4. Dilanjut lagi les buat SNMPTN sampe jam 7 malem, Aya pulangnya bareng sama Sofi kok tenang aja. Kakak enggak usah khawatir. Kalo udah nyampe rumah terus mandi, shalat isya, mam dulu, kalo belum ngantuk nulis dulu kalo udah ngantuk bobo deh. Inget pasal 1 Kakak jangan bandel ya, pasal 2 jangan lupa shalat, pasal 3 jangan lupa ngaji terus mam, pasal 4 kalo mau ngapa-ngapain bilang, kalo Aya enggak sms berarti Aya lagi sibuk. Kakak mau pesen apa sama Aya? Gitu kan? Tuh Kak Yuda aja nyampe apal?”

Aya melempar senyum menatap Yudha. Bertanya-tanya apakah ia secerewet itu?

Aya : “Aya lagi sakit flu tau nih Kak,” Aya bersuara tapi begitu pelan, suaranya agak sumbang karena sedang flu.
Yudha : “Ih suaranya lucu kaya kodok, hehehe”
Aya : “Ih serak-serak becek gini kaya Dewi Persik masa di olok-olok kaya kodok sih?” Aya menekuk wajahnya.
Yuda : “Hahaha..serak-serak becek? Sukurin, abis bandel sih enggak pernah dengerin apa kata Kakak, Bandel dibilangin jangan ujan-ujanan” ujar Yuda sambil meleltkan lidah.
Aya : “Biarin, bukan ujan-ujanan tau tapi kehujanan!!!”
Yuda : “Sama aja jelek”
Aya :” Beda dong! Kalo hujan-hujanan itu perbuatan yang di sengaja, kalo kehujanan kan enggak?”
Yuda :” Iya iya, sekarang Aya udah pinter nyeramahin Kakak ya? Yaudah sana minum obat dulu biar suara manjanya balik lagi, hehe” Yuda mengacak-ngacak rambut Aya.
Aya :” Udah dong tadi..weeeww”
Yuda :” Obat apa hayoooo?”
Aya :”Tadi abis minum pop ice dingin dong, di atasnya di taburin keju, coklat, susu, sama permen…hemm enak doong?”
Yuda :” Enggak sekalian dicampur Baygon?” ucap Yuda dengan nada sinis.
Aya :” Ih masa dicampur Baygon? Jahat banget Kaka sama Aya, entar kalo Aya enggak ada Kakaknya nangis loh? weww”
Yuda :” Suka sembarangan deh ngomongnya? Sebel ah…Abis Aya bandel sih gimana mau sembuh coba?…Kak Yuda ngambek ah”
Hening….keduanya tapak larut dengan pikirannya masing-masing. Sesekali saling curi-curi pandang.
Aya :” Kakak, tadi pulang jam berapa?” Yuda diam, justru ia malah bernyanyi-nyanyi kecil tak mendengarkan Aya bicara.
Aya :” Kakak ih jangan diem aja, baikan yuk? Kaya bocah tau ngambek mulu”
Yuda :” Yang kayak bocah tuh kamu, dibilangin enggak pernah mau nurut”
Aya :” Iya maaf deh, besok-besok beneran nurut deh janji, kan kalo Aya flu suaranya jadi merdu iya kan hehe?”
Yuda :” Kaya kodok tau jelek?”
Aya :”Tapi suka kan?” Aya mengerlingkan mata, Yuda mencubit pipi Aya gemas. 

***
Itulah dialog kita tentang ‘flu’, aku rindu marahmu, perhatianmu, candamu, caramu mengolok-ngolokku…

Sore ini, flu kembali mengingatkan aku tentang cerita kita dulu. Andai aku bisa menahan perjalanan sang waktu, aku tidak akan pernah membiarkan sore itu berlalu. Aku tak pernah tahu lagi bagaimana keadaan Yudha semenjak ia memutuskan untuk melanjutkan study nya di kota gudeg Yogyakarta.
Jadilah wanita yang selalu tegar seperti keindahan sang mawar. Kakak percaya, Aya pasti bisa melewati semuanya sekalipun tanpa Kakak itulah pesan darimu yang selalu mengingatkan aku tentangmu.

