Rabu, 25 Juli 2012

Kala Senja Kita Berkabut Duka



Risa terlihat tergesa-gesa mempercepat langkahnya. Sore itu…Ia hampir saja lupa, bahwa hari ini Reza akan pulang kembali ke Jakarta setelah satu tahun ia menetap di Makassar melanjutkan pendidikannya di sekolah penerbangan. Berulang kali ia menatap arloji berwarna silver yang melingkar di lengannya. Tak sabar ia begitu ingin berjumpa dengan Reza, terselip tanya dalam benaknya tentang Reza. Apa ia masih seperti Reza yang bertahun-tahun lalu dikenalnya?
Padatnya jalanan ibukota membuat ia harus sedikit bersabar ketika kemacetan menghadangnya. Dua jam terjebak kemacetan membuat Risa geram. Namun hal itu memang sudah biasa dijalaninya. Risa tiba di rumah tepat saat adzan maghrib berkumandang. Sebelum memasuki rumah, pandangannya terlebih dahulu melirik tajam ke arah rumah Reza. Terukir senyum indah di bibirnya. Ia begitu ingin menemui Reza yang ia anggap sebagai sahabat terbaiknya.
Usai makan malam, Risa langsung bergegas menuju rumah Reza yang hanya terhalang oleh 3 rumah tetangga lainnya. Ada segudang cerita yang ingin ia sampaikan dan segenap tawa yang ia suguhkan pada Reza.
“Reza…” Risa berdiri di depan pagar rumah Reza. Masih seperti dulu ketika Risa akan mengajak Reza berangkat sekolah bersama. Tiba-tiba Reza menyembul dari balik pagar.
“Dooooooooooooor” Reza menyunggingkan senyum khasnya.
“Ih…Reza, masih aja dari dulu usilnya enggak hilang. Kan kaget tahu, aku pikir hantu,” kebiasaan mereka pun masih tetap sama seperti dulu, Risa mengacak-ngacak rambut Reza, sedang Reza membalasnya dengan mencubit hidung Risa gemas.
“Enggak berubah ya? Tetep Risa yang mungil, lucu, nyenengin, ngangenin…” Risa pun menyela, “Dan…Reza yang nyebelin hehe…”
“Wooo dasar. Ayo masuk Sa?” ajak Reza.
“Disini aja yuk Za, lihat bintang sambil menikmati sejuknya angin malam…”
Mereka berdua lebih memilih duduk di atas rerumputan halaman rumah Reza, rembulan pun terasa sempurna dalam menyuguhkan kehangatan memperindah malam. Dua cangkir capucino hangat menemani celoteh mereka berdua. Risa duduk tepat di samping Reza, dengan berusaha tenang dan saling mendengarkan keduanya menceritakan pengalaman masing-masing dari semenjak Reza pergi hingga kini ia kembali. Sesekali mereka saling tertawa geli. Pohon mangga, dedaunan, ranting, batang dan bunga-bunga di pekarangan seolah ikut merasakan kehangatan persahabatan yang terjalin antara Risa dan Reza.
“Oh iya, tempat favorit kita masih ada kan Sa?”
“Ada kok Za, tapi semenjak kamu pergi aku udah enggak pernah lagi kesana”
“Besok temenin aku kesana ya Sa? Harus mau, enggak mau tahu”
Risa pun mengiyakan ajakan Reza, karena ia pun merasakan hal yang sama. Merindukan sebuah tempat yang menjadi saksi bisu persahabatannya dengan Reza.
***
Berhubung hari itu Risa tidak ada jadwal kuliah, sore ini ia akan kembali memijakkan kakinya di atas gedung kosong yang lama tak berpenghuni itu.
