Jumat, 16 Mei 2014

Testimoni Buku "Kasih Mamak"







Membaca Kasih Mamak membuat saya meneteskan air mata
Muhibbudin, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Semua cerpen dalam buku ini keren walaupun saya baru baca sebagian judul saja. Cerita-ceritanya membuat saya seakan larut dalam alurnya, sederhana namun tersampaikan maknanya . Walaupun semua penulisnya masih mahasiswa namun genre yang disuguhkan bukan tentang cinta dan pacaran tapi tentang keluarga, membuat saya jadi kangen rumah
 ^-^.
Novya Prabawati

Kasih Mamak membuat setiap yang membacanya akan merenung ‘apa yang sudah aku berikan untuk mamakku?’  Merasuki jiwa pembacanya untuk ikut mengigit  bibir saat sampai pada klimaksnya luar biasa !!!
Muhyiddin FK UNRAM

Kasih Mamak lebih dari sekedar pemuas dahaga di kegersangan makna cerita zaman sekarang. Didalamnya ada nilai cinta, kasih sayang, keluarga, persahabatan, keihlasan dan suka duka hidup. Disuguhkan oleh jiwa muda dan dipersembahkan untuk setiap jiwa tanpa batas usia, untuk setiap jiwa yang pernah memiliki keluarga. Cerita-cerita yang  sederhana namun sarat makna, Ndak muluk-muluk, ndak lebay...pokoknya suka  ^_^
Aluh Laraning Tyas Dini FK UNRAM

Pertama kali baca berkaca-kaca. Kedua kali baca mengusap air mata. Baca lagi masih membuat panas di mata. Kasih Mamak mencuri hati saya dan mengajarkan saya begitu banyak hal bukan sekedar tentang cinta tapi juga kasih sayang yang tak terkekang dan tak kenal lekang untuk keluarga J
Putri Malu FK UNRAM

Kasih Mamak keren banget pokoknya, cerita yang ada di dalamnya bagus-bagus. Ditunggu buku buku selanjutnya dan tetep semangat menulis ya ^^
Hadyan Ramanda, Mahasiswa Teknik Elektro, UPI Bandung.

Tahukah rasanya rindu yang teramat sangat, yang terasa menghujam lagi dan lagi? Hal itulah yang saya rasakan ketika saya membaca Kasih Mamak berkesan amat dalam. Membuat saya begitu sangat ingin memeluk Mama namun sayang Mama sudah lebih dulu menghadap Sang Penciptanya.
Bagus Wibowo, Karyawan Swasta, Jakarta.


Kasih mamak... Banyak kisah-kisah manis dengan keluarga yang mengharu biru diceritakan dalam buku ini. Ada yang bikin senyum-senyum sendiri, ada yang bikin terharu, ada juga yang bisa bikin perasaan kita jadi campur aduk nggak karuan. Hehe. Setiap cerita punya pelajaran yang bisa diambil dengan bahasa yang nggak menggurui. Intinya, suka sama semua ceritanya J
Putri Eka Pertiwi, Mahasiswa fakultas matematika UNJ, Jakarta


Saya adalah tipe wanita yang gampang menangis. Tidak jarang ketika saya membaca sebuah buku, saya akan menangis jika cerita yang disajikan dalam buku itu benar-benar menyentuh.

Nah, dari sekian banyak naskah yang saya edit, naskah buku inilah yang satu-satunya berhasil menembus dinding pertahanan air mata saya. Saya menangis. Bukan hanya sekali tapi beberapa kali.