Aku rindu kebersamaaan itu, celoteh kita beberapa tahun yang lalu…

Kamis, 22 Maret 2012

Cantik Dengan Air Wudlu

     
      
     Mempercantik diri bagi sebagian wanita sangatlah penting, bahkan mereka rela merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah hanya untuk mempercantik diri. Mereka rela berada di salon selama berjam-jam bahkan ada juga yang melakukan operasi hingga ke luar negeri hanya karena ingin ‘cantik’. Sungguh disayangkan, padahal menurut saya cantik itu tidak perlu mahal. Cantik dihadapan Tuhan itu bukan terletak pada wajah akan tetapi terletak dari dalam hati karena pada dasarnya semua wanita itu cantik, hanya saja tidak semua budi pekerti mereka pun demikian. Karena menurut pandangan saya, kecantikan di dalam (hati) dengan sendirinya akan terpancar keluar. Bukankah begitu?

     Menjaga penampilan memang boleh-boleh saja, yang patut kita ingat Tuhan memang menyukai keindahan namun Tuhan tidak menyukai hal-hal yang berlebihan. Bukan maksud untuk menyombongkan diri, saya memang bukan tipikal wanita yang selalu terlihat modis dalam hal penampilan dan saya pun tidak pernah peduli dengan anggapan orang jika mereka berkata saya ketinggalan zaman. Inilah saya yang selalu apa adanya tanpa merubah dan berpura-pura menjadi orang lain, yang penting saya nyaman dengan apa yang saya kenakan. Melihat dari sudut pandang saya pribadi, banyak yang salah kaprah dengan arti cantik itu sendiri. Misalnya saja, sering saya melihat wanita yang bersolek berlebihan. Dengan berbagai macam alat kecantikan dimulai dari pemutih, pelembab, pencuci wajah, bedak, lipstik, belum lagi body lotion, peralatan ini itu untuk rambut entah masih banyak lagi. Walaupun saya seorang wanita saya tidak hafal dengan berbagai kecantikan tentang wanita, karena saya tidak suka berdandan dan kurang menyukai aksesoris yang berbau wanita. Bahkan untuk alas wajah saja, saya hanya mengenakan bedak tabur bayi tak peduli dengan anggapan seperti anak kecil. Cukup simple bukan? selebihnya saya percaya pada manfaat air wudlu. Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca di jelaskan,

Wudhu bukanlah sesuatu yang sederhana dalam kehidupan seorang Muslim, karena ia selalu membuatnya berenergi dan bercahaya .” (Syaikh Ibrahim An Nu’aimi)

     Menurut saya air wudlu yang membasuh sebagian anggota tubuh saya sudah cukup untuk membuat kita tampak cantik luar dalam. Kesannya lebih natural dan bercahaya, karena pancaran kecantikannya langsung dari Tuhan. Bahkan dengan berwudlu, tidak hanya dapat menghapus noda-noda pada wajah kita, bahkan dapat pula menggugurkan dosa-dosa kita. Saya selalu merasa ketika seharian disibukkan dengan berbagai aktivitas atau saat berpergian kemana-mana, ketika wajah terlihat kusam, lelah dan kebetulan sudah masuk waktu shalat dan kemudian bergegas mengambil air wudlu lalu sholat, setelahnya wajah begitu tampak fresh, segar. Lain halnya jika hanya kembali dipoles dengan berbagai kosmetik memang terlihat cantik tapi masih terasa tidak nyaman. Saya yakin pembaca sekalian juga pernah merasakan hal demikian. Saya selalu merasa wajah saya lebih bercahaya cukup dengan air wudlu. Tak ada satupun produk kosmetik yang dapat menandingi kilauan pancaran dari air wudlu. Dijelaskan dalam suatu hadis bahwa,

     “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kaki mereka bercahaya, karena bekas wudhu’.” (HR. Al Bukhari no. 136 dan Muslim no. 246)

           Masih ragu dengan khasiat air wudhu? Cantik karena air wudlu? Ayoo siapa yang mau? ^_^

Rabu, 07 Maret 2012

Arti Dari Sebuah Kata Mahasiswa


Mahasiswa, mungkin semua orang tidak asing dengan istilah yang satu ini. Banyak orang yang merasa bangga ketika menyandang status sebagai mahasiswa, atau orang tua yang sangat menginginkan anaknya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ya memang tidak bisa dipungkiri mahasiswa dianggap sebagai kaum intelektual yang mengerti segala hal. Dan terkesan diagungkan karena memiliki kata maha, yang berarti siswa yang agung atau siswa yang hebat.

