Selasa, 03 Juni 2014

Nilai-nilai Pancasila Masihkah Terjaga?

Pada awal juni yakni pada tanggal 1 juni, selalu diperingati sebagai hari lahirnya pancasila. Namun pertanyaannya, apakah di era modernisasi ini apakah nilai-nilai luhur pancasila yang katanya dasar negara Republik Indonesia itu masih terjaga atau bahkan sudah hilang terkalahkan zaman?

Pada kenyataannya, jika dilihat dari sudut pandang pribadi nilai-nilai luhur pancasila kini kian memudar. Mengapa dikatakan demikian? Lihatlah para petinggi negeri yang seharusnya menjadi panutan dan suri tauladan yang baik untuk rakyat justru malah melakukan tindakan korupsi merampas hak rakyat tidak mencerminkan pemimpin pro rakyat justru malah menjolimi rakyat. Apalagi tindakan korupsi sudah merambat ke departemen agama dimana seharusnya nilai pancasila yang pertama itu ditanamkan dengan baik. Setelah kasus korupsi pengadaan alquran, kemudian yang baru-baru ini korupsi dana haji kemudian apa lagi? Ironis sekali. Dimana nilai “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sila pertama ketika para pemimpin melakukan tindakan korupsi yang tentunya dilanggar oleh negara dan bahkan oleh semua agama?

Akhir-akhir ini masyarakat indonesia juga dikejutkan oleh beberapa kasus kekerasan dan tindakan pelecehan seksual yang korbannya merupakan anak-anak dibawah umur yang merupakan gerasi penerus bangsa. Tindakan yang tentunya sangat tidak manusiawi dan tidak mencerminkan nilai-nilai-kemanusiaan. Dimana nilai “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” sebagai sila kedua?

Hanya dalam hitungan bulan juga, negara kita akan memilih presiden baru tepatnya pada tanggal 09 Juni 2014. Komisi Pemilihan Umum sudah menentukan dua pasangan yang akan melaju pada pemilihan presiden nanti, nomor urut pertama ada pasangan Prabowo-Hatta Rajasa. Sedangkan pada nomor urut kedua ada pasangan Jokowi-Jusuf Kalla yang memaknai nomor urutnya sebagai simbol keseimbangan. Namun, selama sepekan ini banyak sekali kampanye hitam yang terjadi baik pada pasangan calon presiden nomor urut satu maupun calon presiden nomor urut dua. Tim sukses kemenangan keduanya pun mencoba menjatuhkan lawan masing-masing dengan persaingan yang tidak sehat. Saling menyerang satu sama lain. Dimana nilai “Persatuan Indonesia” sebagai sila ketiga jika rakyatnya saling berseteru dan saling menjatuhkan?

Pemilihan calon legislatif juga menyisakan laporan-laporan dari beberapa caleg ke Mahkamah Agung karena ketidakpuasan serta merasa ada kecurangan yang terjadi seperti penggelembungan suara, politik uang dan kecurangan lainnya. Banyak sekali kecurangan yang terjadi yang dilakukan oleh para calon legislatif. Apa hal semacam ini yang dinamakan “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” sebagai sila keempat?
Jika masih banyak rakyat kita yang hidup dibawah garis kemiskinan, bertempat tinggal di pemukiman yang tidak layak, kelaparan, anak- anak tidak memperoleh pendidikan sehingga menjadi pengemis dan pengamen jalanan, rakyat miskin sakit tidak dipedulikan sedangkan para petinggi hanya duduk manis menikmati fasilitas negara dan menikmati hasil korupsi. Apa ini yang dinamakan “Keadilan bagi seluruh rakyat indonesia” sebagai sila kelima?

Pancasila, kini engkau mulai terlupa. Bagaimana nasib bangsa jika lima nilai dalam dasar negara itu tak lagi ada? Semoga nilai-nilai pancasila ini tidak hanya digaungkan pada saat upacara bendera saja tapi juga tertanam dalam jiwa-jiwa yang mengaku mencintai indonesia.