Nurhudayanti Shaleh, Editor Buku Kasih Mamak

Senin, 04 Maret 2013

Tentang Ayah




Saya merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara, tumbuh bersama dua orang kakak laki-laki serta enam orang kakak perempuan. Dulu, ayah saya berprofesi sebagai guru di sebuah madrasah dan membuka usaha percetakan di rumah, sementara ibu saya hanyalah ibu rumah tangga biasa yang kesehariannya mengurus anak-anaknya serta membuka warung kecil-kecilan di depan rumah untuk membantu perekonomian keluarga. Namun, semenjak kakak ke tujuh saya lahir ibu memutuskan untuk berhenti berjualan. Ayah pun sudah tidak lagi mengajar di madrasah karena usianya yang sudah tidak muda lagi menuntutnya untuk pensiun, sehingga usaha percetakan menjadi tumpuan ekonomi keluarga kami. Berhubung dahulu keberadaan percetakan masih sangat minim, usaha ayah pun berkembang pesat hingga beliau mampu menyekolahkan kakak-kakak saya hingga ke berbagai daerah. Ada yang menimba ilmu  di Jakarta, Sukabumi, Tasikmalaya, Yogyakarta, bahkan hingga ke wilayah Situbondo, Jawa Timur. Tanpa pernah meminta balasan, ayah membesarkan saya beserta delapan kakak saya hingga memasuki jenjang perguruan tinggi. Mungkin jika dihitung, biaya pendidikan saya serta kakak saya sejak memasuki sekolah dasar hingga melanjutkan ke perguruan tinggi, tidak pernah sanggup untuk kami ganti karena jumlahnya yang sudah tidak terhitung lagi. Ayah, pengorbanmu memang tak pernah bersyarat dan lelaki hebat itu adalah ayah.
Ayah adalah sosok yang hebat....
Ayah adalah sosok yang tegas dan bijaksana....
Ayah selalu mengajarkan putra putrinya tumbuh dalam kesederhanaan dan kedisiplinan, terutama jika menyangkut urusan agama. Sejak memasuki bangku sekolah dasar, saya sudah diajarkan mengenai tata cara salat. Menginjak bangku kelas 3 SD, ayah sudah mewajibkan saya untuk salat tanpa boleh ada alasan apalagi bermalas-malasan. Jika sudah memasuki waktu salat beliau sibuk mengingatkan saya untuk jangan pernah meninggalkan salat. Tak ada ampun jika saya melanggar perintah beliau. Ayah memang tak pernah bermain fisik, ia selalu mengingatkan kami anak-anaknya dengan ucapan. Namun, jika apa yang beliau ucapkan tidak dihiraukan, beliau mulai berkata dengan nada ancaman dengan maksud agar kami jera. Selain mengajarkan salat sejak usia dini, ayah juga mengajarkan saya mengaji. Beliau memang tidak secara langsung mengajarkan saya, namun beliaulah yang begitu keras mendidik saya agar kelak saya pandai mengaji. Pernah suatu ketika, usai salat maghrib saya tampak asyik bermain dengan teman-teman ketika saya masih kecil. Beliau pun menyuruh saya untuk pergi mengaji ke mesjid, dengan terpaksa dan sambil menangis terisak saya berangkat mengaji dan meninggalkan teman-teman saya. Sekarang, saya merasakan manfaat yang luar biasa dari didikan ayah. Oh iya ya, kalau dulu ayah tidak mendidik saya untuk salat dan mengaji mungkin  saya tidak akan bisa apa-apa hari ini. Saya percaya, tidak ada seorangpun orangtua yang tidak menyayangi anaknya meski sekalipun dengan kemarahan caranya, karena ayah punya caranya sendiri untuk mencintai saya.
Ayah adalah sosok yang tidak pernah mengenal lelah...
Meski kini usianya sudah menginjak lebih dari setengah abad, ayah tetap tak pernah mengenal lelah mengabdikan hidupnya untuk kepentingan orang banyak. Ayah saya memang bukan seseorang yang hebat di mata orang lain. Tapi, bagi saya ayah tetap suri tauladan yang baik bagi anak-anaknya. Saat ini, ayah saya masih aktif sebagai imam besar di mesjid sekitar tempat tinggal kami, setiap minggunya ayah juga sering diminta untuk menjadi khatib pada saat salat jumat, bahkan seringkali menjadi khatib pada saat salat hari raya idul fitri . Apabila memasuki bulan ramadhan seringkali beliau juga bertindak sebagai imam salat tarawih di beberapa mesjid. Selain itu, pada saat hari raya idhul adha beliau kerap kali diminta untuk menyembelih hewan qurban. Beberapa karyanya terpampang dimana-mana. Dari mulai papan nama, batu nisan, batu peresmian hingga yang terakhir adalah kaligrafi mesjid. Saya dibuat terkagum-kagum ketika melihat tulisan kaligrafi beliau yang terpahat begitu indah di lingkaran kubah mesjid. Mungkin kepiawaian beliau menulis menurun pada saya meski kami menggeluti bidang yang berbeda. Ayah lebih mengarah pada seni tulisan sementara saya lebih menekuni bidang sastra.
Ayah adalah idola saya....
Mungkin jika ada orang yang bertanya pada saya tentang sosok idola saya itu siapa, dengan tegas saya akan menjawab sosok itu adalah ayah. Karena bagi saya tidak ada seorangpun tokoh ‘hero’ di dunia ini yang mampu menandingi kehebatan dan kegaguman saya terhadap sosok ayah. Sejak saya baru lahir, beliau yang pertama kali mengumandangkan adzan di telinga saya, saat saya belajar dengan tertatih untuk berjalan beliau yang membangunkan saya untuk kembali berdiri ketika saya terjatuh, bahkan ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di sekolah dasar, jika kebanyakan siswa lainnya di antar oleh sang ibu, lain halnya dengan saya yang diantar oleh ayah. Itulah letak pengorbanan sang ayah yang tidak akan pernah ternilai dengan apapun yang sampai hari ini selalu terekam sempurna dalam ingatan saya.