“Senja disanalah cerita tentang kita bermula…senja kita apa kabar ya Za? Setelah 1 tahun lebih enggak berkunjung kesana apa senja masih inget sama kita?” Reza hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Risa. Reza menuntun Risa untuk naik ke lantai teratas gedung tua, tujuan meraka hanya satu. Menghabiskan sore sambil menatap keindahan langit jingga seperti yang sering mereka lakukan dulu.
“Kamu tahu enggak Za? Semenjak kamu pergi aku mendadak jadi penulis. Biasanya kalo ada apa-apa aku cerita sama kamu, sekarang aku cuma bisa cerita sama buku ini. Aku tumpahin semua hal yang terjadi di buku ini dari mulai hal yang lucu, sedih, bahagia aku bener-bener lewatin sendiri.”
“Maafin aku ya Sa, tapi seengganya kamu bisa jadi Risa yang mandiri” seulas senyum teduh Reza yang menenangkan Risa.
“Kalau nanti kamu mau balik lagi ke Makassar, kamu bawa buku ini ya Za…kamu boleh nulis apapun di buku ini. Jadi kalau buku ini ada di kamu, kamu bisa baca ceritaku begitupun kalo buku ini berpindah lagi ke tanganku aku bisa baca cerita-cerita kamu,” Risa memberikan sebuah buku bersampul boneka danbo pada Reza, kemudian Reza pun menerimanya. Ketika ia membuka lembar pertama halaman buku itu, pandangannya tertumbuk pada satu kalimat, Kita… laksana jingga yang begitu setia pada langitnya.
“Maksud dari kata-kata ini apa Sa?”
“Hem…kamu lihat deh langit senja itu, indah kan? Langit dan rona jingga akan terlihat indah jika bersatu. Keduanya saling melengkapi untuk memancarkan keindahan kepada para penduduk bumi dan aku berharap persahabatan kita akan selalu indah memancarkan kebaikan pada sesama dan setia untuk saling menjaga. Ya…seperti jingga yang setia pada langitnya,” mata jenakanya menatap Reza.
“Hem, pinter ya kamu Sa…tumben hahaha”
“Iya lah, kamu juga banyak diajarin sama aku kan Za…hehe. Eh tapi Za, entah kenapa aku suka penasaran kenapa nama langit sore yang berwarna jingga itu namanya senja ya?”
“Kenapa namanya senja? Aku juga enggak tahu asal usulnya darimana yang jelas pertanyaan kamu itu sama halnya kenapa air yang menetes dari langit itu namanya hujan? semua itu sudah ada yang mengaturnya. Penemunya itu ya Tuhan” ujar Reza menjelaskan. Risa mencoba memahami apa yang diutarakan Reza, ada hening sesaat di antara mereka.
“Sudah, jangan suka mempertanyaan kehendak Tuhan nanti kamu dipanggil Tuhan diberi penjelasan mau?”
“Ih Eza masa ngomongnya gitu aku kan belum siap tahu, kamu duluan aja…hehe” ujar Risa menggoda.
“Ya kalau sudah waktunya giliran aku yang dipanggil Tuhan tiba aku bisa apa? Sesuatu yang mulanya ada itu pasti suatu saat nanti akan menjadi tiada seperti persahabatan kita juga Sa…”
“Ya Tapi enggak sekarang juga kan Za?” Risa terhenyak memandang ke arah langit.
“Matahari sudah mau pulang tapi kita masih disini…Ayo pulang?” Reza tampak mengalihkan pembicaraan.
“ Tapi aku masih mau disini Za?” meski Risa bersikukuh tidak mau pulang, Reza mengamit lengannya. Dengan berat hati Risa pun berdiri beranjak dari duduknya, mengikuti langkah Reza yang seirama dengannya.
13426167431010528984 