Selasa, 27 Mei 2014

Surat Dari : Kakak Arief Prasetyo


Dan ku hanya mengetahui tentang mu dari banyak cerita dari kawanku
Kamu dahulu pernah bermimpi menjadi seorang penulis muda
Mendewasakan setiap manusia yang membaca tulisanmu
Mengajarkan kesederhanaan, mengajarkan menghadapi kenyataan, mengajarkan kejujuran, keterbukaan, serta menjadikan siapun yang membaca tulisanmu menjadi terinspirasi

Lantunan tulisanmu terlihat begitu elok
Terimakasih sebelumya
Karenamu aku menjadi berani menatap masa depan lagi dan lebih berani untuk melangkah mendekatinya.


Aini Nur Latifah, Mungkin adalah sebuah nama yang sudah tak asing lagi ku dengar. Tiga tahun sudah aku mengenalmu. Pada tahun pertama kamu menjalin hubungan dengan kawanku, dan akupun mulai mengenalmu. Kamu dahulu adalah gadis kecil yang selalu ingin menjadi dewasa secepat mungkin. Bercita-cita  ingin menjadi penulis dan begitu teguh memperjuangkan citamu.

Dua  tahun setelah mengenalmu, kau telah dapat terbang sendiri dan mulai menghiasi wajah Indonesia dengan karyamu, bercerita tentang relita yang memberikan pengajaran kepada seluruh masyarakakat yang membacanya. Indah dan elok ku baca tulisanmu.

Dan yang lebih ku kagumi dari dirimu adalah semangatmu untuk meraih cita mengalahkan semua orang yang pernah ku kenal selama hidupku. Sadarkah kau bahwa semangatmu yang membara sejatinya telah menghidupkan semangat bagi semua orang yang telah mengenalmu termasuk aku … ^_^
Terimakasih banyak ya, dan terutama terimakasihku ku berikan pada Tuhanku karena telah mengenalkanku padamu ….



Kalo kita ketemu , bakal kk beliin eskrim korneto Ai … Makan berdua di pinggir jalan pas sore – sore sambil liat matahari yang mulai malu melihat Ai

Ai adalah salah satu tokoh inspiratif kk
Letaknya nomer dua seteah ayah+ibu kk …  heee
Aini Nur Latifah … kini kau telah terbang tinggi di atas bumi dan telah menerangi semua yang mengenalmu
Ai, jangan cepet nyerah dan jangan cepet bosen ya
Ai tetaplah jadi Bintang yang cahayanya menerangi malam gelap
Ai tetaplah jadi bintang yang setia menemani pekatnya malam
Ai tetaplah jadi bintang yang terang

Anggap aja ini surat dari fans Ai ya :D
Soalnya kk tahu ke depanya kk bakal sulit banget hubungi Ai, karena Ai bakal banyak penggemar dan Fans kedepannya
Mumpung belum banyak yang ngefans, kk trus tulis dan kirim surat ke Ai
KK kirim ni satu … hehe
Maaf ya tulisanya gak karuan, ngalor ngidul
hehe