Menginjak masa remaja, ayah mulai bersikap otoriter dengan kebebasan saya. Keseharian saya dipenuhi oleh berbagai macam aturan. Jika pulang sekolah tidak ada keperluan yang mendesak harus langsung pulang, jika pulang terlambat karena ada tugas kelompok wajib telepon ke rumah, yang paling utama adalah saya dilarang keluar malam. Jika saya melanggar aturannya, sudah pasti ketika saya pulang ke rumah akan disambut dengan amarah dan kekecewaanya.
Ketika saya duduk di bangku kelas 1 SMA, saya juga tergabung dalam intrakurikuler OSIS  selama dua priode. Semakin saya tumbuh dewasa, rasa kekhawatiran ayah terhadap saya pun semakin menjadi. Seperti halnya ketika seluruh anggota OSIS diwajibkan untuk mengikuti LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa) selama satu hari satu malam di sekolah. Beliau tidak mengizinkan saya untuk ikut dengan alasan khawatir jika acara tersebut disalahgunakan untuk hura-hura semata dan ayah berkilah, jika memang acara itu benar-benar penting apa tidak bisa dilaksanakan pada siang hari tanpa harus menginap di sekolah? Hingga akhirnya orang-orang penting di dalam jajaran OSIS dari mulai Ketua, Wakil, Sekertaris, Bendahara datang ke rumah saya hanya untuk memintakan izin, namun sayang beliau tetap bersikukuh berkata tidak. Walaupun teman-teman semua sudah menuturkan rangkaian acara sampai mulut berbusa pun jika beliau sudah berkata A tidak akan pernah bisa berubah menjadi B, C bahkan D. Saya hanya bisa pasrah dengan keputusan beliau tanpa pernah bisa merubahnya. Saat itu, seringkali saya menggerutu dalam hati karena sikap ayah yang selalu khawatir berlebihan terhadap saya. Padahal, apa yang dilakukan ayah terhadap saya, tanpa saya sadari adalah bentuk kasih sayang yang luar biasa yang tidak semua anak mendapatkannya. Melihat kondisi zaman yang semakin berkembang ke arah modern, banyak anak remaja yang terjerumus ke dalam pergaulan bebas, mungkin ayah khawatir jika saya terjerumus ke dalam kehidupan remaja masa kini. Ayah...Maafkan saya yang tidak peka atas rasa cinta dan kasih sayang ayah terhadap saya.
Saat-saat terakhir ketika saya akan menyelesaikan pendidikan saya di SMA, saya pun disibukkan dengan pencarian memilih perguruan tinggi negeri dengan harapan dapat mengikuti jejak kakak saya terdahulu. Dari mulai mengikuti Ujian Mandiri, PMDK, Beasiswa, hingga yang terakhir saya mengikuti SNMPTN di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Namun dari semua seleksi yang saya ikuti, saya dinyatakan gagal. Bodohnya, ketika tes SNMPTN saya tidak pernah berani mencoba hanya karena takut gagal, karena pada saat itu kegemaran saya terhadap dunia tulis menulis telah memikat hati saya untuk memperdalam bisang Sastra Indonesia. Namun,  jurusan saya ketika SMA adalah IPA sementara Sastra Indonesia berada di prodi jurusan IPS otomatis saya harus mengambil paket soal IPC (kolaborasi antara IPA dan IPS)  jika ingin lulus di jurusan Sastra Indonesia, dan sayangnya saya tidak mau ambil pusing untuk memperdalam IPC. Berhubung saya tidak banyak mengetahui pelajaran IPS, saya pun ‘cari aman’ sehingga akhirnya saya mengambil dua pilihan yang sama sekali tidak saya sukai yaitu Kimia dan Ilmu Gizi yang pesaingnya justru lebih berat dan lebih banyak ketimbang Sastra Indonesia.
Hingga pada saat pengumuman tiba, hari itu menjadi hari terkelam dalam sepanjang hidup saya ketika  saya harus menyampaikan kegagalan saya itu pada ayah. Tersirat rasa kecewa di wajahnya, harapannya musnah hanya karena saya yang takut kalah sebelum berperang. Hari itu saya berjanji pada diri saya sendiri kelak saya akan mengganti rasa kecewa ayah menjadi senyum bahagia.
Akhirnya saya pun memilih untuk kuliah di sebuah akademik swasta pilihan ayah dengan jurusan yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan sebelumnya yaitu Manajemen Informatika. Awalnya saya berpikir, jika saya kuliah di jurusan Manajemen Informatika saya harus mengubur mimpi saya untuk menjadi seorang penulis. Tapi ternyata saya salah, Karena sampai detik ini saya masih memelihara asa saya untuk menjadi seorang penulis. Nasihat beliau, Mau kuliah di jurusan IT atau Sastra Indonesia kuliah dimanapun sama saja. Masalah nanti kamu mau jadi apa biar doa dan usaha yang tak pernah putus asa yang senantiasa akan mengikutinya. Saya yakin, bahwa dimanapun kita berada itulah tempat terbaik kita. Mungkin kuliah di perguruan tinggi negeri memang bukan rezeki saya.