Dua minggu menghabiskan waktu liburan di kota kelahirannya terasa begitu singkat bagi Reza. Sore ini, ia harus kembali ke Makassar menjalani rutinitasnya sebagai pelajar sekolah tinggi penerbangan. Untuk kedua kalinya juga ia harus meninggalkan Risa. Masih di tempat yang sama, di atas gedung tua beratapkan langit senja.
“Kamu kenapa enggak kuliah disini aja sih Za? jadi kan kita masih bisa sama-sama.” Risa mendekap tas ransel milik Reza. Belum sempat Reza menjawab Risa kembali bicara.
“Kalau malem-malem ada pesawat lewat aku suka ngintip di jendela. Berharap di dalemnya itu kamu dan pesawat itu landing di lapangan samping rumahku, supaya setiap malem kita bisa cerita-cerita, makan martabak kesukaan kita terus ngerjain tugas bareng kaya dulu”
“Hem, aku janji tiga bulan setelah hari ini tepat tanggal 12 Juli aku pulang lagi deh. Ok mungil?” Risa tampak sumringah. Akhirnya Reza pergi dengan perasaan lega tanpa terbebani oleh Risa.
***
Tiga bulan yang selalu Risa tunggu begitu terasa cepat berlalu. Hari ini, Risa tampak girang berharap Reza dapat menepati janjinya untuk pulang. Jadwal kuliah Risa pun cukup padat karena ada kuliah tambahan di kampusnya sehingga membuatnya harus pulang sore. Dalam perjalanan pulang ke rumah, hampir saja motor yang dikendarai Risa menabrak seorang pejalan kaki, namun ia masih mampu menyeimbangkan laju sepeda motornya.
Sesampainya di depan gerbang rumah, pandangannya langsung tertumpu pada rumah Reza. Terlihat beberapa orang berlalu lalang disana, tidak seperti biasanya. Yang lebih membuat Risa tampak kaget, ada bendera kuning menghiasi pagar rumah Reza. Secepat mungkin ia bergegas masuk ke dalam rumah memanggil-manggil ibunya.
“Ibu…Ibu…di rumah Reza kok ada bendera kuning, siapa yang meninggal Bu? Papanya Reza ya?” ibu diam tak menggubris pertanyaan Risa bibirnya seakan sulit sekali untuk bicara menceritakan semuanya pada Risa.
“Ih ibu kok diem sih? Coba biar Risa telepon Reza, jahat banget Reza enggak kasih tahu Risa.” Risa mencari-cari ponsel dalam tasnya. Setelah lama tak ada jawaban Risa pun diam sejenak memalingkan pandangannya pada Ibu.
“Ibu, jawab Risa di rumah Reza siapa yang meninggal?” matanya mulai berkaca-kaca. Ibu tak mampu berkata apa-apa hanya buliran air mata yang menghiasi wajahnya. Risa menjatuhkan tasnya ke lantai, kemudian berlari dengan gontai mencoba menepis pikiran buruk yang ada di benaknya. Harapnya, Reza baik-baik saja.
Di bawah naungan tenda puluhan kursi berjejer rapi, terlihat beberapa orang mengenakan seragam pilot seperti yang pernah ia lihat di sebuah foto dalam ponsel Reza. Prasangka buruk mengenai Reza pun semakin kuat merajai pikirannya. Risa mematung di bibir pintu, ditatapnya semua orang yang berada disamping jenazah satu persatu. Pak Anwar, Ibu Tia, Dira adik perempuan Reza satu-satunya mereka tampak baik-baik saja. Lalu, dimana Reza? Kenapa hanya ia yang tidak berada disana? Jenazah yang sedang ditangisi puluhan orang dalam ruangan itu siapa? Reza? Batin Risa menerka-nerka.
“Bunda…,” Risa memanggil ibunda Reza, puluhan pasang mata tertuju padanya. Ibunda Reza menghampiri Risa. Saking paniknya, beliau lupa memberitahu Risa tentang kecelakaan pesawat yang menimpa buah hatinya.
“Reza mana Bun? Kok Risa telepon enggak di angkat? Hari ini Reza janji sama Risa mau pulang, Reza bilang Reza mau lihat senja bareng Risa di atas gedung tua?” suaranya gemetar. Ibu Tia memeluk Risa erat, Ibu Tia memandangi wajah Risa sejenak. Dipegangnya kedua pipi Risa dengan lembut.
134261681879919672