Nah ini tulisan kk tadi siang habis merenung gara – gara ingat Ai, hee

MONOLOG HASIL EVALUASI DIRI
Kita adalah manusia dan sudah sewajarnya kita bermimpi dan berani meraihnya dalam sebuah asa ….
Jatuh dalam ribuan kegagalan dan tersungkur dalam ruang kamar kotor telah menjadi kehidupan harian kita semua…
Terkadang kita coba membakar kembali asa dan menggugah diri yang terlelap dalam keterpurukan … Banyak upaya yang berusaha kita lakukan
Banyak air mata yang telah kita tumpahkan demi diri kita, dan banyak jutaan nyawa telah mendahului kita demi keberlangsungan hidup kita …
Apakah kita rela terlahir demikian ??
Apakah kita rela menjadi debu di angkasa yang tak tahu arah angin menerpanya ??
Apakah kita akan selalu diam menuruti jalanya air yang membawa kita ??
TIDAK !!!!
Kita harus melawan arus air, angin, himpitan tanah bahkan api yang membuat warna kita pudar
Hidup kita terlalu berharga bila di sia – siakan dan lebih menyesalah kita bila kita tak menjemput ribuan pintu yang terbuka dan sedang menunggu kita menjemputnya
Ribuan kata hampa dan hanya sedikit kata penuh gairah yang biasa kita lantunkan dalam kehidupan harian
Sejatinya apakah kita tahu bahwa setiap kata adalah do’a dan setiap do’a akan menuntut pengabulan atas apa yang telah di tulisnya ….
Apakah kita tahu bahwa kita hanya sebuah makluk yang harus maju dan terus berkembang dan selalu berlomba dengan kondisi yang mengitari kita …
Hanya ada dua pilihan sejatinya kita yang menguasai ataukah kita yang di kuasai oleh kondisi lingkungan kita …
Dan kitapun pastinya akan memilih menguasai lingkungan kita “Aku Pasti Bisa !!!, aku kan menjadi yang terbaik !!!, bla blaaa blaa”
Dan tahukah kita bahwa sejatinya apa yang kita lantunkan dalam kata – kata kita kebanyakan sama sekali tak sejalan dengan perbuatan kita
Perbuatan kita terhadap sesama manusia
Pada alam
Pada tuhan
Dan pada diri sendiri
Maka kenalilah kawanmu maka kau akan mengenali dirimu
Tataplah mereka yang kau benci dengan penuh kasih sayang seakan kau sedang menatap tuhanmu
Jujurlah pada dirimu sendiri dan mulai sadarilah bahwa dirimu bukanlah dia, mereka ataupun tuhanmu, dirimu adalah kamu ….
15 September 2013
Kakak Arif Prasetyo
Terimakasih karena Ai telah menginspirasi kk

Memaknai Isra’ Mi’raj



Hari ini kita menginjak tanggal 27 Rajab. Dimana pada hari tersebut terjadi sebuah peristiwa besar dan sangat penting bagi sejarah kehidupan umat islam. Yaitu, diperjalankannya Nabi Muhammad SAW dari masjidil haram ke masjidil aqsa serta perjalanannya Nabi Muhammad SAW ke sidratul muntaha. Banyak hal menakjubkan yang Allah perlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW, seperti diperlihatkannya keindahan surga dan betapa mengerikannya keadaan di neraka. Serta Nabi Muhammad SAW kembali dengan membawa bekal shalat 5 waktu menuju bumi setelah melakukan serangkaian perjalanan suci ke atas (Mi'raj). Seperti firman Allah dalam Al-qur’an:

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).
(QS. Al-Isra’ : 78)

Perintah menunaikan shalat 5 waktu adalah salah satu hikmah terbesar dalam perjalanan isra mi’raj yang terus kita rasakan hingga kini. Menjalankan shalat 5 waktu itu seperti menyempurnakan rukun islam. Dalam shalat ada syahadat rukun islam yang pertama, puasa rukun islam yang ketiga, zakat rukun islam yang keempat dan haji rukun islam yang kelima. Mengapa dikatakan demikian? Karena dalam shalat terdapat dua kalimat syahadat. Terdapat puasa, karena dalam shalat kita diharuskan puasa bicara dan hanya diperkenankan bicara dalam hati. Zakat, ketika kita meluangkan atau menyisihkan waktu kita untuk shalat, hal itu dinamakan zakat waktu. Dan yang terakhir adalah haji, dimana pun kita berada bahkan di ujung dunia sekalipun ketika kita shalat tetap menghadap kiblat seperti orang yang sedang menunaikan ibadah haji yang berdoa dihadapan ka’bah.
 Perlu kita ketahui, bahwa shalat bukan hanya sekedar kewajiban tapi juga kebutuhan. Dalam shalat, begitu banyak doa-doa yang terkandung di dalamnya. Allah yang senantiasa mengatur rezeki serta jalan hidup kita. Bukankah berarti kita begitu membutuhkannya? shalat juga yang akan membuat kita semakin dekat dengan-Nya yang memiliki dunia beserta isinya.
Semoga di hari isra’ mi’raj yang penuh berkah ini, kita senantiasa dapat menjaga shalat 5 waktu yang  dititahkan Tuhan kepada Nabi dan umat-Nya. Bukan hanya malam ini, tapi hingga seluruh anggota tubuh ini sudah tidak berfungsi lagi (mati).


