Rabu, 27 Juni 2012
Selasa, 26 Juni 2012
Anggunnya Jilbabmu
Dunia ini adalah perhiasan dan seindah-indahnya perhiasan dunia adalah wanita sholehah ”(HR.Muslim)
Wanita itu tercipta dengan sifat kelembutan hati dan
jiwa, itulah kodrat seorang wanita. Alangkah indahnya ketika wanita sholehah diibaratkan laksana teratai yang
mekar di telaga madu. Permata yang
senantiasa bersinar walau berada di kubangan lumpur sekalipun. Ia mempunyai
akhlak dan pribadi yang begitu cantik. Cantik di mata Allah iti tidak dinilai berdasarkan paras rupa. Tetapi cantik di hadapan Allah itu
ternilai dari hati yang senantiasa berada dalam tuntunan syariat-Nya.
Sungguh begitu mulianya Allah
SWT menciptakan seorang wanita dengan segala kelebihan yang Allah berikan. Sejak seorang wanita mencapai masa akil
baligh, wanita diwajibkan menutup aurat pada seluruh tubuhnya
terkecuali bagian wajah dan telapak tangan. Begitu jelas seruan Allah kepada seorang wanita untuk menutup aurat yang tertuang dalam Al-Qur’an :
”Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu,
anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka
mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang
demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak
diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Al-Ahzab : 59)
Perbedaan wanita yang mengenakan jilbab
dan tidak sungguh terlihat jelas. Seperti halnya ketika seorang wanita
berjilbab
berjalan
di tengah kerumunan orang banyak,
seringkali orang-orang yang berada di tempat itu mengucapkan salam yang
merupakan doa. Sedangkan wanita yang tidak mengenakan jilbab dengan pakaian serba terbuka, mereka kerap
kali di ganggu dengan godaan-godaan kaum adam yang begitu mengganggu
ketentraman jiwa.
Yang
tertutup itu akan terlihat jauh lebih indah. Seperti halnya jika kita mempunyai sebuah buku, buku yang tersampul rapih akan lebih
terlihat menarik dibandingkan dengan buku yang tidak bersampul. Itulah
penggambaran seorang wanita yang mengulurkan jilbab sebagai penutup kepalanya.
Akan tetapi, saat kita telah menunaikan kewajiban kita untuk menutup aurat,
hendaknya apa yang sudah menjadi prinsip kita peganglah dengan teguh. Dengan
tetap menjaga hati dan pandangan semata-mata hanya karena Allah. Cantik pada parasmu akan hilang seiring
berjalannya sang waktu. Akan tetapi, cantik pada hatimu takkan pernah lekang sekalipun sang
waktu telah meninggalkanmu.
Fenomena jilbab gaul yang kini sedang menjadi trend di Indonesia sungguh sangat disayangkan. Memakai Jilbab hanya
untuk tuntutan trend semata.
Mengenakan penutup kepala tapi pakaian yang ia kenakan begitu terlihat tampak jelas
lekukan tubuhnya.
Rasullullah
SAW bersabda :
”Antara penghuni-penghuni neraka ialah
wanita yang memakai baju tetapi masih bertelanjang, menggodai dan digodai,
mereka ini tidak akan masuk syurga malah bau syurga pun tidak akan sampai
kepada mereka.”
Jilbab yang dikenakan haruslah menyembunyikan
mahkota diri, laksana sekuntum mawar berduri, yang terlihat cantik dengan duri.
Bukan untuk menyakiti tapi untuk menjaga diri agar kelak diijinkan Ilahi menghiasi taman firdausi. Alangkah indahnya ketika jilbab
itu diulurkan ke segenap tubuh
yang telah Allah tentukan, disertai dengan pancaran akhlak mulia. Maka terlihat
anggunlah si wanita yang insya Allah atas izin Sang Maha Pencipta kelak ia akan dijadikan bunga pengharum
taman surga bagaikan haruman mewangi dari kuntuman kasturi.
Senin, 30 April 2012
Penulis itu Pembelajar !
Apa yang menyebabkan seorang penulis bisa tetap eksis membagikan pengetahuannya melalui tulisan? Jawaban singkatnya: karena ia terus belajar! Dengan terus belajar, ia akan mendapatkan peningkatan pengetahuan secara berlanjut, dan hal ini menjadi modal utama untuk dibagikan kepada para pembaca.