“Reza…” Ibu Tia menggantung pembicaraannya, lidahnya begitu kelu wajahnya sendu menahan haru.
“Reza mengalami kecelakaan ketika mengikuti latihan penerbangan. Ia meninggal dunia di tempat peristiwa. Dan jenazah yang kini ada dihadapan kita adalah Reza, sahabatmu Risa” Ibu Tia kembali mendekap Risa erat, menangis di bahu Risa. Buliran air bening itu terasa menghangat di wajah Risa. Ia mendekat ke arah jenazah Reza, matanya membelalak tak percaya ketika kain penutup wajah berwarna putih itu dibuka. Jenazah yang berada dihadapannya adalah benar-benar Reza, sosok sahabat setia yang selama bertahun-tahun menemaninya. Ada sesak yang menyelimuti hatinya karena Reza kini sudah tidak lagi bernyawa. Senyum teduh miliknya, nasihat-nasihat bijaksana yang selalu dilontarkannya, sifat jenakanya, Jangan suka mempertanyakan kehendak Tuhan nanti kamu dipanggil Tuhan diberi penjelasan mau?, Sesuatu yang mulanya ada itu pasti suatu hari akan tiada termasuk persahabatan kita, suara-suara itu seakan terngiang-ngiang di telinganya. Semua kenangan yang pernah dirajut bersamanya silih berganti berputar dibenaknya.
Semua mata memandang Risa iba, tak henti-hentinya ia menangis disamping jenazah Reza. Tepat jam 5 sore ini jenazah Reza akan dikebumikan, tentunya lebih cepat lebih baik. Sebelum jenazah Reza dimasukan kedalam keranda, semua keluarga diberi kesempatan untuk menciumnya untuk yang terakhir kalinya. Kini, tiba saatnya giliran Risa berkali-kali ia menyeka bulir air mata diwajahnya. Risa mencium kening Reza begitu lama, sebuah ciuman perpisahan terpautkan doa. Sambil berbisik pelan ditelinganya, “Senja disana akan jauh lebih indah dari senja yang sering kita lihat disini Za”
Dengan dipapah Dira adik perempuan Reza, manik-manik basah itu seakan melaju lebih deras dari sebelumnya di pipi Risa saat raungan suara sirine ambulance serta iring-iringan jenazah akan mengantarkan Reza ke tempat peristirahatannya yang terakhir tepat ketika jingga begitu merona, keharmonian alam yang sangat disukai Reza.
Usai mengikuti proses pemakaman,
“Risa…ini milikmu?” tanya Ibu Tia. Risa tertegun memandangi buku bersampul boneka danbo yang sempat ia berikan pada Reza tepat 3 bulan yang lalu.
“Ia Bunda, itu punya Risa” jawab Risa dengan suara yang lemah. Diberikannya buku itu pada Risa. Sampulnya sudah tampak lusuh, mungkin tertindih puing-puing pesawat namun tulisan-tulisan yang ada didalamnya masih sangat jelas untuk dibaca. Halaman demi halaman dibacanya, semua cerita tertata begitu rapih dengan goresan tulisan tangan Reza. Hingga ia sampai pada halaman terakhir. Sebuah puisi yang ia beri judul Kala Senja Kita Berkabut Duka
Aksara dan coretan dalam bait-bait kata ini, ku bingkiskan sebagai kenangan terakhir dariku untukmu…
Mungkin suatu masa nanti
Senja tak dapat kulihat lagi melukis wajahmu dalam indahnya jingga di suatu sore ku
Mungkin pula tak pernah ku tahu kemana awan berarak membisu
Kala senjaku berkabut rindu,
Ketika jarum gerimis menghias ruang jemari waktu,
Menjemput malam menuju peraduan
Memeluk bayang dalam erat impian
Tak akan pernah aku lupa, kala erat jemari menemani resah rindu di hati kita
Di kala senda gurau menghiasi jalinan kisah yang terpaut mesra
Tentangku yang berjalan dalam kisah hidupmu
Tentangmu penoreh cerita terindah dalam hidupku…
Jika nanti kau merindukanku
Ingatlah aku dalam kenangan lalu
Karena mungkin saat itu aku telah jauh disana dan telah berlalu
Dalam kisah yang pernah kita ukir dulu
Ketahuilah, kau kan tetap menjadi sahabat terindah dalam hatiku,
Karena kau adalah mimpi yang selama ini menguatkanku,
Kau sahabat terindah yang takkan kubiarkan waktu menghapusmu
Jika esok aku telah tiada
Mungkin pula aku telah hilang di rimba asa
Atau mungkin senja menenggelamkan raut rupa
Ku harap kau tegar melangkah dalam setiap lembar kisah yang akan tercipta..
Untukmu sahabat terindahku,
Ingatlah…Bahwa aku takkan pernah sedetikpun meninggalkanmu
Sadarilah…Hanya sebatas ragaku ini yang melambaikan salam perpisahan
Namun hati ini takkan pernah beranjak pergi dari sisimu
Persahabatan…Kerinduan…Kenangan…
Terukir indah dalam sebuah bingkai kehidupan..
Jika aku boleh meminta pada Tuhan,
Aku tak pernah ingin ada perpisahan…
Aku tak pernah ingin ada kehilangan…
Aku tak pernah ingin ada kematian…
Ketahuilah…Bukan karna aku ingin melepasmu,
Namun jemari takdir terlalu erat menahan khilaf jiwa yang tak pernah aku minta…