Majelis Ilmu, dua tahun  yang lalu.

Jumat, 16 Mei 2014

Testimoni Buku "Kasih Mamak"







Membaca Kasih Mamak membuat saya meneteskan air mata
Muhibbudin, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Semua cerpen dalam buku ini keren walaupun saya baru baca sebagian judul saja. Cerita-ceritanya membuat saya seakan larut dalam alurnya, sederhana namun tersampaikan maknanya . Walaupun semua penulisnya masih mahasiswa namun genre yang disuguhkan bukan tentang cinta dan pacaran tapi tentang keluarga, membuat saya jadi kangen rumah
 ^-^.
Novya Prabawati

Kasih Mamak membuat setiap yang membacanya akan merenung ‘apa yang sudah aku berikan untuk mamakku?’  Merasuki jiwa pembacanya untuk ikut mengigit  bibir saat sampai pada klimaksnya luar biasa !!!
Muhyiddin FK UNRAM

Kasih Mamak lebih dari sekedar pemuas dahaga di kegersangan makna cerita zaman sekarang. Didalamnya ada nilai cinta, kasih sayang, keluarga, persahabatan, keihlasan dan suka duka hidup. Disuguhkan oleh jiwa muda dan dipersembahkan untuk setiap jiwa tanpa batas usia, untuk setiap jiwa yang pernah memiliki keluarga. Cerita-cerita yang  sederhana namun sarat makna, Ndak muluk-muluk, ndak lebay...pokoknya suka  ^_^
Aluh Laraning Tyas Dini FK UNRAM

Pertama kali baca berkaca-kaca. Kedua kali baca mengusap air mata. Baca lagi masih membuat panas di mata. Kasih Mamak mencuri hati saya dan mengajarkan saya begitu banyak hal bukan sekedar tentang cinta tapi juga kasih sayang yang tak terkekang dan tak kenal lekang untuk keluarga J
Putri Malu FK UNRAM

Kasih Mamak keren banget pokoknya, cerita yang ada di dalamnya bagus-bagus. Ditunggu buku buku selanjutnya dan tetep semangat menulis ya ^^
Hadyan Ramanda, Mahasiswa Teknik Elektro, UPI Bandung.

Tahukah rasanya rindu yang teramat sangat, yang terasa menghujam lagi dan lagi? Hal itulah yang saya rasakan ketika saya membaca Kasih Mamak berkesan amat dalam. Membuat saya begitu sangat ingin memeluk Mama namun sayang Mama sudah lebih dulu menghadap Sang Penciptanya.
Bagus Wibowo, Karyawan Swasta, Jakarta.


Kasih mamak... Banyak kisah-kisah manis dengan keluarga yang mengharu biru diceritakan dalam buku ini. Ada yang bikin senyum-senyum sendiri, ada yang bikin terharu, ada juga yang bisa bikin perasaan kita jadi campur aduk nggak karuan. Hehe. Setiap cerita punya pelajaran yang bisa diambil dengan bahasa yang nggak menggurui. Intinya, suka sama semua ceritanya J
Putri Eka Pertiwi, Mahasiswa fakultas matematika UNJ, Jakarta


Saya adalah tipe wanita yang gampang menangis. Tidak jarang ketika saya membaca sebuah buku, saya akan menangis jika cerita yang disajikan dalam buku itu benar-benar menyentuh.

Nah, dari sekian banyak naskah yang saya edit, naskah buku inilah yang satu-satunya berhasil menembus dinding pertahanan air mata saya. Saya menangis. Bukan hanya sekali tapi beberapa kali.