Dari sembilan anak ayah, hanya saya yang tidak pernah kenal dengan sekolah khusus agama. Semua kakak saya pernah menimba ilmu di Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah bahkan di pondok pesantren. Sementara saya, menghabiskan masa remaja saya di SMP dan SMA Negeri. Saya hanya dapat mendengar dunia pesantren itu menyenangkan dari cerita kakak saya tanpa pernah bisa merasakannya. Mungkin karena saya anak bungsu, yang terkesan manja dan tidak bisa jauh dari orangtua membuat mereka tidak percaya jika saya bisa mengurus diri sendiri tanpa keberadaan orangtua.
Dan kini saya menyadari tentang alasan ayah dengan begitu disiplin mendidik anak-anaknya, karena rasa tanggung jawab ayah itu semacam petani yang merawat tanamannya agar tumbuh dengan baik dan membuahkan hasil yang membanggakan. Di mana kesuburan tanamannya, tidak akan terlepas dari upaya pembersihan hama dan gulma, juga tangan-tangan jahil yang ingin mencabutnya sebelum masa panen tiba.
Ayah yang telah mengajarkan saya banyak hal.
Ketika saya duduk di kelas 2 SMP, di depan rumah saya ada seorang lelaki berambut ikal meminta izin untuk berjualan koran di depan rumah saya, karena tempat sebelumnya berjualan akan dibangun sebuah warung. Jika di tempat sebelumnya dia menyewa, ayah mengizinkan lelaki itu berjualan tanpa harus membayar uang sewa. Begitu mulianya hati ayah. Seiring berjalannya waktu, tiba-tiba lelaki itu menghilang tanpa memberi alasan yang jelas. Ternyata,  lelaki tersebut mempunyai hutang yang tidak sedikit pada agen koran yang sehari-hari dijajakannya. Sementara semua koran, tabloid, majalah sebagai barang dagangannya ia titipkan di rumah saya. Hingga akhirnya, ayah berinisiatif untuk mengambil alih profesi tukang koran itu, karena kebetulan ayah juga tidak ada kesibukkan di rumah. Dengan meja kecil seadanya, setiap pagi ayah menjajakan koran-koran itu dengan senang hati meski hasilnya tidak seberapa. Ayah bilang, lumayan setiap harinya bisa baca gratis kan nambah ilmu pengetahuan juga?
Selang beberapa bulan kemudian, ayah jatuh sakit. Sehingga saya yang mengambil alih semuanya. Dari mulai mengangkat meja sendiri, merapihkan koran, majalah dan tabloid, meretur barang, hingga sore tutup dan kembali membereskannya. Alhamdulilah, hasilnya lumayan. Bisa menutupi kekurangan uang jajan saya bahkan lebih. Setelah ayah sembuh dari sakitnya, beliau menyerahkan usaha koran itu pada saya. Sejak saat itu, saya sudah tidak pernah lagi meminta uang jajan pada ayah. Kelas 2 SMP saya sudah punya usaha sendiri, yang menjadi pembuktian bahwa saya bukan anak bungsu yang manja yang selalu mengandalkan orangtua. Kios sederhana koran milik kami buka dari pagi hingga sore hari. Jika saya sekolah ayah yang menjaganya setengah hari, kemudian secara bergantian saya yang menjaganya setelah pulang sekolah.  Bahkan jika hari minggu saya yang menjaganya full seharian. Meski pada saat itu saya harus kehilangan masa remaja saya, tapi saya senang melakukannya. Disaat teman-teman mengajak bermain saya selalu menolaknya karena saya sudah mempunyai tanggung jawab yang ayah amanahkan pada saya. Tentunya, masa remaja saya menjadi tidak terbuang sia-sia. Apabila koran, majalah dan tabloid itu belum laku terjual, saya menjaganya sambil membaca. Justru saya banyak tahu tentang sesuatu yang baru dari koran yang tiap hari saya baca.
Biasanya koran-koran itu setiap paginya diantarkan ke rumah, semenjak pegawai agennya banyak yang mengunduran diri, jadi saya yang mengambilnya langsung. Berhubung saya tidak bisa mengendarai sepeda motor, saya mengambilnya dengan mengendarai sepeda. Terkadang saya malu, banyak mata yang memandang saya miring. Ko, hari gini masih zaman ya naik sepeda?. Tapi saya bangga dengan profesi saya, karena tidak banyak orang yang bisa melakukan pekerjaan seperti saya disaat usia yang kebanyakan remaja melakukan hal hura-hura semata. Hal ini saya lakukan selama 6 tahun dari mulai saya kelas 2 SMP hingga saya duduk di bangku kuliah semester 2. Kios sederhana saya terpaksa gulung tikar karena keberadaan tekhnologi saat ini yang semakin canggih, informasi apapun sudah tersedia dalam internet. Jika saat zaman sekolah dulu saya selalu mengerjakan tugas makalah dari koran, sekarang para siswa lebih banyak yang mencarinya lewat internet karena terkesan lebih mudah. Tidak perlu repot repot membaca, hanya tinggal masuk aplikasi Google semua pembahasan yang ingin kita cari sudah tersedia.
Semua pelajaran ini saya dapatkan dari ayah. Bahkan saya yang dulunya hanya seorang pembaca, kini saya adalah seorang penulis. Padahal sebelumnya saya hanya sebatas bermimpi tulisan saya bisa dibaca oleh orang banyak. Tapi kesabaran itu kini berbuah manis, dan yang tak kalah membuat saya senang adalah ketika saya menyerahkan koran harian yang didalamnya terdapat cerpen saya pada ayah. Beliau tersenyum bangga sambil menatap saya lekat.
Ayah...terimakasih atas banyak pelajaran hidup yang kau berikan, untuk seterusnya saya berjanji akan membuat senyuman itu terkembang lebih indah lagi di wajah ayah.