Fungsi dan Peranan Mahasiswa
Mahasiswa mempunyai fungsi dan peranan penting dalam pembangunan bangsa. Dimana mahasiswa mempunyai peranan sebagai agent of change, social control, dan iron stock. Sebagai agent of change, mahasiswa berperan sebagai agen perubahan. Yang diharapkan membawa perubahan bangsa ini kearah yang lebih baik ke depannya. Tentu sebagai agent of change mahasiswa harus mempunyai visi dan mindset yang jauh ke depan, memiliki cita-cita besar dan rasa nasionalisme yang tinggi. Dan kita tidak bisa memungkiri fakta sejarah tentang pergerakan yang telah dilakukan oleh mahasiswa, yang telah menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban bangsa. Sedikit contoh, ketika membuka buku-buku sejarah disana pasti tertulis tentang awal-awal bangkitnya pergerakan bangsa. Beberapa pergerakan yang dipelopori oleh mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Belanda, kemudian berlanjut dengan lahirnya sebuah organisasi kepemudaan bernama Budi Utomo pada tahun 1908. Yang sampai saat ini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Lalu siapa yang tidak mengenal sosok Soe Hok Gie, aktivis kampus yang terkenal di tahun 60-an. Seorang pemuda keturunan yang berani mengkritik pemerintahan Orde Lama lewat tulisan-tulisannya yang diterbitkan di beberapa media cetak di Indonesia pada saat itu. Gie menganggap pemerintahan Orde Lama sudah tidak sanggup lagi memegang tampuk pemerintahan, dan arah politik Bung Karno sudah tidak pro rakyat. Gie tidak takut meskipun harus berhadapan dengan orang nomor 1 di Indonesia pada saat itu, kemudian menanggung resiko dikucilkan dari lingkungan sekitarnya karena sikap Gie yang dianggap terlalu kritis dan membahayakan. Padahal sebenarnya mereka mendukung langkah-langkah yang dilakukan Gie, tetapi mereka tidak mempunyai cukup keberanian seperti Soe Hok Gie. Namun Gie tetaplah Gie, dia tidak pernah mundur dengan sikap kritisnya. Dan akhirnya usaha Gie dan mahasiswa Indonesia pada saat itu berhasil, Orde Lama berhasil digulingkan pada tahun 1966. Bung Karno turun dari kursi kepresidenan dan digantikan oleh Pak Harto. Kemudian berlanjut pada tahun 1998, sebuah sejarah yang tidak akan pernah dilupakan oleh bangsa Indonesia. Sebuah rezim yang telah membelenggu Indonesia selama 32 tahun berhasil digulingkan. Mahasiswa di seluruh Indonesia atas nama rakyat bersatu untuk menuntut sebuah reformasi di Republik ini dan berhasil menggulingkan Pak Harto dari kursinya. 

Mungkin itu hanyalah beberapa catatan sejarah yang telah ditorehkan mahasiswa Indonesia pada masa itu. Masih banyak sejarah pergerakan yang telah dilakukan oleh mahasiswa Indonesia yang menghiasi perjalanan bangsa sampai saat ini. Mahasiswa adalah pelopor, penggerak, bahkan sebagai pengambil keputusan.

Selanjutnya peranan yang kedua sebagai social control, mahasiswa harus peka terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak hanya lingkup kampus, tapi juga lingkungan sekitar kampus. Dan harus kritis kepada isu-isu yang sedang berkembang, baik isu nasional maupun isu daerah. Jangan sampai mahasiswa tidak mengetahui isu-isu atau malah acuh tak acuh. Kemudian mahasiswa harus selalu mengawal kebijakan yang akan dikeluarkan oleh pemerintah, apakah kebijakan tersebut pro rakyat atau hanya mementingkan sebuah golongan atau malah sebaliknya merugikan rakyat. Disinilah sikap kritis mahasiswa dibutuhkan, untuk mengkaji lebih dalam sebuah keputusan atau kebijakan dari pemerintah. Jangan sampai kebijakan tersebut malah merugikan rakyat banyak. Ini adalah sebuah bentuk kepedulian mahasiswa kepada bangsa dan negaranya. Dan juga termasuk fungsi mahasiswa sebagai pengawal kebijakan dan pelaksana kebijakan.