Nurhudayanti Shaleh, Editor Buku Kasih Mamak

Senin, 04 Maret 2013

Tentang Ayah




Saya merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara, tumbuh bersama dua orang kakak laki-laki serta enam orang kakak perempuan. Dulu, ayah saya berprofesi sebagai guru di sebuah madrasah dan membuka usaha percetakan di rumah, sementara ibu saya hanyalah ibu rumah tangga biasa yang kesehariannya mengurus anak-anaknya serta membuka warung kecil-kecilan di depan rumah untuk membantu perekonomian keluarga. Namun, semenjak kakak ke tujuh saya lahir ibu memutuskan untuk berhenti berjualan. Ayah pun sudah tidak lagi mengajar di madrasah karena usianya yang sudah tidak muda lagi menuntutnya untuk pensiun, sehingga usaha percetakan menjadi tumpuan ekonomi keluarga kami. Berhubung dahulu keberadaan percetakan masih sangat minim, usaha ayah pun berkembang pesat hingga beliau mampu menyekolahkan kakak-kakak saya hingga ke berbagai daerah. Ada yang menimba ilmu  di Jakarta, Sukabumi, Tasikmalaya, Yogyakarta, bahkan hingga ke wilayah Situbondo, Jawa Timur. Tanpa pernah meminta balasan, ayah membesarkan saya beserta delapan kakak saya hingga memasuki jenjang perguruan tinggi. Mungkin jika dihitung, biaya pendidikan saya serta kakak saya sejak memasuki sekolah dasar hingga melanjutkan ke perguruan tinggi, tidak pernah sanggup untuk kami ganti karena jumlahnya yang sudah tidak terhitung lagi. Ayah, pengorbanmu memang tak pernah bersyarat dan lelaki hebat itu adalah ayah.
Ayah adalah sosok yang hebat....
Ayah adalah sosok yang tegas dan bijaksana....
Ayah selalu mengajarkan putra putrinya tumbuh dalam kesederhanaan dan kedisiplinan, terutama jika menyangkut urusan agama. Sejak memasuki bangku sekolah dasar, saya sudah diajarkan mengenai tata cara salat. Menginjak bangku kelas 3 SD, ayah sudah mewajibkan saya untuk salat tanpa boleh ada alasan apalagi bermalas-malasan. Jika sudah memasuki waktu salat beliau sibuk mengingatkan saya untuk jangan pernah meninggalkan salat. Tak ada ampun jika saya melanggar perintah beliau. Ayah memang tak pernah bermain fisik, ia selalu mengingatkan kami anak-anaknya dengan ucapan. Namun, jika apa yang beliau ucapkan tidak dihiraukan, beliau mulai berkata dengan nada ancaman dengan maksud agar kami jera. Selain mengajarkan salat sejak usia dini, ayah juga mengajarkan saya mengaji. Beliau memang tidak secara langsung mengajarkan saya, namun beliaulah yang begitu keras mendidik saya agar kelak saya pandai mengaji. Pernah suatu ketika, usai salat maghrib saya tampak asyik bermain dengan teman-teman ketika saya masih kecil. Beliau pun menyuruh saya untuk pergi mengaji ke mesjid, dengan terpaksa dan sambil menangis terisak saya berangkat mengaji dan meninggalkan teman-teman saya. Sekarang, saya merasakan manfaat yang luar biasa dari didikan ayah. Oh iya ya, kalau dulu ayah tidak mendidik saya untuk salat dan mengaji mungkin  saya tidak akan bisa apa-apa hari ini. Saya percaya, tidak ada seorangpun orangtua yang tidak menyayangi anaknya meski sekalipun dengan kemarahan caranya, karena ayah punya caranya sendiri untuk mencintai saya.
Ayah adalah sosok yang tidak pernah mengenal lelah...