Selasa, 29 Januari 2013

Teman Lama


Saat jam makan siang di sebuah restoran sunda, Sisil dan Erin tampak asik menceritakan kembali masa kecil yang pernah mereka lalui. Mereka berdua berteman sejak kecil, kebetulan kantor di mana mereka bekerja berdekatan sehingga keduanya memutuskan untuk makan siang bersama.
“Kemarin aku liat Fahmi keren banget loh Rin, udah kaya eksekutif muda gitu,” ujar Sisil usai menyeruput jus alpukatnya.
“Sebentar, Fahmi yang mana sih?” Tanya Erin mencoba mengingat.
“Itu loh Rin, temen SD kita yang dulu sering jadi objek penderitaan di kelas si Fahmi yang dulu cupu itu? Masa kamu lupa sih?”
“Inget sih ada temen SD yang namanya Fahmi tapi lupa banget mukanya yang mana, haha”
“Woo Dasar. Kalo ketemu kamu juga bakalan pangling liatnya hehe,” Keduanya tampak larut dalam gelak tawa.
***
Keesokannya ketika mematung menunggu angkutan umum sepulang kerja, tiba-tiba ada yang menepuk bahu Erin dari belakang.
“Hey, kamu Erin yang dulu sekolah di SD Taman Siswa ya?” tanya seorang lelaki yang mengenakan kemeja hitam dan celana jins biru.
“Iya…sebentar perasaan muka kamu familiar deh?” erin mencoba mengingat.
“Kamu tuh yang dulu pernah ketiban atap sekolah kan?” sepertinya lelaki tersebut tahu banyak tentang masa kecil Erin.
“Hahaha iya. Waktu lagi kela s 4 SD,” Jawab Erin sedikit malu.
“Kamu cowok yang pernah nyungsep ke keranjang sampah waktu maen gerobak sodor itu kan?” tebak Erin sok tahu.
“Hahaha iya juga. Jadi kangen masa kecil ya? Ngomong-ngomong sekarang kamu cantik ya waktu SD sih masih cupu banget rambutnya dikuncir dua dikasih poni sekarang udah kaya syahrini hehe”
“Kamu juga keren ya sekarang, tampilan rambutnya udah kaya Cristian Sugiono gak belah dua lagi hehe,” keduanya saling mengenang kejadian lucu masing-masing. Sampai akhirnya setelah ngobrol ngalor ngidul bis pun datang. Keduanya pun berpisah karena naik bis yang berbeda.
Ketika dalam bis Erin sudah mendapat tempat duduk, “Oh iya cowok tadi namanya siapa ya? Lupa banget enggak nanya namanya,” Gubrak!!! Setelah ngobrol panjang lebar ia tak tahu siapa nama lelaki yang banyak tahu tentang masa kecilnya.