Kemudian sebagai iron stock atau stok yang melimpah. Maksud iron stock disini mahasiswa diibaratkan sebagai cadangan logam atau aset yang suatu saat nanti akan terpakai menggantikan pemimpin-pemimpin saat ini. Unggul atau tidaknya suatu bangsa di masa depan tergantung dari pemuda-pemudanya hari ini. Karena dengan SDM yang berkualitas sebuah negara akan maju dan bisa mengembangkan potensi yang dimiliki oleh negaranya. Lalu sebuah pertanyaan akan muncul, kenapa harus besi ?. Kenapa tidak emas atau perak saja yang harganya lebih mahal ?, jadi namanya golden stock atau silver stock. Jawabannya karena besi mudah berkarat, besi yang sudah tua suatu saat akan berkarat dan akan digantikan oleh besi yang baru. Itulah perumpamaan tentang pemimpin Indonesia, suatu saat seorang pemimpin akan tua dan digantikan oleh mahasiswa atau pemuda yang ada pada saat ini. Ada suatu pepatah mengatakan, “jika kalian ingin melihat Indonesia 10 atau 20 tahun yang akan dating, maka lihatlah pemudanya hari ini”. Maksudnya berkaca pada hari ini untuk melihat masa depan.

Realita Mahasiswa Saat Ini
Berbicara mengenai mahasiswa saat ini menurut pandangan banyak orang tidak lebih dari sekedar gengsi, atau istilah nya “gak kuliah, gak gaul”. Memang tidak bisa dipungkiri, saat ini kuliah hanya untuk sekedar gengsi tanpa memahami makna kuliah atau arti dari mahasiswa sesungguhnya. Mahasiswa saat ini cenderung malas berpikir, lebih suka hal-hal yang instan seperti mencontek dari pada berusaha untuk belajar. Lebih suka hura-hura dan berperilaku hidup konsumtif, dan yang lebih parah memakai narkoba dan memiliki pola hidup bebas. Banyak berita kriminal yang tersangkanya adalah mahasiswa, dan beberapa kejahatan lain yang dilakukan oleh mahasiswa. Memang ini adalah sebuah ironi dan realita yang dihadapi oleh mahasiswa Indonesia saat ini. 

Kemudian mahasiswa saat ini lebih cenderung bersikap apatis, terkesan tidak mau tahu atau yang lebih parahnya tidak ingin tahu. Kalau seandainya ditanya tentang tri dharma perguruan tinggi mungkin tidak banyak yang mengetahui apalagi memahami makna dari tri dharma perguruan tinggi. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat hanyalah sekedar simbolisasi tanpa sebuah pengamalan. Atau hal yang paling umum saja, siapa yang bisa menyebutkan visi dan misi kampusnya ?, Itu seharusnya adalah hal yang paling umum kita ketahui. Kampus tempat sehari-hari kita menuntut ilmu tapi visi dan misi dari kampus kita sendiri tidak tahu, bagaimana bisa membangun Indonesia yang sarat permasalahan dan telah menjadi sebuah bola salju yang besar tanpa memiliki rasa kepedulian terutama kepedulian kepada lingkungan sekitar. Kebanyakan mahasiswa saat ini tidak lebih dari siswa SMA tanpa baju seragam atau lebih tepatnya siswa SMA kelas 4. Mungkin ini adalah sebuah hal lucu atau istilah aneh, namun inilah kenyataannya. Mahasiswa adalah kaum intelektual yang seharusnya memiliki kecerdasan berpikir juga lebih dewasa dalam menyikapi sebuah masalah. Berpikir secara positif tapi kritis. Namun kenyataannya malah sebaliknya, menyelesaikan masalah dengan kekerasan dan emosi. Tidak jarang kita melihat tawuran antar mahasiswa, aksi kekerasan yang melibatkan senior dan junior, bahkan sampai merusak kampus.

Bisa dikatakan mahasiswa saat ini sedang dilanda krisis, kehilangan jati diri dan krisis kepedulian. Hanya sedikit mahasiswa yang mau terjun langsung ke masyarakat, mahasiswa hanya sibuk dengan dunia nya sendiri. Kaum individualis hanya fokus untuk belajar, agar mendapatkan IPK 4,0 atau berpredikat cumlaude ketika lulus nanti. Mereka menganggap berorganisasi dan bersosialisasi tidak ada gunanya hanya membuang-buang waktu. Memang mereka profesional, tujuan kuliah adalah untuk belajar dan menuntut ilmu. Tapi dengan permasalahan yang sedang dihadapi di masyarakat, saat naif kalau mereka masih saja mementingkan kepentingan pribadi dan mengabaikan penderitaan yang dialami masyarakat diluar sana. Kemudian kaum hedonis, hanya mementingkan hura-hura dan gaya hidup yang high class seakan dunia hanya untuk hari ini. Seandainya uang yang didapat berasal dari penghasilan sendiri tidak masalah bahkan bagus, walaupun masih kuliah sudah bisa bekerja dan membiayai hidupnya sendiri tetapi tentunya harus dengan cara yang halal. Akan tetapi kebanyakan mahasiswa saat ini masih mengemis kepada orang tua, masih minta uang kepada orang tua. Apakah hal ini bisa dijadikan kebanggaan, bisa beli ini beli itu tapi pakai uang bapaknya. Padahal mahasiswa di didik untuk menjadi pribadi yang kontributif , dan memiliki sikap yang produktif tidak lagi konsumtif. Dan ada juga mahasiswa yang seakan tidak mementingkan kuliahnya, hanya sibuk kumpul-kumpul dan melakukan hal yang kurang jelas dan tidak bermanfaat. Waktunya hanya terbuang percuma dan lebih parah nya sampai banyak yang Drop Out atau kena DO.