Meski kini usianya sudah menginjak lebih dari setengah abad, ayah tetap tak pernah mengenal lelah mengabdikan hidupnya untuk kepentingan orang banyak. Ayah saya memang bukan seseorang yang hebat di mata orang lain. Tapi, bagi saya ayah tetap suri tauladan yang baik bagi anak-anaknya. Saat ini, ayah saya masih aktif sebagai imam besar di mesjid sekitar tempat tinggal kami, setiap minggunya ayah juga sering diminta untuk menjadi khatib pada saat salat jumat, bahkan seringkali menjadi khatib pada saat salat hari raya idul fitri . Apabila memasuki bulan ramadhan seringkali beliau juga bertindak sebagai imam salat tarawih di beberapa mesjid. Selain itu, pada saat hari raya idhul adha beliau kerap kali diminta untuk menyembelih hewan qurban. Beberapa karyanya terpampang dimana-mana. Dari mulai papan nama, batu nisan, batu peresmian hingga yang terakhir adalah kaligrafi mesjid. Saya dibuat terkagum-kagum ketika melihat tulisan kaligrafi beliau yang terpahat begitu indah di lingkaran kubah mesjid. Mungkin kepiawaian beliau menulis menurun pada saya meski kami menggeluti bidang yang berbeda. Ayah lebih mengarah pada seni tulisan sementara saya lebih menekuni bidang sastra.
Ayah adalah idola saya....
Mungkin jika ada orang yang bertanya pada saya tentang sosok idola saya itu siapa, dengan tegas saya akan menjawab sosok itu adalah ayah. Karena bagi saya tidak ada seorangpun tokoh ‘hero’ di dunia ini yang mampu menandingi kehebatan dan kegaguman saya terhadap sosok ayah. Sejak saya baru lahir, beliau yang pertama kali mengumandangkan adzan di telinga saya, saat saya belajar dengan tertatih untuk berjalan beliau yang membangunkan saya untuk kembali berdiri ketika saya terjatuh, bahkan ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di sekolah dasar, jika kebanyakan siswa lainnya di antar oleh sang ibu, lain halnya dengan saya yang diantar oleh ayah. Itulah letak pengorbanan sang ayah yang tidak akan pernah ternilai dengan apapun yang sampai hari ini selalu terekam sempurna dalam ingatan saya.
Menginjak masa remaja, ayah mulai bersikap otoriter dengan kebebasan saya. Keseharian saya dipenuhi oleh berbagai macam aturan. Jika pulang sekolah tidak ada keperluan yang mendesak harus langsung pulang, jika pulang terlambat karena ada tugas kelompok wajib telepon ke rumah, yang paling utama adalah saya dilarang keluar malam. Jika saya melanggar aturannya, sudah pasti ketika saya pulang ke rumah akan disambut dengan amarah dan kekecewaanya.
Ketika saya duduk di bangku kelas 1 SMA, saya juga tergabung dalam intrakurikuler OSIS  selama dua priode. Semakin saya tumbuh dewasa, rasa kekhawatiran ayah terhadap saya pun semakin menjadi. Seperti halnya ketika seluruh anggota OSIS diwajibkan untuk mengikuti LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa) selama satu hari satu malam di sekolah. Beliau tidak mengizinkan saya untuk ikut dengan alasan khawatir jika acara tersebut disalahgunakan untuk hura-hura semata dan ayah berkilah, jika memang acara itu benar-benar penting apa tidak bisa dilaksanakan pada siang hari tanpa harus menginap di sekolah? Hingga akhirnya orang-orang penting di dalam jajaran OSIS dari mulai Ketua, Wakil, Sekertaris, Bendahara datang ke rumah saya hanya untuk memintakan izin, namun sayang beliau tetap bersikukuh berkata tidak. Walaupun teman-teman semua sudah menuturkan rangkaian acara sampai mulut berbusa pun jika beliau sudah berkata A tidak akan pernah bisa berubah menjadi B, C bahkan D. Saya hanya bisa pasrah dengan keputusan beliau tanpa pernah bisa merubahnya. Saat itu, seringkali saya menggerutu dalam hati karena sikap ayah yang selalu khawatir berlebihan terhadap saya. Padahal, apa yang dilakukan ayah terhadap saya, tanpa saya sadari adalah bentuk kasih sayang yang luar biasa yang tidak semua anak mendapatkannya. Melihat kondisi zaman yang semakin berkembang ke arah modern, banyak anak remaja yang terjerumus ke dalam pergaulan bebas, mungkin ayah khawatir jika saya terjerumus ke dalam kehidupan remaja masa kini. Ayah...Maafkan saya yang tidak peka atas rasa cinta dan kasih sayang ayah terhadap saya.