Kita bisa bayangkan seperti apa jadinya jika seorang penulis bukanlah seorang yang suka belajar. Mampukah ia bertahan dalam dunia tulis-menulis dalam waktu yang relatif lama? Tentu sulit! Sebab, orang tidak bisa memberi kalau ia tak punya apa-apa untuk diberikan. Maka, ia harus memiliki sesuatu untuk dibagikan. Sesuatu itu mungkin berupa pengetahuan, informasi, atau lainnya. Oleh karena itu, kesediaan belajar adalah faktor utama untuk menjadi seorang penulis. Jika tidak, bagai sumur tanpa air, sang penulis akan mengalami kekeringan ide.
Untuk menjadi penulis-pembelajar, maka sejumlah langkah yang relevan dilakukan, yakni, pertama, selalu aktif menambah pengetahuan baru. Untuk hal ini, ia akan membaca berbagai sumber informasi dan pengetahuan, termasuk di dalamnya bergaul dengan banyak orang yang dapat dijadikannya ‘guru’. Baginya, masyarakat adalah ‘universitas kehidupan’, tempatnya meraup kebijaksanaan hidup, sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya.
Kedua, menulis dengan pendekatan baru. Dalam menulis, ia tak merasa harus menulis dengan pakem tertentu. Ia lebih suka menyusun tulisan yang variatif dan senang berpetualang dalam genre dan teknik penulisan. Sekali waktu ia mengarang puisi, sekali waktu ia mengarang cerpen, sekali waktu ia menulis artikel opini, dan sekali waktu ia mungkin menulis reportase. Wujud variasi lain, misalnya, ia menulis dengan cara yang khas. Dia menulis dengan nuansa argumentasi yang kuat, pilihan kata yang tepat dan bertenaga, ungkapan-ungkapannya acap bernada filosofis, menggugah, dan memberi insiprasi. Ciri khasnya tampak, tapi tidak pernah monoton.
Ketiga, senantiasa memperhatikan trend. Tema apa yang paling ngetop belakangan ini? Itulah pertanyaan utama yang dialamatkan kepada dirinya sendiri. Jika ia menulis, maka dia akan berangkat dari tema yang paling baru tersebut. Karenanya, ia sangat tertarik untuk senantiasa mengikuti perkembangan pemikiran dan pemberitaan yang terjadi. Pergerakan aktualitas suatu karya demikian cepatnya. Kini aktual, esok sudah tidak lagi, karena disalip oleh kemunculan tema baru. Baginya, penulis yang baik selalu berusaha menjaga aktualitas karyanya.
Keempat, rajin bergaul dengan para penulis untuk saling menyemangati. Ia membuat jaringan, wahana yang bagus baginya untuk saling berbagi informasi, pengalaman, dan motivasi dengan sesama penulis. Ia sering bergaul dengan orang-orang yang bisa menyemangati dan memberinya motivasi untuk melanjutkan karier penulisan. Untuk membangun semangat berkarya, sesekali ia tak lupa mengikuti seminar motivasi di samping menikmati buku-buku yang sejenis dengan itu. Tujuannya tiada lain agar ia selalu terdorong untuk bekerja dengan penuh gairah dan energi, sesuatu yang membukakan jalan untuk meraih sukses dan mampu bertahan dalam perjalanan panjang di dalam dunia penulisan.
Seorang penulis-pembelajar selalu ingat belajar dari berbagai sumber informasi dan kehidupan pada umumnya. Seorang penulis-pembelajar selalu rendah hati untuk belajar dari siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Seorang penulis-pembelajar senantiasa berada di dalam barisan orang-orang yang menempuh perjalanan panjang ilmu pengetahuan dan membagikan pengetahuannya demi kemajuan umat manusia. Seorang penulis-pembelajar adalah dia yang selalu memperbaharui diri.
*Kompasianer
06 Juli 2011
Hadirnya dirimu,
berikan suasana baru dalam cerita hidupku..
Saat ku melihat secarik gambar yang melukiskan indah wajahmu
Dan tertata rapih jauh di dalam alam khayal ku
Kau membuatku terbayang akan hangatnya senyum manismu yang setiap saat hadir menemani langkahku,
yang slalu mengingatkan aku akan hadirnya dirimu saat kau ada disini bersamaku..
Andai kau tau rasa ini..
rasa yang selalu ingin melihat senyumanmu, tawa mu,dan sjuta canda khas dari dirimu yang tak akan pernah bisa pudar dari dalam benak ini..