“Aih aku baru inget kalo Fahmi cowok yang kemaren diceritain sisil , ah teman lama…Kalau ingat namanya lupa wajahnya, kalo ingat wajahnya lupa namanya”

Senin, 28 Januari 2013

Tren Memakai Jilbab


“Semakin ke sini tren pakai jilbab kok tambah aneh aja ya, Kak?” 
 tanya Aneu dengan raut wajah bingung.
“Maksudnya aneh gimana, sayang?” Hilda pun balik bertanya.
“Coba aja Kakak lihat, yang semula pake peniti di leher sekarang malah
 pada pake penitinya di kepala?”
“Hehe iya juga ya, Dek…” Hilda tertawa menanggapi celotehan adiknya
 yang masih duduk di bangku kelas 3 SD.
“Terus udah gitu pakenya berbelit-belit lagi, ditarik ke sana ditarik ke sini. 
 Aneu aja pusing ngeliatnya, Kak. Kakak kok pakai jilbabnya masih
 biasa aja enggak di apa-apain, kan biar gaul Kak?” tanyanya polos.
“Hmm Kakak suka yang sederhana aja Dek,
 tau enggak kesederhanaan itu indah loh.” Jawab Hilda sembari tersenyum.
“Maksudnya apa, Kak?”
“Allah itu memang menyukai keindahan, tapi Allah tidak menyukai 
sesuatu yang berlebihan. Lagi pula, Ibu kan selalu mengajarkan kita
 tentang kesederhanaan, bukan begitu? Hayo diingat-ingat lagi nasihat Ibu?”
 Hilda pun menasihati adik kecilnya. Aneu tersenyum malu.
“Ayo sana berangkat mengaji, tuh Pak Ustadnya sudah datang.
 Sini Kak Hilda pakaikan jilbabnya,” seru Hilda.

Setiap habis Ashar memang adalah waktunya Aneu mengaji di masjid.
Hilda pun hendak memakaikan jilbab berwarna biru muda, yang tak lain 
merupakan warna kesukaan Aneu.
“Eits sebentar dulu Kak, awas pakein penitinya di leher 
bukan di kepala. Nanti Kak Hilda lupa lagi. Hehe.”
“Kan kata kamu tadi biar gaul?” goda Hilda.
“Gaul sih gaul, tapi ribet Kak. Nanti kalo habis wudhu mau solat maghrib,
 Aneu ga bisa pakainya lagi gimana kak? Hehe.”
“Adik kakak yang satu ini memang pintar,” Hilda mencubit kedua pipi Aneu gemas.
Tak lama kemudian Aneu pun berangkat mengaji ke masjid dan
 terlihat tampak cantik dengan balutan jilbabnya yang kebesaran.

Kesimpulan : Jangan pernah takut dibilang ketinggalan zaman, 

selama kita merasa nyaman dengan apa yang kita kenakan,
karena jadi diri sendiri itu jauh lebih menyenangkan.

-Aini Nur Latifah-
 

Jumat, 28 Desember 2012

Putee


Terlahir sebagai bungsu dari sembilan bersaudara membuat saya begitu merindukan sosok adik. Ya, itulah yang saya rasakan, karena tidak selamanya jadi anak bungsu itu menyenangkan. Hampir semua kakak saya sudah berkeluarga sehingga membuat saya sering merasa sepi karena hubungan antara kakak-beradik itu sedikit berjarak. Terkadang saya juga butuh seseorang untuk berbagi baik dalam keadaan suka maupun duka. Sehingga saya mengalihkan perhatian saya untuk berselancar di dunia Maya.

Sejak lulus dari SMA, hobi menulis yang bertahun-tahun tenggelam seakan muncul kembali ke permukaan. Ternyata tanpa saya duga sebelumnya banyak sekali event menulis yang diadakan melalui jejaring sosial facebook. Tahun lalu, saya mengikuti lomba menulis cerpen dengan tema “Abg labil”. Satu bulan kemudian, tiba saatnya pengumuman nominasi yang naskahnya berhak untuk diterbitkan bersama 25 orang penulis lain. Saat itu, begitu beruntungnya saya menjadi salah satu penulis yang naskahnya dapat diterbitkan. Dari situlah saya mengenal sosok gadis berusia 16 tahun bernama lengkap Putri Eka Pertiwi. Kebetulan Putee, begitulah sapaan akrabnya juga menjadi salah satu penulis yang cerpennya lolos untuk diterbitkan.

Entah kenapa, ketika admin membuatkan group di facebok yang bertujuan agar para penulis dapat lebih mengenal satu sama lain saya merasa klik dengan salah satu nama penulis. Ya, Putee. Sekalipun kami tidak berteman namanya seringkali muncul di grup kepenulisan. Hingga akhirnya kami seringkali saling menyapa satu sama lain. 

Singkat cerita, hubungan pertemanan kami menjadi semakin dekat. Putee sudah saya anggap seperti adik kandung saya sendiri. Apa yang saya rasakan ternyata bertolak belakang dengan apa yang Putee rasakan. Putee terlahir sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Sehingga ia begitu merindukan sosok kakak. Kami berdua sudah tak pernah lagi merasa sungkan untuk menceritakan masalah apapun baik tentang hobi kami menulis, tentang kesibukan masing-masing, bahkan hingga masalah yang sifatnya pribadi. Bahkan kami pernah duet dalam satu cerpen yang kami beri judul “Abigel”. Dari situlah kami mencoba untuk saling mengisi dan saling melengkapi, saya meridukan sosok adik dan Putee merindukan sosok kakak. Lucunya, putee tak pernah memanggil saya dengan sebutan kakak. Justru ia memanggil saya dengan sebutan Bunda, ya Bun Aini.