Saat-saat terakhir ketika saya akan menyelesaikan pendidikan saya di SMA, saya pun disibukkan dengan pencarian memilih perguruan tinggi negeri dengan harapan dapat mengikuti jejak kakak saya terdahulu. Dari mulai mengikuti Ujian Mandiri, PMDK, Beasiswa, hingga yang terakhir saya mengikuti SNMPTN di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Namun dari semua seleksi yang saya ikuti, saya dinyatakan gagal. Bodohnya, ketika tes SNMPTN saya tidak pernah berani mencoba hanya karena takut gagal, karena pada saat itu kegemaran saya terhadap dunia tulis menulis telah memikat hati saya untuk memperdalam bisang Sastra Indonesia. Namun,  jurusan saya ketika SMA adalah IPA sementara Sastra Indonesia berada di prodi jurusan IPS otomatis saya harus mengambil paket soal IPC (kolaborasi antara IPA dan IPS)  jika ingin lulus di jurusan Sastra Indonesia, dan sayangnya saya tidak mau ambil pusing untuk memperdalam IPC. Berhubung saya tidak banyak mengetahui pelajaran IPS, saya pun ‘cari aman’ sehingga akhirnya saya mengambil dua pilihan yang sama sekali tidak saya sukai yaitu Kimia dan Ilmu Gizi yang pesaingnya justru lebih berat dan lebih banyak ketimbang Sastra Indonesia.
Hingga pada saat pengumuman tiba, hari itu menjadi hari terkelam dalam sepanjang hidup saya ketika  saya harus menyampaikan kegagalan saya itu pada ayah. Tersirat rasa kecewa di wajahnya, harapannya musnah hanya karena saya yang takut kalah sebelum berperang. Hari itu saya berjanji pada diri saya sendiri kelak saya akan mengganti rasa kecewa ayah menjadi senyum bahagia.
Akhirnya saya pun memilih untuk kuliah di sebuah akademik swasta pilihan ayah dengan jurusan yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan sebelumnya yaitu Manajemen Informatika. Awalnya saya berpikir, jika saya kuliah di jurusan Manajemen Informatika saya harus mengubur mimpi saya untuk menjadi seorang penulis. Tapi ternyata saya salah, Karena sampai detik ini saya masih memelihara asa saya untuk menjadi seorang penulis. Nasihat beliau, Mau kuliah di jurusan IT atau Sastra Indonesia kuliah dimanapun sama saja. Masalah nanti kamu mau jadi apa biar doa dan usaha yang tak pernah putus asa yang senantiasa akan mengikutinya. Saya yakin, bahwa dimanapun kita berada itulah tempat terbaik kita. Mungkin kuliah di perguruan tinggi negeri memang bukan rezeki saya.
Dari sembilan anak ayah, hanya saya yang tidak pernah kenal dengan sekolah khusus agama. Semua kakak saya pernah menimba ilmu di Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah bahkan di pondok pesantren. Sementara saya, menghabiskan masa remaja saya di SMP dan SMA Negeri. Saya hanya dapat mendengar dunia pesantren itu menyenangkan dari cerita kakak saya tanpa pernah bisa merasakannya. Mungkin karena saya anak bungsu, yang terkesan manja dan tidak bisa jauh dari orangtua membuat mereka tidak percaya jika saya bisa mengurus diri sendiri tanpa keberadaan orangtua.
Dan kini saya menyadari tentang alasan ayah dengan begitu disiplin mendidik anak-anaknya, karena rasa tanggung jawab ayah itu semacam petani yang merawat tanamannya agar tumbuh dengan baik dan membuahkan hasil yang membanggakan. Di mana kesuburan tanamannya, tidak akan terlepas dari upaya pembersihan hama dan gulma, juga tangan-tangan jahil yang ingin mencabutnya sebelum masa panen tiba.
Ayah yang telah mengajarkan saya banyak hal.