Di kala kau bersedih,
Aku akan selalu menemanimu sampai kapan pun kau memerlukan bahuku untuk sandaranmu.
Saat kau tersenyum,
Aku pun akan selalu ikut larut tersenyum dalam bahagiamu
Sekalipun arti dari senyuman itu bukan untukku..
:')
Kuharap,
Janganlah kau terpaku dalam setiap kesedihan yang menerpa setiap jalanmu,
Karna aku akan menjadi lilin-lilin kecil yang akan selalu menyala dalam hatimu sampai ku menutup mata nanti..
Semua hal tentangmu,
Semua kenangan indah yang telah terukir indah bersamamu,
Semua keindahan yang tertuang dalam hatimu,
Tak kan pernah ku lupakan..
Karena kau adalah :
"Cerita Terindah Yang Pernah Tertulis Dalam Hatiku"
Ega
Kita
Walau sore ini mendung menjadikan indahnya langit kita tanpa rona
jingga, Namun senja tiada kan pernah ingkar akan janjinya
Senja akan tetap jejali elok keanggunan warna dalam bayang kesempurnaan semesta raya...
Indah senja tiada kan memudar dari ingatan, di sepanjang liku-liku perjalanan yang telah kita lalui, berdua pada perputaran suatu masa...
Senja akan tetap jejali elok keanggunan warna dalam bayang kesempurnaan semesta raya...
Indah senja tiada kan memudar dari ingatan, di sepanjang liku-liku perjalanan yang telah kita lalui, berdua pada perputaran suatu masa...
Ketika Senja Kita Berkabut Duka
Rega Afrizal dan Aini Nur Latifah
Aksara dan coretan dalam bait-bait kata ini , Ku bingkiskan sebagai kenangan terakhir dariku untukmu…
Mungkin suatu masa nanti,
Senja tak dapat kulihat lagi melukis wajahmu dalam indahnya jingga di suatu soreku,
Mungkin pula tak pernah ku tahu kemana awan berarak membisu
Senja tak dapat kulihat lagi melukis wajahmu dalam indahnya jingga di suatu soreku,
Mungkin pula tak pernah ku tahu kemana awan berarak membisu
Kala senjaku berkabut rindu,
Ketika jarum gerimis menghias ruang jemari waktu,
Menjemput malam menuju peraduan
Memeluk bayang dalam erat impian
Ketika jarum gerimis menghias ruang jemari waktu,
Menjemput malam menuju peraduan
Memeluk bayang dalam erat impian
Tak akan pernah aku lupa, kala erat jemari menemani resah rindu di hati kita
Di kala senda gurau menghiasi jalinan kisah yang terpaut mesra
Tentangku yang berjalan dalam kisah hidupmu
Tentangmu penoreh cerita terindah dalam hidupku…
Di kala senda gurau menghiasi jalinan kisah yang terpaut mesra
Tentangku yang berjalan dalam kisah hidupmu
Tentangmu penoreh cerita terindah dalam hidupku…
Jika nanti kau merindukanku
Ingatlah aku dalam kenangan lalu
Karena mungkin saat itu aku telah jauh disana dan telah berlalu dalam kisah yang pernah kita ukir dulu
Ingatlah aku dalam kenangan lalu
Karena mungkin saat itu aku telah jauh disana dan telah berlalu dalam kisah yang pernah kita ukir dulu
Ketahuilah, kau kan tetap menjadi sahabat terindah dalam hatiku,
Karena kau adalah mimpi yang selama ini menguatkanku,
Kau sahabat terindah yang takkan kubiarkan waktu menghapusmu
Karena kau adalah mimpi yang selama ini menguatkanku,
Kau sahabat terindah yang takkan kubiarkan waktu menghapusmu
Jika esok aku telah tiada
Mungkin pula aku telah hilang di rimba asa
Atau mungkin senja menenggelamkan raut rupa
Ku harap kau tegar melangkah dalam setiap lembar kisah yang akan tercipta..
Mungkin pula aku telah hilang di rimba asa
Atau mungkin senja menenggelamkan raut rupa
Ku harap kau tegar melangkah dalam setiap lembar kisah yang akan tercipta..
Untukmu sahabat terindahku,
Ingatlah..
Bahwa aku takkan pernah sedetikpun meninggalkanmu,
Sadarilah..