Putee, Bun Ai sayang banget deh sama Putee. Andai kita terlahir dari satu rahim yang sama?hehe. Mungkin kita bisa saling curhat dulu setiap sebelum tidur, belajar nulis bareng, jalan-jalan sore sambil sepedaan bareng, makan bakso pedes bareng, jalan ke toko buku bareng, terlalu banyak hal yang pengen Bun Ai lakuin bareng sama Putee :”)

Berawal dari menulis kita saling kenal. Terus terbitnya Buku Antologi Ababil yang jadi buku antologi perdana kita. Tentang cerpen Abigel kita yang berakhir mengharukan, tentang Bun Ai yang pengen punya adik dan Putee yang pengen punya kakak, tentang curhatan galau kita, tentang panggilan kita yang hampir sama peri kecil n’ si kecil, tentang putee yang suka banget sama kucing dan Bun Ai yang justru takut banget sama kucing, tentang indahnya semua perbedaan kita. Ah, andai tak ada dinding maya yang membatasi ruang gerak kita. Tapi sekalipun berbatas dinding maya, kita masih bisa bersua, kita masih bisa bertukar cerita dan bersilang doa. Semoga Tuhan segera mempertemukan kita dalam rengkuh pelukan yang nyata. Selamat ulang tahun adik kecilku, doa Bun Ai masih sama seperti tahun lalu, mengharapkan pertemuan indah itu :”) 

Jum’at, 16 November 2012

Pacar Baru Atau Teman Lama?



Ketika seorang remaja dihadapkan pada dua hal yang ia rasa penting dalam hidupnya, apa yang akan mereka pilih pacar baru atau teman lama?
Sepertinya, mempunyai pacar di kalangan remaja menjadi persoalan yang sangat penting ketimbang urusan pendidikan yang seharusnya didahulukan. Terkadang, perintah orangtua pun cendrung diabaikan serta keberadaan seorang sahabatpun dapat tersingkirkan. Ya, ironis memang.
Seperti halnya dalam suatu kisah, ada dua orang sahabat mereka sangat dekat. Sebut saja namanya, Yuna dan Dafa. Seringkali keduanya saling bertukar pikiran, mengerjakan tugas bersama, bahkan curhat tentang urusan pribadi masing-masing dari mulai masalah keluarga, sekolah entah masih banyak lagi keduanya saling bertukar cerita. Hampir separuh harinya dihabiskan bersama. Lima tahun sudah keduanya saling mengenal sejak mereka duduk di bangku SMP hingga kini kembali dipertemukan di sekolah yang sama dibangku SMA. 
Seiring waktu berjalan, Dafa menyukai teman satu organisasinya di sekolah bernama Kia. Hingga tak lama kemudian bak gayung bersambut Dafa dan Kia memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Semenjak Dafa dan Kia pacaran, yang biasanya Dafa pergi dan pulang sekolah bersama Yuna, kini berganti dengan Kia. Ketika Yuna mengajak Dafa untuk sekedar mengerjakan tugas bersama pun Dafa seringkali menolak karena alasan akan pergi bersama Kia. Semuanya berubah seakan seperti kilat yang begitu cepat. Setiap kali bertemu pun Dafa terkesan dingin, acuh. Tidak ramah seperti Dafa yang bertahun-tahun lalu dikenalnya. Yuna merasa persahabatannya dengan Dafa seolah berjarak semenjak kehadiran Kia. Persahabatan yang sudah ia bangun bersama Dafa seakan pupus sudah hanya karena orang baru yang Dafa kenal.
Sebagai seorang sahabat, Yuna sering menyapa setiap kali ia berpapasan dengan Dafa dan Kia. Sehingga membuat Kia merasa cemburu dengan sikap Yuna. Lalu, Kia meminta Dafa untuk menjauhi Yuna. Bodohnya, Dafa menurut saja untuk menjauhi Yuna atas nama cinta apapun akan dilakukannya demi membuat pasangannya bahagia. 
Yuna merasa senang jika Dafa senang, namun yang ia sayangkan perubahan sikap Dafa yang begitu cepat. Lebih cepat ketimbang laju kendaraan yang saat itu sedang berlalu lalang di hadapannya. Yuna ingat betul, ketika ia dan Dafa masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Sambil menggenggam erat jemarinya, bersenda gurau di jalanan yang tampak lengang Dafa berkata kita itu sahabat, satu jiwa dalam dua raga. Rupanya itu dulu, sekarang tidak. Sekarang dan dulu itu sudah nampak berbeda.
Jika ada yang baru yang lama dilupakan. Seringkali kalimat itu diucapkan oleh banyak orang dalam berbagai persoalan. Pacar bisa menjadi mantan, tapi istilah mantan tidak pernah berlaku untuk seorang teman. Tak ada istilah mantan teman, apalagi mantan sahabat. Sekalipun tali persahabatan yang sudah terjalin cukup lama itupun terputus tanpa kita duga. Seperti apapun sikapnya terhadap kita, tak ada alasan bagi kita untuk membencinya, karena setidaknya kita pernah membingkai pelangi bersama.
Yang harus kita ingat sebagai pelajaran, pacar itu bukan Tuhan yang berhak mengatur hidup kita untuk mematuhi semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya. Cinta macam apa yang mengekang kebebasan? Apalagi kebebasan dalam memilih teman. Jika dihadapkan pada persoalan memilih pacar baru atau teman lama? Jawabannya tergantung pada bagaimana kita menyikapinya. 