Reza,
Di penghujung malam, 11 Juli 2011
Risa tertegun. Puisi tersebut Reza tulis kemarin malam, yang menjadi sebuah isyarat kepergiannya. Reza memang kembali tepat pada tanggal 12 Juli, namun dengan jasad yang sudah tidak bernyawa lagi. Janji itu ia tuntaskan dengan cara yang tak pernah Risa bayangkan. Namun begitu, Reza akan selalu hidup dalam remah-remah kenangan bersama segudang cerita yang pernah mereka rangkai bersama.
Sambil mendongak ke langit senja, Risa berucap lirih. Kita…laksana jingga yang setia pada langitnya.


Senin, 23 Juli 2012

Selamat Ulang Tahun



Mungkin, hari ini adalah hari yang selalu engkau tunggu
Dimana engkau akan memasuki babak baru dalam hidupmu
Satu tahun yang telah berlalu semoga tak hanya sekedar menjadi tahun-tahun yang semu
Namun, senantiasa dalam keberkahan Tuhanmu
Hari ini, tepat usiamu genap menjadi 20 tahun
Tak ada kado spesial untukmu, bahkan tak ada kue tart yang berhiaskan angka hari jadimu dariku
Namun, ada seuntai doa yang kuharap untukmu
Semoga Tuhan selalu memberikan kemudahan dalam setiap langkahmu
Semoga Tuhan senantiasa memberikan nikmat sehat dalam setiap helaan nafasmu
Semoga Tuhan selalu membimbingmu dalam dekapan kasih sayang-Nya yang tak pernah berujung untukmu
Untukmu yang selalu ada dalam doaku,
Kau harus tahu bahwa setiap jengkal langkah kakimu, kebaikan lah yang selalu kuharapkan untukmu
Jadikanlah sisa usia yang Tuhan titipkan untukmu sebagai amanah yang senantiasa akan engkau jaga. Jangan pernah engkau buang sia-sia.
Terimakasih untuk jutaan senyum bahagia  yang kau sematkan dalam hariku
Selamat ulang tahun dariku, untukmu yang senantiasa menjadi pelipur lara dalam hidupku.

Jumat, 06 Juli 2012

Selamat Ulang Tahun Ai !

    


          Selamat ulang tahun peri kecilku, doa yang tahun lalu kaka panjatkan untukmu, insyaallah kini telah Ai wujudkan, kaka telah melihat peri kecil kaka yang telah tumbuh menjadi wanita sholeha yg mampu menjadi inspirasi bagi wanita yang lain, peri kecil kaka yang dulu sering mengeluh bahkan sekarang pandai mengambil setiap hikmah kehidupan yang Ai jalani, kaka pun telah melihat wanita yang tegar dalam diri Ai, dan dengan segala karya tulis Ai yang begitu bermakna, kaka kini hanya mampu tersenyum bahagia melihatmu telah tumbuh dewasa peri kecilku, tangis haru dan senyum sipu yang kaka simpulkan tak lain karena kaka bahagia melihat peri kecil kaka yang benar-benar telah bersayap, Maafkan kaka yang tak mampu memberikanmu apapun yang Ai butuhkan, kaka adalah kaka yang lalai, maafkan kaka yang tlah banyak berbuat kesalahan padamu peri kecilku.. Tetaplah terbang tinggi agar kau tetap mampu melihat indahnya dunia, kembangkan sayapmu dan tersenyumlah yang indah, kaka sayang padamu peri kecilku...

06 Juli 2012


         Buktikan pada diri Ai sendiri bahwa memang Ai adalah peri kecil yang bersayap yang saat ini sedang mencoba tuk mengepakan sayap, lalu suatu masa kelak akan terbang melihat dunia dari sisi yang Ai impikan selama ini,
         Tiada lain lain lagi yang bisa ka ucapkan, dari kesederhanaan kata ini ka coba selipkan secercah harap dan doa tulus untuk kebaikanmu..
         Selamat Ulang Tahun Ai...teruslah berjuang, dan kaka nantikan karya-karya hebat Ai yang lain...


06 Juli 2011


 *Prasetia Hermawan


Selasa, 26 Juni 2012

Anggunnya Jilbabmu



Dunia ini adalah perhiasan dan seindah-indahnya perhiasan dunia adalah wanita sholehah ”(HR.Muslim)

Wanita itu tercipta dengan sifat kelembutan hati dan jiwa, itulah kodrat seorang wanita. Alangkah indahnya ketika wanita sholehah diibaratkan laksana teratai yang mekar di telaga madu.  Permata yang senantiasa bersinar walau berada di kubangan lumpur sekalipun. Ia mempunyai akhlak dan pribadi yang begitu cantik. Cantik di mata Allah iti tidak dinilai berdasarkan paras rupa. Tetapi cantik di hadapan Allah itu ternilai dari hati yang senantiasa berada dalam tuntunan syariat-Nya.