Hanya sebatas ragaku ini yang melambaikan salam perpisahan
Namun hati ini takkan pernah beranjak pergi dari sisimu
Ingatlah..
Bahwa aku takkan pernah sedetikpun meninggalkanmu,
Sadarilah..
Hanya sebatas ragaku ini yang melambaikan salam perpisahan
Namun hati ini takkan pernah beranjak pergi dari sisimu
Persahabatan…
Kerinduan…
Kenangan…
Kerinduan…
Kenangan…
Terukir indah dalam sebuah bingkai kehidupan..
Jika aku boleh meminta pada Tuhan,
Aku tak pernah ingin ada perpisahan…
Aku tak pernah ingin ada kehilangan…
Aku tak pernah ingin ada kematian…
Ketahuilah…Bukan karna aku ingin melepasmu,
Namun jemari takdir terlalu erat menahan khilaf jiwa yang tak pernah aku minta…
Namun jemari takdir terlalu erat menahan khilaf jiwa yang tak pernah aku minta…
*) Dalam cerpen Cerita kita di bawah naungan langit senja part 2 :D
Bukan karena takut berpisah dengan dunia
Tatkala Amin bin
Abdillah At-Tamimi, seorang tokoh tabi’in terkemuka sakit menjelang
wafatnya, para sahabat beliau menjenguknya dan mereka mendapatkan beliau
sedang menangis. Mereka bertanya, “Apa yang menyebabkan anda menangis,
padahal anda memiliki banyak keutamaan ini dan itu?” Beliau menjawab,”
Demi Allah aku menangis bukan karena ingin lama hidup di dunia atau takut menghadapi kematian, akan tetapi aku menangis karena jauhnya perjalanan dan alangkah sedikitnya bekal.
Sungguh saya berada di antara tebing dan jurang. Bisa jadi ke surga
bisa pula tergelincir ke neraka, saya tidak tahu dimana saya akan
sampai…” Kemudian beliau mengehela nafas pelan sedang bibirnya basah
dengan dzikrullah.
Begitulah karakter
generasi terbaik, amalnya mencapai puncak, tapi rasa takutnya juga
mencapai puncak. Beliau dikenal ahli ibadah, ahli ilmu dan sangat zuhud.
Hingga Alqamah bin Martsad berkata, “Puncak orang yang zuhud ada
delapan orang dan yang terdelapan adalah Amir bin Abdillah At-Tamimi.”
Lalu bagaimana dengan kita? Adakah kita merasa cukup dengan bekal yang telah kita siapkan untuk perjalanan yang maha panjang?
Sabtu, 14 April 2012
Rabu, 11 April 2012
HIDUP
Ada yang mencaci, ada yang menghina, ada yang memaki dan ada yang memuji. Ini hidup Nak kau harus tahu itu, butuh ketangguhan untuk menghadapinya. Kau harus menjadi batu, kau juga harus menjadi air. Batu adalah partikel padat yang bisa kau gunakan untuk melempar orang-orang yang kau tak suka, batu juga bisa kau gunakan untuk bertahan hidup walaupun nanti akan terkikis bila selalu kau pakai. Air… ya air, kau juga harus menjadi air yang mengalir, bisa meresap elemen apapun bila tidak kau akan terus mengalir sampai kau tahu apa yang harus kau tuju. Air juga kadang keras seperti batu, melebihi batu malah, dia bisa menghancurkan apapun, bila kau mau.
Kalau kau hanya menjadi daun-daun yang hijau dan indah dipandang, kemudian kau menguning dan mengering, kau akan terbawa angin, lepas dari ranting-ranting yang kau tempati, mengikuti angin yang menghempasmu kemudian kau akan jatuh ke tanah, diiringi injakan makhluk-makhluk lain yang tak menganggapmu ada.
Bila kau mau menjadi bunga, bunga apa yang akan kau pilih? Mawarkah? Yang menunjukan keangkuhan lewat durinya. Padahal ia sangat disukai semua orang, mengapa ia begitu takut disentuh orang-orang yang hanya akan merusaknya dan mengapa dia begitu berbelas asih untuk orang-orang yang jatuh cinta? Perlu kau tahu Nak, kelopaknya akan runtuh seiring kau mencintainya, durinya akan menusukmu karena kau sangat ingin memilikinya. Kau harus tahu Nak, hidup bukan sekedar menyenangkan orang lain yang melihatmu, atau hidup bukan sekedar untuk menjaga keindahanmu saat itu. Hidup adalah jalan kita menuju Rabb yang Khaliq.