Aini Nur Latifah, 26 November 2012

Selasa, 18 September 2012

Jodoh





Andai kau tahu...
Aku mengharapkanmu menjadi teman hidupku 
namun aku tak punya kuasa untuk menjaminnya. Karena,
bukan aku yang menulis di lauh mafuz sana. tapi DIA.

DIA ,Allah yang menjadikan dirimu dan diriku, di tanganNya itu sudah tertulis takdir kita yang kita tidak ketahui.
 
Jodoh itu seperti rezeki.
Dan aku amat berharap dirimulah yang akan menjadi rezeki terindah dari Allah buatku..
namun aku insan yang tiada daya dan upaya melainkan kekuatan yang segalanya datang dariNya

Aku mohon Ya Allah,
kuatkanlah imanku dan imannya..
jika dia benar untukku, 
maka dekatkanlah hatiku dengan hatinya di jalan Mu,
jika dia bukan untukku,
damaikanlah hatiku dengan ketentuan Mu


Tidak perlu dicari apa yang sudah seharusnya menjadi milikmu, yang pasti menjadi milikmu itu akan tetap untukmu, cepat atau lambat hanya masalah waktu. Sebaliknya apa yang bukan milikmu itu, walau kau kejar, semakin jauh. cepat atau lambat, membuat dirimu semakin jenuh.
Yakinlah pada firman-Nya,
“Perempuan - perempuan yang keji untuk laki - laki yang keji dan laki - laki yang keji untuk perempuan - perempuan yang keji, perempuan - perempuan yang baik untuk laki - laki yang baik dan laki - laki yang baik untuk perempuan yang baik.”QS [24:26]




 

Kamis, 13 September 2012

Jangan Hanya Melihat Ke Atas

Tidak baik jika kita menutup-nutupi
kelemahan dan kegagalan dengan
banyak alasan. Terimalah, dan hadapilah

kegagalan itu sebagai pengalaman dan
pelajaran berharga, agar bisa jadi
pedoman dan tuntunan untuk mencapai
kemajuan dan keberhasilan yang lebih
berarti di kemudian hari.
Dear Aini,

Kita tahu bahwa dunia ini selalu
berputar. Adakalanya manusia ada di
bawah, atau sebaliknya ada di atas.
Ada orang bertanya kepada saya,
bagaimana dengan kenyataan yang
sering kita lihat begitu banyak
orang-orang yang selalu di bawah?

Bukankah mereka juga tinggal di bumi
yang sama dengan orang-orang yang
mampu dan kuat berada di atas? Sering
kita lihat orang-orang yang sudah di
atas malah semakin ke atas.
Temanku, pandangan itu semua
hanyalah ironi. Kita tidak pernah
tahu apa yang terjadi pada mereka
yang sudah ada di atas. Kebanyakan
di antara kita melihat mereka yang di atas
selalu dari 'materi' atau jabatan.
Namun percayalah, setiap orang
mengalami pasang surut.
Belajarlah dari orang-orang yang
sudah ada di atas, dan orang-orang
yang berada di bawah. Jangan hanya
melihat ke atas.
Banyak pelajaran yang bisa diambil
dari keduanya, yang bisa engkau
jadikan bekal tuk menjadi pribadi
yang luhur bijaksana, sukses lahir
dan batin.

Pepatah mengatakan:

"Kebesaran seseorang tidak terlihat
ketika dia berdiri dan memberi
perintah. Kebesaran seseorang akan
terlihat ketika dia berdiri sama
tinggi dengan orang lain, dan
membantu orang lain untuk
mengeluarkan yang terbaik dari diri
mereka untuk mencapai sukses" - Prof.
G. Arthur Keough

Janganlah suka cari alasan untuk

menutupi kegagalan. Sebaliknya,
carilah terus 'cara' untuk menggapai
keberhasilan.

Salam hangat dari sahabatmu,
~ Ahira