Lalu organisasi-organisasi kampus saat ini tidak lagi menjadi episentrum pergerakan mahasiswa, yang mewadahi dan mengayomi mahasiswa. Para aktivis yang katanya para pejuang nasib mahasiswa dan nasib masyarakat Indonesia hanya sibuk aksi sana-sini tanpa hasil dan tujuan yang jelas. Tugas kuliah diabaikan dengan alasan sibuk rapat, sibuk konsolidasi atau hal-hal yang lain. Padahal menjadi aktivis bukanlah kewajiban tetapi sebuah pilihan. Ketika sudah berniat menjadi aktivis maka bersikaplah professional. Bukankah mahasiswa yang hebat itu adalah orang yang hebat dalam organisasi dan berprestasi di akademik. Kemudian aksi-aksi mahasiswa saat ini kebanyakan hanya didasari ingin ikut-ikutan tanpa pemahaman dan tujuan yang jelas. Dan terkesan setiap kali ada aksi turun jalan maka akan berakhir rusuh. Nah, inilah yang seharusnya dipahami oleh para aktivis kampus. Aksi bukan hanya turun ke jalan atau berdemo di depan gedung pemerintahan. Melakukan kampanye cinta lingkungan dengan melakukan penanaman pohon itu juga aksi, atau turun ke desa sekitar lingkar kampus untuk melakukan kerja bakti dengan masyarakat yang ada disana itu juga termasuk aksi. Yang seperti ini lebih bermanfaat dan bersifat nyata, juga termasuk dalam tri dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat. Karena yang dibutuhkan saat ini adalah karya nyata bukan hanya teori atau konseptual belaka. 

Memang aksi turun ke jalan juga dibutuhkan ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tidak pro rakyat atau tidak sesuai dengan keadaan yang ada, namun aksi turun ke jalan adalah pilihan yang terakhir. Ketika langkah-langkah yang telah kita tempuh tidak berhasil. Langkah yang pertama tentu kita harus melakukan kajian terhadap suatu kebijakan, apakah ini bermanfaat atau tidak. Kalau bisa berdialog langsung dengan pejabat pemerintahan kenapa tidak, anggota DPR, menteri atau presiden sekalipun. Mahasiswa punya kekuatan untuk melakukan hal itu, selagi jaket almamater masih melekat di badan kita harus mempunyai keberanian untuk melakukannya. Kemudian langkah selanjutnya membuat kritikan langsung di media-media cetak dan elektronik, agar setidaknya para pejabat kita mendengarkan apa yang sesungguhnya diinginkan masyarakat. Atau setidaknya membuka hati nurani dari pejabat-pejabat elit Republik ini, memang rakyat banyak yang kecewa dengan janji-janji dan kinerja dari pemerintah. Tetapi setidaknya pemimpin-pemimpin itu masih manusia, setiap manusia pasti memiliki hati nurani. Tergantung nanti pintu hatinya oleh Tuhan akan dibukakan atau tetap beku. Dan seandainya cara ini tidak berhasil juga barulah langkah terakhir kita tempuh, melakukan aksi turun ke jalan. “Katakan hitam adalah hitam, katakan putih adalah putih”.

Mahasiswa sebagai Pewaris Peradaban
Nah, disini tentu kita telah melihat permasalahan yang sedang dihadapi mahasiswa Indonesia saat ini. Mahasiswa kehilangan jati diri yang sejatinya sebagai elemen perubah bangsa dan pewaris peradaban bangsa, dan kurang memiliki kepedulian dan rasa keingintahuan yang kuat. Sejarah masa lampau hanya tinggal untuk dijadikan kenangan, aksi nyata mahasiswa yang telah menorehkan prestasi hebat di sejarah peradaban bangsa malah dijadikan dongeng sebelum tidur. Bukankah Bung Karno pernah berkata, “jangan sekali-sekali melupakan sejarah”.
 