Kau suka senandung Nak? Senandung yang membuatmu bahagia, senandung yang membuatmu menangis, senandung yang membuatmu berarti, senandung yang membuatmu tiada. Hidup bagaikan syair-syair yang kau senandungkan lewat gema yang kosong, kau akan mendapatkan suaramu kembali dengan utuh dan begitu keras. Kau harus mempersiapakan telinga untuk mendengar, kau harus mempersiapkan mulut untuk berkelit, kau harus mempersiapakan hati untuk merasa. Tak ada yang luput dari pengawasan-Nya Nak.
Apa kau pernah merasa sepi? Sepi karena sendiri, sepi karena ramai, sepi karena kau tak tahu apa yang kau mau. Rasa sepi itu menyakitkan kau bisa mati karenanya, jadi berhati-hatilah kau menjaga hatimu.
Yang mereka ingin…
kau terus berkibar seperti angin
kau terus kuat seperti tanah
kau terus tersenyum seperti matahari
kau terus bahagia seperti embun
kau terus bertahan seperti cahaya
Kau tidak sendiri…
masih ada aku
masih ada dia
masih ada kami
masih ada mereka
masih ada hari esok
masih ada Tuhan
Ya Tuhan… apa kau sudah mengenalNya? Cobalah berkenalan denganNya, jatuh cinta padaNya, merindukanNya. Kau tidak akan sengsara, kau tidak akan terluka, walau seisi dunia tak kau punyai. Berbagilah denganNya, ceritakan saat kau sedih, ceritakan saat kau bahagia, lewat kidung-kidung doa yang kau panjatkan. Percayalah bahwa Dia tidak akan meninggalkanmu, meski kau berbuat salah, meski kau berpaling dariNya. Dia tidak marah, Dia hanya menyentuhmu dengan lembut lewat surat-surat cinta yang selalu kau baca selepas duniamu. Ingatlah Nak… kau harus tetap semangat karena Tuhan selalu mengabulkan apa-apa yang kau inginkan.
For My Prudent… we love you all
*Kompasianer
Selasa, 10 April 2012
Manakala Hidupmu Tampak Susah Untuk Dijalani...
Seorang professor berdiri di depan
kelas filsafat dan mempunyai
beberapa barang di depan mejanya.
Saat kelas dimulai, tanpa
mengucapkan sepatah kata, dia
mengambil sebuah toples mayones
kosong yang besar dan mulai mengisi
dengan bola-bola golf.
Kemudian dia berkata pada para
muridnya, apakah toples itu sudah
penuh? Mahasiswa menyetujuinya.
Kemudian professor mengambil sekotak
batu koral dan menuangkannya ke
dalam toples. Dia mengguncang dengan
ringan. Batu-batu koral masuk,
mengisi tempat yang kosong di antara
bola-bola golf.
Kemudian dia bertanya pada para
muridnya, Apakah toples itu sudah
penuh? Mereka setuju bahwa toples
itu sudah penuh.
Selanjutnya profesor mengambil
sekotak pasir dan menebarkan ke
dalam toples...
Tentu saja pasir itu menutup segala
sesuatunya. Profesor sekali lagi
bertanya apakah toples sudah penuh?
Para murid dengan suara bulat
berkata, "Yaa!"
Profesor kemudian menyeduh dua
cangkir kopi dari bawah meja dan
menuangkan isinya ke dalam toples,
dan secara efektif mengisi ruangan
kosong di antara pasir.
Para murid tertawa...
"Sekarang," kata profesor ketika
suara tawa mereda, "Saya ingin
kalian memahami bahwa toples ini
mewakili kehidupanmu."
"Bola-bola golf adalah hal-hal yang
penting - Tuhan, keluarga, anak-anak,
kesehatan, teman dan para
sahabat. Jika segala sesuatu hilang
dan hanya tinggal mereka, maka
hidupmu masih tetap penuh."
"Batu-batu koral adalah segala hal
lain, seperti pekerjaanmu, rumah
dan mobil."
"Pasir adalah hal-hal yang lainnya
- hal-hal yg sepele."
"Jika kalian pertama kali memasukkan
pasir ke dalam toples," lanjut
profesor, "Maka tidak akan tersisa
ruangan untuk batu koral ataupun
untuk bola-bola golf. Hal yang sama
akan terjadi dalam hidupmu."