Sungguh begitu mulianya Allah SWT menciptakan seorang wanita dengan segala kelebihan yang Allah berikan.  Sejak seorang wanita mencapai masa akil baligh, wanita diwajibkan menutup aurat pada seluruh tubuhnya terkecuali bagian wajah dan telapak tangan. Begitu jelas seruan Allah kepada seorang wanita untuk menutup aurat yang tertuang dalam Al-Qur’an :

            ”Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
 (Al-Ahzab : 59)

            Perbedaan wanita yang mengenakan jilbab dan tidak sungguh terlihat jelas. Seperti halnya ketika seorang wanita  berjilbab berjalan di tengah kerumunan orang banyak, seringkali orang-orang yang berada di tempat itu mengucapkan salam yang merupakan doa. Sedangkan wanita yang tidak mengenakan jilbab dengan pakaian serba terbuka, mereka kerap kali di ganggu dengan godaan-godaan kaum adam yang begitu mengganggu ketentraman jiwa.

            Yang tertutup itu akan terlihat jauh lebih  indah. Seperti halnya jika kita mempunyai sebuah buku, buku yang tersampul rapih akan lebih terlihat menarik dibandingkan dengan buku yang tidak bersampul. Itulah penggambaran seorang wanita yang mengulurkan jilbab sebagai penutup kepalanya. Akan tetapi, saat kita telah menunaikan kewajiban kita untuk menutup aurat, hendaknya apa yang sudah menjadi prinsip kita peganglah dengan teguh. Dengan tetap menjaga hati dan pandangan semata-mata hanya karena Allah. Cantik pada parasmu akan hilang seiring berjalannya sang waktu. Akan tetapi, cantik pada hatimu takkan pernah lekang sekalipun sang waktu telah meninggalkanmu.

         Fenomena jilbab gaul yang kini sedang menjadi trend di Indonesia sungguh sangat disayangkan. Memakai Jilbab hanya untuk tuntutan trend semata. Mengenakan penutup kepala tapi pakaian yang ia kenakan begitu terlihat tampak jelas lekukan tubuhnya.

       Rasullullah SAW bersabda :
           ”Antara penghuni-penghuni neraka ialah wanita yang memakai baju tetapi masih bertelanjang, menggodai dan digodai, mereka ini tidak akan masuk syurga malah bau syurga pun tidak akan sampai kepada mereka.”

            Jilbab yang dikenakan haruslah menyembunyikan mahkota diri, laksana sekuntum mawar berduri, yang terlihat cantik dengan duri. Bukan untuk menyakiti tapi untuk menjaga diri agar kelak diijinkan Ilahi menghiasi taman firdausi. Alangkah indahnya ketika jilbab itu diulurkan ke segenap tubuh yang telah Allah tentukan, disertai dengan pancaran akhlak mulia. Maka terlihat anggunlah si wanita yang insya Allah atas izin Sang Maha Pencipta kelak ia akan dijadikan bunga pengharum taman surga bagaikan haruman mewangi dari kuntuman kasturi.

Senin, 30 April 2012

Penulis itu Pembelajar !


Apa yang menyebabkan seorang penulis bisa tetap eksis membagikan pengetahuannya melalui tulisan? Jawaban singkatnya: karena ia terus belajar! Dengan terus belajar, ia akan mendapatkan peningkatan pengetahuan secara berlanjut, dan hal ini menjadi modal utama untuk dibagikan kepada para pembaca.

Kita bisa bayangkan seperti apa jadinya jika seorang penulis bukanlah seorang yang suka belajar. Mampukah ia bertahan dalam dunia tulis-menulis dalam waktu yang relatif lama? Tentu sulit! Sebab, orang tidak bisa memberi kalau ia tak punya apa-apa untuk diberikan. Maka, ia harus memiliki sesuatu untuk dibagikan. Sesuatu itu mungkin berupa pengetahuan, informasi, atau lainnya. Oleh karena itu, kesediaan belajar adalah faktor utama untuk menjadi seorang penulis. Jika tidak, bagai sumur tanpa air, sang penulis akan mengalami kekeringan ide.