Ketika saya duduk di kelas 2 SMP, di depan rumah saya ada seorang lelaki berambut ikal meminta izin untuk berjualan koran di depan rumah saya, karena tempat sebelumnya berjualan akan dibangun sebuah warung. Jika di tempat sebelumnya dia menyewa, ayah mengizinkan lelaki itu berjualan tanpa harus membayar uang sewa. Begitu mulianya hati ayah. Seiring berjalannya waktu, tiba-tiba lelaki itu menghilang tanpa memberi alasan yang jelas. Ternyata,  lelaki tersebut mempunyai hutang yang tidak sedikit pada agen koran yang sehari-hari dijajakannya. Sementara semua koran, tabloid, majalah sebagai barang dagangannya ia titipkan di rumah saya. Hingga akhirnya, ayah berinisiatif untuk mengambil alih profesi tukang koran itu, karena kebetulan ayah juga tidak ada kesibukkan di rumah. Dengan meja kecil seadanya, setiap pagi ayah menjajakan koran-koran itu dengan senang hati meski hasilnya tidak seberapa. Ayah bilang, lumayan setiap harinya bisa baca gratis kan nambah ilmu pengetahuan juga?
Selang beberapa bulan kemudian, ayah jatuh sakit. Sehingga saya yang mengambil alih semuanya. Dari mulai mengangkat meja sendiri, merapihkan koran, majalah dan tabloid, meretur barang, hingga sore tutup dan kembali membereskannya. Alhamdulilah, hasilnya lumayan. Bisa menutupi kekurangan uang jajan saya bahkan lebih. Setelah ayah sembuh dari sakitnya, beliau menyerahkan usaha koran itu pada saya. Sejak saat itu, saya sudah tidak pernah lagi meminta uang jajan pada ayah. Kelas 2 SMP saya sudah punya usaha sendiri, yang menjadi pembuktian bahwa saya bukan anak bungsu yang manja yang selalu mengandalkan orangtua. Kios sederhana koran milik kami buka dari pagi hingga sore hari. Jika saya sekolah ayah yang menjaganya setengah hari, kemudian secara bergantian saya yang menjaganya setelah pulang sekolah.  Bahkan jika hari minggu saya yang menjaganya full seharian. Meski pada saat itu saya harus kehilangan masa remaja saya, tapi saya senang melakukannya. Disaat teman-teman mengajak bermain saya selalu menolaknya karena saya sudah mempunyai tanggung jawab yang ayah amanahkan pada saya. Tentunya, masa remaja saya menjadi tidak terbuang sia-sia. Apabila koran, majalah dan tabloid itu belum laku terjual, saya menjaganya sambil membaca. Justru saya banyak tahu tentang sesuatu yang baru dari koran yang tiap hari saya baca.
Biasanya koran-koran itu setiap paginya diantarkan ke rumah, semenjak pegawai agennya banyak yang mengunduran diri, jadi saya yang mengambilnya langsung. Berhubung saya tidak bisa mengendarai sepeda motor, saya mengambilnya dengan mengendarai sepeda. Terkadang saya malu, banyak mata yang memandang saya miring. Ko, hari gini masih zaman ya naik sepeda?. Tapi saya bangga dengan profesi saya, karena tidak banyak orang yang bisa melakukan pekerjaan seperti saya disaat usia yang kebanyakan remaja melakukan hal hura-hura semata. Hal ini saya lakukan selama 6 tahun dari mulai saya kelas 2 SMP hingga saya duduk di bangku kuliah semester 2. Kios sederhana saya terpaksa gulung tikar karena keberadaan tekhnologi saat ini yang semakin canggih, informasi apapun sudah tersedia dalam internet. Jika saat zaman sekolah dulu saya selalu mengerjakan tugas makalah dari koran, sekarang para siswa lebih banyak yang mencarinya lewat internet karena terkesan lebih mudah. Tidak perlu repot repot membaca, hanya tinggal masuk aplikasi Google semua pembahasan yang ingin kita cari sudah tersedia.
Semua pelajaran ini saya dapatkan dari ayah. Bahkan saya yang dulunya hanya seorang pembaca, kini saya adalah seorang penulis. Padahal sebelumnya saya hanya sebatas bermimpi tulisan saya bisa dibaca oleh orang banyak. Tapi kesabaran itu kini berbuah manis, dan yang tak kalah membuat saya senang adalah ketika saya menyerahkan koran harian yang didalamnya terdapat cerpen saya pada ayah. Beliau tersenyum bangga sambil menatap saya lekat.
Ayah...terimakasih atas banyak pelajaran hidup yang kau berikan, untuk seterusnya saya berjanji akan membuat senyuman itu terkembang lebih indah lagi di wajah ayah.