Permasalahan seperti ini harus segera diatasi sebelum menjadi budaya dalam diri mahasiswa Indonesia. Mahasiswa Indonesia harus bangkit dari tidur panjang yang melenakan, bergerak dan berkarya untuk sebuah perubahan. Lupakan masa lalu yang kelam dan menatap masa depan yang cemerlang. 

Kemudian pertanyaannya, apa yang harus dilakukan mahasiswa saat ini ?
Hal yang harus dilakukan mahasiswa Indonesia saat ini adalah mulai berubah, dan mulai berkarya secara nyata. Tidak perlu sesuatu yang besar, cukup dengan hal yang kecil namun kontinyu. Kemudian mulai dari diri sendiri dan mulai dari saat ini, selalu berpikir positif dan dewasa dalam menyikapi sebuah masalah. Sesungguhnya hal-hal besar terlahir dari sebuah hal yang kecil, belum terlambat untuk berubah. Mungkin saat ini di dunia Internasional, Indonesia terkenal sebagai Negara yang paling banyak korupsi, sistem hukum yang tidak adil dan terkesan berat sebelah, pembajakan hak cipta atau lain sebagainya. Namum optimislah, 20 atau 30 tahun lagi mahasiswa saat inilah yang akan membawa perubahan untuk Indonesia kearah yang lebih baik. Ketahanan pangan, peningkatan ekonomi, kemajuan teknologi, dan hukum yang adil bukan hanya sebuah mimpi tapi impian yang akan tercapai dengan tekad yang kuat.


Dari sekian banyak permasalahan mengenai mahasiswa, Ibu Pertiwi janganlah bergundah hati. Masih banyak mahasiswa Indonesia memiliki sikap-sikap yang idealis dan bercita-cita bangsanya maju. Masih banyak yang seperti Bung Hatta, Khoirul Saleh, dan Sutan Syahrir. Mahasiswa yang memiliki mimpi dan cita-cita yang besar, ide-ide cemerlang untuk pengembangan Indonesia yang gemilang. 

Untukmu mahasiswa Indonesia, berhentilah membanggakan kejayaan masa lalu karena masa lalu hanya tinggal sebagai kenangan. Tapi berkaryalah untuk masa depan yang cemerlang, karena sejarah peradaban bangsa ini berada di tanganmu. Bermimpilah menjadi pembuat sebuah sejarah, bukan penikmat masa lampau.

 *)Oleh: Kak Givo Aulia

Minggu, 26 Februari 2012

Cerita Kita




Terima kasih, Kau membuatku sedikit
damai untuk berani berpikir,
Bahwa akhirnya aku harus
memahamimu sebagai sepotong bagian dari pencarianku…
Bahwa kau bukan cinta sejati untukku berhenti
selamanya…
Tapi kini biarkan sekali lagi aku berusaha membuatmu
mengerti…
Setelah satu permintaan
yang tak mungkin kuteruskan,
Aku akan mencintaimu
dengan cara yang lain…
Aku ingin mencintaimu
dengan membuatmu mengerti,
Bahwa aku mungkin akan meninggalkan
persinggahanku di hatimu
Tapi telingaku tak berhenti
terbuka untuk panggilanmu,
Meski sekedar untuk
membuatmu tak merasa sendiri
Dan tak merasa sepi…
Meski ruang tak akan menempatkanmu dalam
rengkuh pelukanku,
Dan waktu tak akan selamanya membawa aroma
tubuhmu ke ujung hidungku,
Tapi hatiku selalu dekat pada jiwamu yang mampu
membuatku tenang…
Dan pada akhirnya,

Aku tak ingin berhenti
mencintaimu…..

Tuhan, terimakasih telah kau kenalkan aku padanya
Dia yang memberi aku sebuah pelajaran berarti
Tentang rasa mencintai dan mengasihi
Tentang indahhnya hidup ini
Sesungguhnya,
Ada bahagia yang mengalir saat kau bersamaku
Bila kau percaya,
Ada sejuk yang merasuk kala kau isi hariku
Dan bila kau merasa,
kau lah lembaran hangatku
Kuntum-kuntum bunga yang menghiasi hidupku..... 

*Cerpen Tuhan Aku Ingin Menangis