Untuk menjadi penulis-pembelajar, maka sejumlah langkah yang relevan dilakukan, yakni, pertama, selalu aktif menambah pengetahuan baru. Untuk hal ini, ia akan membaca berbagai sumber informasi dan pengetahuan, termasuk di dalamnya bergaul dengan banyak orang yang dapat dijadikannya ‘guru’. Baginya, masyarakat adalah ‘universitas kehidupan’, tempatnya meraup kebijaksanaan hidup, sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya.

Kedua, menulis dengan pendekatan baru. Dalam menulis, ia tak merasa harus menulis dengan pakem tertentu. Ia lebih suka menyusun tulisan yang variatif dan senang berpetualang dalam genre dan teknik penulisan. Sekali waktu ia mengarang puisi, sekali waktu ia mengarang cerpen, sekali waktu ia menulis artikel opini, dan sekali waktu ia mungkin menulis reportase. Wujud variasi lain, misalnya, ia menulis dengan cara yang khas. Dia menulis dengan nuansa argumentasi yang kuat, pilihan kata yang tepat dan bertenaga, ungkapan-ungkapannya acap bernada filosofis, menggugah, dan memberi insiprasi. Ciri khasnya tampak, tapi tidak pernah monoton.

Ketiga, senantiasa memperhatikan trend. Tema apa yang paling ngetop belakangan ini? Itulah pertanyaan utama yang dialamatkan kepada dirinya sendiri. Jika ia menulis, maka dia akan berangkat dari tema yang paling baru tersebut. Karenanya, ia sangat tertarik untuk senantiasa mengikuti perkembangan pemikiran dan pemberitaan yang terjadi. Pergerakan aktualitas suatu karya demikian cepatnya. Kini aktual, esok sudah tidak lagi, karena disalip oleh kemunculan tema baru. Baginya, penulis yang baik selalu berusaha menjaga aktualitas karyanya.

Keempat, rajin bergaul dengan para penulis untuk saling menyemangati. Ia membuat jaringan, wahana yang bagus baginya untuk saling berbagi informasi, pengalaman, dan motivasi dengan sesama penulis. Ia sering bergaul dengan orang-orang yang bisa menyemangati dan memberinya motivasi untuk melanjutkan karier penulisan. Untuk membangun semangat berkarya, sesekali ia tak lupa mengikuti seminar motivasi di samping menikmati buku-buku yang sejenis dengan itu. Tujuannya tiada lain agar ia selalu terdorong untuk bekerja dengan penuh gairah dan energi, sesuatu yang membukakan jalan untuk meraih sukses dan mampu bertahan dalam perjalanan panjang di dalam dunia penulisan.

Seorang penulis-pembelajar selalu ingat belajar dari berbagai sumber informasi dan kehidupan pada umumnya. Seorang penulis-pembelajar selalu rendah hati untuk belajar dari siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Seorang penulis-pembelajar senantiasa berada di dalam barisan orang-orang yang menempuh perjalanan panjang ilmu pengetahuan dan membagikan pengetahuannya demi kemajuan umat manusia. Seorang penulis-pembelajar adalah dia yang selalu memperbaharui diri.

*Kompasianer

06 Juli 2011



Hadirnya dirimu,
berikan suasana baru dalam cerita hidupku..
Saat ku melihat secarik gambar yang melukiskan indah wajahmu
Dan tertata rapih jauh di dalam alam khayal ku
Kau membuatku  terbayang akan hangatnya senyum manismu yang setiap saat hadir menemani langkahku,
yang slalu mengingatkan aku akan hadirnya dirimu saat kau ada disini bersamaku..

Andai kau tau rasa ini..
rasa yang selalu ingin melihat senyumanmu, tawa mu,dan sjuta canda khas dari dirimu yang tak akan pernah bisa pudar dari dalam benak ini..

Di kala kau bersedih,
Aku akan selalu menemanimu sampai kapan pun kau memerlukan bahuku untuk sandaranmu.
Saat kau tersenyum,
Aku pun akan selalu ikut larut tersenyum dalam bahagiamu
Sekalipun arti dari senyuman itu bukan untukku..
:')

Kuharap,
Janganlah kau terpaku dalam setiap kesedihan yang menerpa setiap jalanmu,
Karna aku akan menjadi lilin-lilin kecil yang akan selalu menyala dalam hatimu sampai ku menutup mata nanti..
Semua hal tentangmu,
Semua kenangan indah yang telah terukir indah bersamamu,
Semua keindahan yang tertuang dalam hatimu,
Tak kan pernah ku lupakan..
Karena kau adalah :

"Cerita Terindah Yang Pernah Tertulis Dalam Hatiku"


Ega

Kita



Walau sore ini mendung  menjadikan indahnya langit kita tanpa rona jingga, Namun senja tiada kan pernah ingkar akan janjinya
Senja akan tetap jejali elok  keanggunan warna dalam bayang kesempurnaan semesta raya...
Indah senja tiada kan memudar dari ingatan, di sepanjang liku-liku perjalanan yang telah kita lalui, berdua pada perputaran suatu masa...