"Jika kalian menghabiskan energi
untuk hal-hal sepele, kalian tidak
akan mempunyai ruang untuk hal-hal
yang penting buat kalian"
"Jadi..."
"Berilah perhatian untuk hal-hal
yang kritis untuk kebahagiaanmu.
Bermainlah dengan anak-anakmu.
Luangkan waktu untuk check up
kesehatan.
Ajak pasanganmu untuk keluar makan
malam. Akan selalu ada waktu untuk
membersihkan rumah, dan memperbaiki
mobil atau perabotan."
"Berikan perhatian terlebih dahulu
kepada bola-bola golf - Hal-hal
yang benar-benar penting. Atur
prioritasmu. Baru yang terakhir,
urus pasir-nya."
Salah satu murid mengangkat tangan
dan bertanya, "Kalau Kopi yg
dituangkan tadi mewakili apa?"
Profesor tersenyum, "Saya senang
kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan
kepada kalian, sekalipun hidupmu
tampak sudah begitu penuh, tetap
selalu tersedia tempat untuk
secangkir kopi bersama sahabat" :-)
kelas filsafat dan mempunyai
beberapa barang di depan mejanya.
Saat kelas dimulai, tanpa
mengucapkan sepatah kata, dia
mengambil sebuah toples mayones
kosong yang besar dan mulai mengisi
dengan bola-bola golf.
Kemudian dia berkata pada para
muridnya, apakah toples itu sudah
penuh? Mahasiswa menyetujuinya.
Kemudian professor mengambil sekotak
batu koral dan menuangkannya ke
dalam toples. Dia mengguncang dengan
ringan. Batu-batu koral masuk,
mengisi tempat yang kosong di antara
bola-bola golf.
Kemudian dia bertanya pada para
muridnya, Apakah toples itu sudah
penuh? Mereka setuju bahwa toples
itu sudah penuh.
Selanjutnya profesor mengambil
sekotak pasir dan menebarkan ke
dalam toples...
Tentu saja pasir itu menutup segala
sesuatunya. Profesor sekali lagi
bertanya apakah toples sudah penuh?
Para murid dengan suara bulat
berkata, "Yaa!"
Profesor kemudian menyeduh dua
cangkir kopi dari bawah meja dan
menuangkan isinya ke dalam toples,
dan secara efektif mengisi ruangan
kosong di antara pasir.
Para murid tertawa...
"Sekarang," kata profesor ketika
suara tawa mereda, "Saya ingin
kalian memahami bahwa toples ini
mewakili kehidupanmu."
"Bola-bola golf adalah hal-hal yang
penting - Tuhan, keluarga, anak-anak,
kesehatan, teman dan para
sahabat. Jika segala sesuatu hilang
dan hanya tinggal mereka, maka
hidupmu masih tetap penuh."
"Batu-batu koral adalah segala hal
lain, seperti pekerjaanmu, rumah
dan mobil."
"Pasir adalah hal-hal yang lainnya
- hal-hal yg sepele."
"Jika kalian pertama kali memasukkan
pasir ke dalam toples," lanjut
profesor, "Maka tidak akan tersisa
ruangan untuk batu koral ataupun
untuk bola-bola golf. Hal yang sama
akan terjadi dalam hidupmu."
"Jika kalian menghabiskan energi
untuk hal-hal sepele, kalian tidak
akan mempunyai ruang untuk hal-hal
yang penting buat kalian"
"Jadi..."
"Berilah perhatian untuk hal-hal
yang kritis untuk kebahagiaanmu.
Bermainlah dengan anak-anakmu.
Luangkan waktu untuk check up
kesehatan.
Ajak pasanganmu untuk keluar makan
malam. Akan selalu ada waktu untuk
membersihkan rumah, dan memperbaiki
mobil atau perabotan."
"Berikan perhatian terlebih dahulu
kepada bola-bola golf - Hal-hal
yang benar-benar penting. Atur
prioritasmu. Baru yang terakhir,
urus pasir-nya."
Salah satu murid mengangkat tangan
dan bertanya, "Kalau Kopi yg
dituangkan tadi mewakili apa?"
Profesor tersenyum, "Saya senang
kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan
kepada kalian, sekalipun hidupmu
tampak sudah begitu penuh, tetap
selalu tersedia tempat untuk
secangkir kopi bersama sahabat" :-)
Langganan:
Postingan (Atom)