Ketika Senja Kita Berkabut Duka


Rega Afrizal dan Aini Nur Latifah

Aksara dan coretan dalam bait-bait kata ini , Ku bingkiskan sebagai kenangan terakhir dariku untukmu…
Mungkin suatu masa nanti,
Senja tak dapat kulihat lagi melukis wajahmu dalam indahnya jingga di suatu soreku,
Mungkin pula tak pernah ku tahu kemana awan berarak membisu
Kala senjaku berkabut rindu,
Ketika jarum gerimis menghias ruang jemari waktu,
Menjemput malam menuju peraduan
Memeluk bayang dalam erat impian
Tak akan pernah aku lupa, kala erat jemari menemani resah rindu di hati kita
Di kala senda gurau menghiasi jalinan kisah yang terpaut mesra
Tentangku yang berjalan dalam kisah hidupmu
Tentangmu penoreh cerita terindah dalam hidupku…
Jika nanti kau merindukanku
Ingatlah aku dalam kenangan lalu
Karena mungkin saat itu aku telah jauh disana dan telah berlalu dalam kisah yang pernah kita ukir dulu
Ketahuilah, kau kan tetap menjadi sahabat terindah dalam hatiku,
Karena kau adalah mimpi yang selama ini menguatkanku,
Kau sahabat terindah yang takkan kubiarkan waktu menghapusmu
Jika esok aku telah tiada
Mungkin pula aku telah hilang di rimba asa
Atau mungkin senja menenggelamkan raut rupa
Ku harap kau tegar melangkah dalam setiap lembar kisah yang akan tercipta..
Untukmu sahabat terindahku,
Ingatlah..
Bahwa aku takkan pernah sedetikpun meninggalkanmu,
Sadarilah..
Hanya sebatas ragaku ini yang melambaikan salam perpisahan
Namun hati ini takkan pernah beranjak pergi dari sisimu
Persahabatan…
Kerinduan…
Kenangan…
Terukir indah dalam sebuah bingkai kehidupan..
Jika aku boleh meminta pada Tuhan,
Aku tak pernah ingin ada perpisahan…
Aku tak pernah ingin ada kehilangan…
Aku tak pernah ingin ada kematian…
Ketahuilah…Bukan karna aku ingin melepasmu,
Namun jemari takdir terlalu erat menahan khilaf jiwa yang tak pernah aku minta…

*) Dalam cerpen Cerita kita di bawah naungan langit senja part 2 :D

Bukan karena takut berpisah dengan dunia



Tatkala Amin bin Abdillah At-Tamimi, seorang tokoh tabi’in terkemuka sakit menjelang wafatnya, para sahabat beliau menjenguknya dan mereka mendapatkan beliau sedang menangis. Mereka bertanya, “Apa yang menyebabkan anda menangis, padahal anda memiliki banyak keutamaan ini dan itu?” Beliau menjawab,” Demi Allah aku menangis bukan karena ingin lama hidup di dunia atau takut menghadapi kematian, akan tetapi aku menangis karena jauhnya perjalanan dan alangkah sedikitnya bekal. Sungguh saya berada di antara tebing dan jurang. Bisa jadi ke surga bisa pula tergelincir ke neraka, saya tidak tahu dimana saya akan sampai…” Kemudian beliau mengehela nafas pelan sedang bibirnya basah dengan dzikrullah.
Begitulah karakter generasi terbaik, amalnya mencapai puncak, tapi rasa takutnya juga mencapai puncak. Beliau dikenal ahli ibadah, ahli ilmu dan sangat zuhud. Hingga Alqamah bin Martsad berkata, “Puncak orang yang zuhud ada delapan orang dan yang terdelapan adalah Amir bin Abdillah At-Tamimi.”
Lalu bagaimana dengan kita? Adakah kita merasa cukup dengan bekal yang telah kita siapkan untuk perjalanan yang maha panjang?